Orang Kaya Baru: "Jangan Jadi Orang Kaya, Kamu Tidak Akan Kuat"

Infografik Misbar Orang Kaya Baru
Film Orang Kaya Baru (Nouveau Rich) berpusat pada saudara kandung bersama dengan ibu mereka yang tiba-tiba menjadi kaya setelah meninggalnya ayah mereka. Courtesy of Screenplay Films /Legacy Pictures
Oleh: Faisal Irfani - 27 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Menurut film OKB, sebaik-baiknya tempat bagi orang miskin adalah kemiskinan itu sendiri.
tirto.id - Apa yang terlintas dalam kepala orang Indonesia ketika tiba-tiba punya banyak uang? Sebagian orang memilih untuk menyalurkan ke rekening, berjaga-jaga jika kelak ingin investasi, naik haji, atau nyaleg.

Gambaran lainnya yang dipercaya banyak orang dan telah menjadi stereotipe: belanja terus sampai miskin lagi. Bijak menggunakan uang seketika jadi opsi yang asing sekaligus menakutkan. Inilah yang menjadi inti cerita dari film terbaru Ody C. Harahap berjudul Orang Kaya Baru—selanjutnya OKB.

Sebagaimana judulnya, premis OKB cukup sederhana. Alkisah, terdapat satu keluarga yang hidup pas-pasan, jika tak ingin disebut miskin. Keluarga ini beranggotakan ayah (Lukman Sardi), ibu (Cut Mini), serta tiga orang anak mereka: Duta (Derby Romero), Tika (Raline Shah), dan Dodi (Fatih Unru). Kendati sehari-harinya tak berkecukupan, mereka digambarkan selalu bahagia, kompak, dan tetap optimistis menyambut hari esok.


Namun, kehangatan keluarga berubah drastis setelah sang ayah meninggal. Hari-hari mereka berubah kelabu. Masa depan yang semula dibangun dengan rapi, bermodalkan semangat kabeh ana dalane ("semua ada jalan keluarnya"), seketika lenyap.

Ternyata, yang terjadi berikutnya tak setragis yang dibayangkan. Alih-alih menderita, hidup keluarga ini justru jadi sejahtera karena si ayah meninggalkan warisan harta puluhan miliar. Rupanya si ayah pura-pura hidup miskin dan sengaja menyembunyikan kekayaan agar keluarganya mampu menghargai apa yang dimiliki dengan baik.

Maka, jadilah mereka berfoya-foya. Beli mobil, beli gawai, beli rumah, dan beli apapun yang sekiranya bisa dibeli. Menurut mereka, itulah cara keluar dari belenggu kemiskinan yang selama ini membebani mereka.

Formula Usang

Istilah OKB sendiri tak asing di telinga masyarakat kita. Sebutan ini merujuk pada orang berpenghasilan rendah atau menengah yang tiba-tiba tajir. Biasanya, OKB jadi bahan pergunjingan orang-orang di sekitar karena dinilai mendapatkan semuanya dengan serba cepat.

OKB bahkan dituding sugih dengan cara kotor lagi klenik. Sinema Indonesia era 1970-an kaya dengan topik ini. Dua kali boom minyak yang mengerek perekonomian nasional pada dekade itu melahirkan orang-orang kaya baru—dan musim semi film-film seperti Pesugihan Babi Ngepet (1976), Tuyul (1978), hingga Tuyul Perempuan (1978).

Memang tak ada babi ngepet dalam OKB-nya Ody. Namun, menjadi OKB dalam OKB tak ubahnya musibah. Tajir mendadak dikisahkan merenggut kebahagiaan dan kebersamaan. Tentu selain juga menyebalkan bagi orang-orang di sekitarnya yang masih berstatus SMK alias 'Sobat Misqueen Kota'.

Masalahnya, yang jadi musibah tak cuma konsep OKB itu sendiri melainkan juga cara Ody dalam membungkus cerita sepanjang film.

Konflik-konflik yang muncul dalam OKB adalah hasil konstruksi dari: 1) zaman ketika Max Weber percaya bahwa kerja, menabung, dan menjalani hidup asketik adalah kunci menuju sukses (hello, inflasi?); 2) zaman ketika Benyamin S. tiba-tiba menemukan intan besar di empangnya, kaya mendadak, gemar belanja, sampai akhirnya miskin lagi dalam Intan Berduri (1974).

Bapaknya Weber, anak-anaknya Benyamin.

OKB percaya bahwa kaya mendadak dapat merusak hubungan asmara dan pertemanan hingga mengancam tradisi yang sudah dibangun sejak lama berwujud sesi makan malam.

Selama durasi film berjalan, Ody tak menjajaki pelbagai kemungkinan yang sebetulnya mampu membikin film ini lebih kaya konteks. Misalnya, bagaimana jadinya bila uang yang ditinggalkan si ayah itu ternyata sumber konflik yang melibatkan banyak kepentingan? Atau hal apakah yang akan muncul ketika para anggota menggunakan kekayaan mereka untuk sesuatu yang ‘waras’? Apa tidak ada satu pun anggota keluarga yang waras ketika berurusan dengan duit yang segitu banyaknya?

Pilihan Ody dalam meramu narasi di OKB cenderung main aman. Tidak ada kebaruan perspektif yang ditawarkan dari OKB. Apa yang disajikan dalam OKB bisa dengan mudah kita jumpai di sinetron-sinetron televisi yang tayang di jam prime time.


Keadaan makin memburuk ketika Ody seperti menjejalkan semua konflik ke dalam satu waktu. Konflik yang dialami ibu, Duta, Tika, dan Dodi selepas punya uang banyak seolah ditumpuk begitu saja tanpa disusun dengan rapi. Ody terlihat tak bisa memprioritaskan konflik mana yang mesti diceritakan terlebih dahulu, mana yang menyusul belakangan.

Walhasil, tiap konflik seperti hendak ingin menonjol sendiri dan saling berebut panggung, yang pada akhirnya malah merusak alur cerita yang sudah dibangun.



Secara garis besar, OKB bisa dibaca sebagai pesan moral tentang efek konsumerisme. Tapi, implikasi pesan dari film ini ujung-ujungnya berbunyi: “Jangan jadi orang kaya, kamu tidak akan kuat menanggung bebannya.”

Dalam imajinasi OKB, kekayaan merupakan suatu konsep yang jahat. Ia hanya bisa mendatangkan kebahagiaan yang semu, sumber masalah dari segala masalah, dan cuma jadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Dengan kata lain, sama halnya dengan kemiskinan, kekayaan jadi problem moral.

Tentu, problem ini cuma hadir buat yang tiba-tiba tajir, bukan untuk yang sejak kecil sudah makan dengan sendok perak. Bukannya OKB sering dibanding-bandingkan dengan Orang Kaya Lama yang dicitrakan lebih 'berbudaya' dan tidak norak karena sudah terbiasa pegang uang?


Keputusan Ody untuk ‘mengembalikan’ ibu dan anak-anak ke asal mula mereka di pengujung film adalah pesan bahwa sebaik-baiknya tempat bagi orang miskin adalah lubang kemiskinan itu sendiri. Pesan OKB saya kira cukup jelas: miskin, ya, miskin saja. Tak perlu repot-repot jadi kaya karena harta (demikian kata orang saleh) adalah "titipan", bahkan "cobaan".

Tapi, dari semua narasi itu tersimpan pula imajinasi usang dalam film Indonesia: orang miskin pastilah punya virtue seperti guyub, iklas, dan baik budi. Dalam imajinasi sosial yang sama, ketiadaan virtue itu akan membuat si miskin serakah, gemar nuntut, bahkan berbuat kejahatan. Contoh paling mutakhir dari praktik kemiskinan yang baik bisa Anda saksikan di Keluarga Cemara dan yang buruk di Suzzanna: Bernapas dalam Kubur.

Anda ingat judul-judul seperti “Terlalu Boros saat Kaya, Jenazah Keluarga Ditolak Makam”? Nah, film ini versi sekulernya.

Baca juga artikel terkait MISBAR atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Film)


Penulis: Faisal Irfani
Editor: Windu Jusuf
DarkLight