Keluarga Cemara: Drama yang Paling Menggugah adalah Kemiskinan

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 5 Januari 2019
Dibaca Normal 4 menit
Untungnya ia tidak terjebak “poverty porn”, eksploitasi kemiskinan dengan over-dramatisasi.
tirto.id - Sebelum sinetron Indonesia diasosiasikan dengan tontonan buruk, Keluarga Cemara pernah dianggap sebagai salah satu pengecualian.

RCTI pertama kali menayangkannya sepanjang periode tahun 1996 hingga 2002. Setelah jeda selama dua tahun, Keluarga Cemara ditayangkan kembali pada tahun 2004 di TV7 (sekarang Trans 7) hingga tamat pada 2005.

Skenarionya diadaptasi dari cerita bersambung karya Arswendo Atmowiloto yang dimuat di Majalah Hai dengan judul yang sama. Lima tokoh utamanya adalah Abah (Adi Kurdi), Emak (secara bergantian diperankan oleh Novia Kolopaking, Aneke Putri, dan Lia Waroka), Euis (Ceria HD), Cemara (Anisa Fujianti), dan Agil (Pudji Lestasi).

Kelimanya tinggal di sebuah desa di pelosok Sukabumi, Jawa Barat, dan menjadi representasi keluarga miskin. Abah berprofesi sebagai tukang becak, sementara Euis bantu-bantu jualan opak buatan Emak. Ara dan Agil punya pembawaan ceria, meski nasibnya tidak seberuntung anak-anak yang lain.

Terselip nilai-nilai positif dalam petuah Abah kepada Euis dan adik-adiknya di setiap keluarga mendapat cobaan. Abah turut piawai merespon berbagai cobaan hidup dengan bumbu humor. Konflik yang muncul justru makin menguatkan hubungan antar anggota keluarga.

Ide ini tergolong segar di masa stasiun televisi swasta mulai menjamur di Indonesia pada akhir 1990-an dan awal 2000-an. Di masa tersebut sinetron (dan telenovela) mulai menjelma sebagai hiburan utama bagi khalayak luas.

Keluarga Cemara adalah tipikal sinetron yang menampilkan penderitaan rakyat kecil. Namun, di sisi lain, sinetron ini dianggap berbeda karena konfliknya tidak didramatisasi secara berlebihan. Keluarga Cemara menunjukkan bahwa kebahagiaan itu tetap ada di tengah kondisi serba-kekurangan. Kesan yang membumi dan natural ini membuat penonton merasa dekat (relate) dengan ceritanya.

Pesan-pesan moral, terutama soal kejujuran, turut menjadi alasan mengapa sinetron ini cocok ditontonkan ke anak-anak. Inilah mengapa Keluarga Cemara kerap didapuk sebagai sinetron keluarga yang ideal.


Keluarga Cemara menjadi legenda dan legenda selalu punya peluang untuk direka ulang atas nama nostalgia. Si Doel dan kegalauan klasik Sarah-Zainab sudah terlebih dahulu masuk bioskop pada awal Agustus 2018. Memasuki awal Januari 2019, giliran Keluarga Cemara yang dibikinkan versi layar lebarnya.

Visinema Pictures mempercayakan tugas penyutradaraan kepada Yandy Laurens. Sosok Abah diperankan oleh Ringgo Agus Rahman. Nirina Zubir memerankan Emak, Adhisty Zara (Zara JKT48) sebagai Euis, dan Widuri Putri sebagai Ara.

Film memaparkan asal-usul Keluarga Cemara saat masih hidup secara mapan di Jakarta. Abah memimpin sebuah perusahaan konstruksi. Emak jadi ibu rumah tangga. Euis bersekolah di SMP favorit dan aktif di klub tari. Ara masih SD, punya hobi menggambar, serta kerap bertingkah absurd.

Kehidupan mereka berubah 180 derajat usai Abah ditipu saudaranya sendiri yang diam-diam ikut bisnis properti abal-abal. Rumah Abah beserta isinya disita. Mereka terpaksa pindah ke rumah Aki (kakek Euis dan Ara) di sebuah desa di pinggiran Sukabumi.

Mulai dari sini, film kembali ke narasi lawasnya. Abah bukan lagi pekerja kerah putih, tapi buruh bergaji pas-pasan. Euis pindah sekolah ke sekolah non-elite sembari berjualan opak yang dibuat oleh ibunya. Ara tetap bertingkah absurd, tapi ia paling gampang beradaptasi dengan lingkungan baru.

Keluarga Cemara tiba-tiba kehilangan segala yang serba-mapan. Mereka dipaksa menanggalkan gaya hidup yang urban. Mereka turun kasta. Dari golongan ekonomi menengah menjadi golongan ekonomi bawah (miskin).

Industri film mengenal poverty porn. Istilah ini terlebih dahulu melekat pada industri acara pertelevisian untuk menunjukkan usaha mengglorifikasi atau mengeksploitasi kemiskinan sebagai jalan untuk menjaring penonton.

Mengapa? Sebab penderitaan yang datang dari kemiskinan gampang didramatisasi untuk memancing empati penonton. Kemiskinan adalah salah satu prakondisi yang paling mampu memunculkan drama, terutama di masyarakat di mana kemiskinan masih menjadi problem besar.


Dibandingkan dengan dunia film, poverty porn lebih subur di industri sinetron atau reality show. Kesannya yang negatif serta mudah mengundang kritisisme membuat penulis skenario film kerap amat berhati-hati jika ingin mengangkat kisah bertema kemiskinan.

Slumdog Millionare (2008), misalnya. Meski sukses menggambarkan dinamika kemiskinan di daerah kumuh Mumbai, India, sutradara Danny Boyle dikritik selayaknya orang kulit putih yang sedang tur kemiskinan (poverty tour). Ia dianggap mengglorifikasi penderitaan tokoh utama dalam bentuk voyeurisme belaka.

Untungnya, meski film tersebut berjaya di ajang Oscar, tidak semua sineas mengikuti jejak Danny. Dua contoh yang boleh dikatakan lolos dari jebakan poverty porn adalah Shoplifter (2018) karya sutradara Hirokazu Koreeda dan The Florida Project (2017) arahan sineas Sean Baker.

Shoplifter berkutat pada kemiskinan yang membelit satu keluarga Jepang yang tinggal dalam satu rumah kecil namun tidak ada hubungan darah. Mereka bertahan hidup dengan menjalani profesi bergaji rendahan, atau sesekali mengutil barang-barang yang dijual di swalayan.

The Florida Project menyoroti kemiskinan yang dihadapi seorang ibu muda dan anaknya yang baru berusia enam tahun. Mereka tinggal di sebuah motel di Kissimmee, Florida, Amerika Serikat. Si ibu menjalani pekerjaan serabutan untuk bertahan hidup, termasuk untuk membayar biaya sewa motel.

Kedua sutradara tidak mengglorifikasi penderitaan si tokoh, tetapi memilih untuk menampakkan sisi kebahagiaan mereka.

Meski bukan saudara kandung, para tokoh di Shoplifter punya kedekatan yang intim karena berjuang bersama-sama. Sementara itu, The Florida Project berfokus pada dunia bermain anak-anak di sekitar motel yang “innocent”, yang lepas dari tanggung jawab ala orang dewasa.


Yandy mengikuti yang sama dalam Keluarga Cemara. Ia mencoba untuk mengikis tendensi poverty porn dengan tidak menggambarkan nasib para tokoh ekstrem, sebagaimana penggambaran orang miskin dalam karya-karya poverty porn: terlunta-lunta di jalanan, mengenakan baju kotor dan sobek-sobek, berprofesi pengemis, atau menampilkan raut muka sekarat.

Dramatisasi tetap ada, namun dalam porsi yang cukup, dan bahkan relevan dengan situasi kekinian. Pekerjaan baru si Abah, misalnya. Usai menyembuhkan diri dari kecelakaan di tempat ia memburuh sebagai kuli bangunan, ia tidak menjadi tukang becak (profesi Abah versi sinetron), tetapi sopir ojek online.

Yandy dan Gina S. Noer selaku penulis naskah sesungguhnya tengah menggambarkan satu keluarga yang sedang mengalami gegar budaya. Mereka tidak terbiasa miskin, belum pernah merasakan hidup di tengah perkampungan, belum pernah menghadapi situasi yang tak menentu dari hari ke hari.

Tidak ada tokoh antagonis yang memberatkan hidup Keluarga Cemara—kecuali kehidupan baru itu sendiri. Euis boleh dibilang sebagai karakter yang paling menderita. Ia sebelumnya punya masa remaja yang menyenangkan. Punya teman-teman dekat, aktif di klub tari. Saat pindah ke Sukabumi, ia kehilangan semuanya.

Euis tipikal anak yang kaku dalam pergaulan baru, meski teman-teman di sekolah baru menyambutnya dengan cukup akrab. Pada suatu kali, ia bahkan nekad pergi ke Kota Bogor sendirian untuk bertemu teman lamanya di klub tari, walaupun ujung-ujungnya juga kecewa karena tim sudah merekrut pengganti dirinya.

Sikap Euis memancing sikap keras Abah, apalagi setelah Euis ketahuan gurunya sedang menonton video tari saat pelajaran berlangsung. Emak, seperti biasa, menjadi penengah. Ara turut emosional karena tidak suka dengan kemarahan Abah.


Saat keesokan harinya Abah meminta maaf, Euis menerimanya dengan mudah. Saat keduanya berpelukan, lalu Emak dan Ara turut ikut serta, keharmonisan keluarga kembali seperti sedia kala.

Yandy dan Gina mengadaptasi sebuah kisah tentang keluarga yang punya ikatan batin yang sudah solid dari sananya. Maka, wajar jika resolusi konfliknya juga sederhana.

Infografi misbar Harta yang Paling Berharga
Infografi misbar Harta yang Paling Berharga


Apakah bisa diartikan bahwa Yandy dan Gina memilih bermain aman, sementara Arswendo sendiri memberikan kebebasan dalam mengolah cerita versi layar lebar? Bisa jadi. Atau, barangkali mereka ingin film tidak terlepas dari tujuan utamanya: nostalgia.

Yandy dan Gina pasti tahu jika penonton sinetron Keluarga Cemara kini rata-rata berusia di atas 25 tahun. Jika hanya mengandalkan penonton dewasa, Keluarga Cemara tidak akan menjadi film keluarga. Segmen penonton anak-anak kemudian digaet dengan cara bermain aman itu, bersetia dengan ide orisinal Arswendo.

Jika Anda tergolong penonton yang tidak membutuhkan nostalgia, setidaknya film ini menampilkan sorot visual yang layak serta suntingan yang rapi.

Para pemeran utama juga tampil dengan cukup prima. Terutama Nirina Zubir yang sedang keluar dari zona nyamannya di genre film komedi dan Adhisty Zara yang sejak tahun lalu mulai berkecimpung di dunia seni peran.

Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Film)

Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight