Spider-Man Into the Spider-Verse: Akhirnya Terasa Orisinal Kembali

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 24 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
Segar, kocak, menjanjikan—baik dari cerita maupun gaya artistik. Cukup ampuh untuk mengusir kejenuhan akibat terus-menerus disuguhi versi live-action yang berpremis serupa.
tirto.id - “Kekuatan besar mendatangkan tanggung jawab yang besar juga.”

Pesan Paman Ben tersebut bisa diterima dengan baik oleh Peter Parker. Bahwa Peter telah keliru bertindak sehingga menyebabkan kematian orang yang ia sayangi. Bahwa hidupnya akan berubah total, dari seorang fotografer lepas, menjadi vigilante yang bertugas memberantas kriminalitas di Kota New York.

Tapi Miles Morales (Shameik Moore) tidak demikian. Saat tersadar bahwa dirinya memiliki kemampuan seperti Spider-Man, Miles panik. Khas seorang remaja yang sedang menanti puber, tertekan oleh sekolah barunya, dan khawatir bagaimana nanti reaksi orang tua.

Cerita tersebut hadir dalam film animasi Spider-Man Into the Spider Verse karya trio sutradara Bob Persichetti, Peter Ramsey, dan Rodney Rothman. Film diproduksi oleh kolaborasi antara Columbia Pictures dan Sony Pictures Animation.

Karakter Miles dibuat oleh penulis Brian Michael Bendis dan Sara Pischelli pada 2011. Ia digambarkan sebagai remaja gaul yang menggemari seni gambar, terutama grafiti. Tapi ia juga siswa berotak encer, dan oleh sebab itu ia mendapat beasiswa dari sekolah elite.

Miles awalnya menolak pindah karena pergaulan remaja kelas atas bukanlah dunianya. Tapi ia harus menuruti keputusan orang tuanya: polisi kulit hitam bernama Jefferson Davis (Brian Tyree Henry), dan Rio Morales (Luna Lauren Velez), ibu rumah tangga asal Puerto Rico.

Penokohan dalam film ini bisa dibilang sempurna untuk penonton millenial atau yang lebih muda—generasi yang punya kepedulian lebih akan keragaman etnis.


Miles tipikal remaja yang sedang liar-liarnya dalam berekspresi. Sayangnya, orang tuanya tidak menjadi fasilitator yang baik. Miles mudah mesra dengan pamannya Aaron (Mahershala Ali) karena Aaron menggenjot sisi kreatifnya. Ia dibebaskan nongkrong di apartemen Aaron, dan sesekali diajak ke sebuah lokasi rahasia untuk bikin grafiti.

Di lokasi itulah ia mengalami kejadian-kejadian penting. Digigit laba-laba ajaib yang bikin ia punya kemampuan super, sampai menyaksikan kematian Peter Parker. Miles memang panik. Tapi ia juga berjanji kepada Peter, sebelum mengembuskan napas terakhir, bahwa ia akan meneruskan perjuangan Spider-Man.

Dari ide cerita, Spider-Man Into the Spider menyuguhkan sesuatu yang segar. Terutama bagi penggemar komik Spider-Man yang sudah jenuh dengan adaptasi live-action ala Marvel Cinematic Universe (MCU).

Sejak 2002 Sony telah meluncurkan enam film Spider-Man dengan tiga pemeran Peter Parker, yakni Tobey Maguire, Andrew Garfield, dan Tom Holland. Problem dari keenamnya, selain susah untuk dikemas secara lebih eksperimental, dari segi cerita juga terjebak pada premis yang serupa. Arah konfliknya pun cenderung klise.

Studio sempat tidak mempermasalahkan ini sebab Spider-Man terlalu ikonik untuk tidak ditonton orang-orang, sejelek apapun hasilnya. Tapi Sony dianggap mulai ragu sejak kegagalan dua film bersama Andrew Garfield, hingga film ketiga akhirnya dibatalkan.

Pada November 2014 komputer Sony diretas, dan rencana terkait produksi film animasi Spider-Man terbongkar. Sejak awal Sony juga menegaskan bahwa film akan berdiri sendiri, lepas dari versi live-action yang sedang diwaralabakan MCU. Sony menepati janji ini dan janji lain: menghadirkan pengalaman yang unik saat ditonton.


Menulis untuk kanal Vox, Alex Abad-Santos menyatakan kunci dari menariknya Spider-Man Into the Spider tak terletak di kemudaan tokoh utama semata, tapi juga betapa rapuhnya seorang Miles.

Spider-Man diciptakan Stan Lee dan Steve Ditko dengan kisah yang mampu meyakinkan pembaca komik anak atau remaja bahwa gejolak emosional yang mereka rasakan tidak eksklusif, melainkan juga dialami orang dewasa.

Peter B. Parker dalam Spider-Man Into the Spider digambarkan demikian: lelah menjadi superhero, diganjal masalah dengan Mary Jane pula. Akibat percobaan berbahaya Wilson Fisk, tokoh antagonis utama dalam film, portal antar dimensi terbuka (spider-verse), dan ia masuk ke dunia Miles pasca-meninggalnya Peter Parker.

Miles juga tidak tiba-tiba jadi pahlawan. Ia secara natural digambarkan mengalami guncangan-guncangan khas remaja kala menghadapi masalah besar, meski tanpa kehilangan pegangan yakni nilai-nilai keberanian dan kemanusiaan.

Film debut superhero biasanya tidak membutuhkan waktu lama untuk menciptakan pahlawannya. Cukup sebagai pengantar di awal film, sebelum ia dibawa ke petualangan melawan penjahat utama atau memasuki ke konflik-konflik lain. Persis film Spider-Man (2002) karya Sam Raimi.

Di sepanjang Spider-Man Into the Spider, Miles justru mendapat respons sebaliknya dari Peter B. Parker selaku guru: terus-menerus diragukan dan disuruh mundur.

Ia juga mendapat pandangan yang kurang sedap dari Spider-Man lain yang datang ke dunianya akibat terbukanya portal dimensi. Mereka antara lain Spider-Gwen (Hailee Stenfield), Peni Parker (Kimiko Glenn), Spider-Man Noir (Nicolas Cage), dan Spider-Ham (John Mulaney).


Miles mengingatkan penonton bahwa Spider-Man juga manusia. Apalagi jika anugerah kekuatan itu tiba-tiba datang di usia belia, siapapun akan merasa tertekan. Maka, alih-alih belajar soal tanggung jawab sebagai pahlawan, Miles di film ini mempelajari hal yang lebih pokok: mengenali kekuatan sekaligus kelemahannya sendiri.

“(Miles) Morales harus belajar untuk menerima kebesarannya sendiri dan mengatasi rasa tidak aman dalam jiwanya, di dalam dunia yang bisa kejam saat mengingatkan kita semua, bahwa ada kalanya kita tidak sespesial itu,” kutip Alex Abad-Santos.

Infografik Misbar Spiderman
Infografik Misbar Spiderman


Spider-Man Into the Spider akhirnya terasa lebih orisinal. Kesegaran idenya turut didukung oleh humor yang diselipkan dalam dialog-dialog satirenya. Komedinya banyak yang bersifat meta—sebagaimana latar film yang mendatangkan berbagai karakter Spider-Man dari berbagai alternate universe.

Bagi penggemar film Spider-Man tapi bukan pembaca komiknya, konsep tersebut barangkali terasa asing sekaligus kompleks. Perlu ada adaptasi, terutama untuk memahami latar belakang kedatangan karakter-karakter tersebut.


Bagi penggemar komik Spider-Man, film ini adalah surga. Penulis skenario Phil Lord dan Rodney Rothman pernah menyatakan mereka ingin penonton seakan masuk ke dalam komik. Mereka juga bersemangat untuk menyajikan hal-hal yang tidak bisa disajikan dalam film live-action.

Jumlah animatornya menanjak dari 60 orang menjadi total 142 orang, memecahkan rekor sebagai animator terbanyak yang dipakai Sony untuk membuat satu film. Ada banyak bahan dasar untuk gaya animasinya yang diambil dari komik, dan mereka sengaja melakukannya dalam rangka tribute.

Salah satu pekerjaan terberat adalah mempertahankan gaya artistik masing-masing karakter Spider-Man di sepanjang film. Mereka berasal dari dunia, cerita, dan ilustrator yang berbeda-beda. Spider-Man Noir, misalnya, memiliki skema warna hitam-putih. Sementara Spider-Ham dirancang untuk tampil sekartun mungkin.

Hasilnya adalah film animasi berdurasi hampir 2 jam yang memanjakan mata berkat polesan visualnya yang hidup. Kombinasi dan gradasi warnanya kaya. Gaya visual film juga amat membantu aksi para Spider-Man terlihat lebih epik.

Sebelum meninggal dunia pada November 2018, Stan Lee sempat menyelesaikan rekaman suara untuk karakternya di film sebagai orang yang memberikan kostum Spider-Man ke Miles. Film ini adalah tribute yang manis untuknya dan juga untuk co-creator Spider-Man, Steve Ditko, yang meninggal pada bulan Juni tahun ini.

Baca juga artikel terkait SPIDER-MAN atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Film)


Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf