Menuju konten utama

Tenggat Sisa Sebulan, Realisasi Vaksin PMK Tahap II Baru 31,4%

Menurut Kementan, tantangan realisasi bukan berasal dari masalah stok vaksin, melainkan pada kesadaran peternak untuk mau memvaksinasi hewannya.

Tenggat Sisa Sebulan, Realisasi Vaksin PMK Tahap II Baru 31,4%
Suasana pasar hewan yang sepi di Ngaren, Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (24/6/2022). ANTARA FOTO/Anis Efizudin/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Realisasi vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK) tahap kedua di Indonesia masih sangat rendah. Hal ini menjadi tantangan serius dalam upaya membentuk kekebalan tubuh hewan ternak.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan), hingga Agustus 2025, baru 31,4 persen dari total 1,9 juta dosis vaksin yang berhasil disuntikkan.

Vaksinasi PMK tahap II sendiri berlangsung sejak Juni lalu hingga September 2025 mendatang.

“Artinya dalam jangka waktu kurang lebih 1 bulan lagi kita masih punya 70 persen vaksin yang harus divaksinkan,” kata Direktur Jenderal PKH, Agung Suganda, dalam media briefing Strategi Nasional Pengendalian Penyakit Mulut dan Kuku di Jakarta Selatan, Selasa (26/8/2025).

Untuk mengatasi hal ini, Agung mendorong semua pihak untuk memaksimalkan upaya vaksinasi dalam satu bulan ke depan.

Pasalnya, jika vaksinasi tidak digenjot dikhawatirkan memunculkan risiko yang mungkin timbul pada pergerakan ternak besar yang biasanya terjadi mulai November hingga Desember untuk persiapan Idul Adha 2026.

Capaian vaksinasi yang rendah pada periode kedua ini berpotensi menghambat terbentuknya kekebalan tubuh hewan pada waktu krusial tersebut.

“Maka di sisa waktu 1 bulan ke depan, saya meminta para teman-teman tim dan juga Direktorat terkait di PKH untuk lebih memasifkan vaksinasi kita untuk yang sisanya sekitar 1,3 juta dosisnya agar kita bisa segera mendapatkan kekebalan pada tubuh (hewan) kita itu di bulan November-Desember,” ujarnya.

Namun, menurutnya tantangan lain yang dihadapi bukanlah pada ketersediaan vaksin, melainkan pada kesadaran peternak untuk mau memvaksinasi ternaknya.

Dia tak ingin situasi dan kondisi pada 2022 kembali terulang, di mana pemerintah memiliki vaksin yang cukup dan SDM mumpuni, namun peternak tak ingin hewan miliknya divaksin. Situasi yang akhirnya menyebabkan sebaran wabah PMK secara cepat.

Pada saat itu, setelah lama terbebas dari penyakit PMK, pada 2022 hanya dalam sebulan 29 provinsi langsung terpapar oleh wabah ini.

“Saat itu kita punya sumber daya yang luar biasa, vaksin kita berlimpah, SDM kita juga cukup banyak. Namun kendala utama adalah kesadaran para peternak kita untuk ternaknya mau divaksin masih sangat rendah dan kondisi ini juga sebetulnya masih terjadi sampai saat ini,” ucapnya.

Baca juga artikel terkait VAKSINASI PMK atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana