Menuju konten utama
Naskah Khotbah Jumat

Teks Khutbah Jumat Bulan Syawal: Membalas Kejahatan dengan Kebaikan

Naskah khutbah Jumat singkat bulan Syawal pekan ini tentang membalas perbuatan jahat dengan kebaikan.

Teks Khutbah Jumat Bulan Syawal: Membalas Kejahatan dengan Kebaikan
Ilustrasi. tirto.id/Nadya

tirto.id - Khutbah Jumat bulan Syawal pekan ini mengambil tema tentang membalas kejahatan dengan kebaikan.

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh..

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

Alhamdulillah hari ini kita kembali dipertemukan dalam majelis khotbah dan salat Jumat yang masih berada di bulan Syawal hari ke 12 yang bertepatan dengan tanggal 13 Mei 2022.

Segala puji bagi Allah yang memiliki segala perbendaharaan langit dan bumi, serta bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dan Dialah yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.

Shalawat serta salam tercurah kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, dan orang-orang beriman hingga akhir zaman.

Khutbah Jumat Singkat Bulan Syawal

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Hidup di dunia hanyalah sementara saja, karenanya kesempatan hidup yang singkat dan sebentar ini sebaiknya kita gunakan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat.

Sebagai manusia tentu saja kita tidak luput dari yang namanya kesalahan, kita pernah melakukan dosa atau keburukan, dan mungkin pernah pula ada orang yang berbuat jahat dan kezaliman pada kita.

Lalu apakah kita perlu membalas keburukan yang diperbuat oleh orang lain kepada kita dengan hal yang serupa?

Di bulan Syawal, tradisi yang biasanya kita lakukan adalah bersilaturahmi dan saling maaf-memaafkan, mumpung masih bulan Syawal, marilah kita kencangkan tali silaturahmi.

Maaf yang dimaksud di sini adalah benar-benar tulus ikhlas memaafkan orang yang pernah berbuat salah kepada kita, karena ini akan membawa kebaikan kepada kita.

Allah SWT berfirman:

اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِكُمۡ‌ۖوَاِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَهَا ‌ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَةِ لِيَسُـوْۤءُو ا وُجُوۡهَكُمۡ وَلِيَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ كَمَا دَخَلُوۡهُ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّلِيُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِيۡرًا‏

In ahsantum ahsantum li anfusikum wa in asaatum falahaa; fa izaa jaaa'a wa'dul aakhirati liyasuuu'uu wujuu hakum wa liyadkhulul masjida kamaa dakhaluuhu awwala marratinw wa liyutabbiruu mass'alaw tatbiira

Artinya: "Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam masjid (Masjidil Aqsa), sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai," (QS. Al-Isra: 7)

Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa apabila kita berbuat baik, maka hasil kebaikan itu untuk diri kita sendiri dan ketentuan ini berlaku umum untuk seluruh manusia sepanjang masa.

Dengan demikian, apabila manusia berbuat baik atau berbuat kebajikan, maka balasan dari kebajikan itu akan dirasakannya, baik di dunia maupun di akhirat.

Kebaikan yang diterima di dunia ialah akan menjadi umat yang kuat mempertahankan diri dari maksud jahat yang direncanakan oleh para musuh.

Sedangkan kebahagiaan yang abadi adalah surga yang penuh dengan kenikmatan yang disediakan dan dijanjikan Allah, sebagai bukti keridaan Allah SWT atas kebajikan yang dilakukan.

Sebaliknya apabila ada yang berbuat jahat dengan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan wahyu dan fitrah kejadian mereka sendiri, seperti menentang kebenaran dan norma-norma dalam tata kehidupan mereka sendiri, maka akibat dari perbuatan mereka itu adalah kemurkaan Allah kepada mereka.

Di ayat ini Allah juga mengungkapkan hukuman sebagai akibat kejahatan yang dilakukan Bani Israil untuk kedua kalinya.

Pada saat itu, Allah membiarkan mereka dalam keadaan kacau-balau ketika musuh-musuh datang untuk menaklukkan mereka.

Kekalahan kedua ini benar-benar mereka rasakan sebagai penderitaan yang tiada tara dan mempermalukan mereka.

Musuh memasuki Masjidil Aqsa secara paksa dan sewenang-wenang untuk merampas kekayaan yang mereka simpan dan menghancurkan syiar-syiar agama mereka, seperti yang dilakukan pada penaklukan pertama.

Dengan demikian, mereka merasakan penderitaan yang berlipat ganda. Mereka mengalami penderitaan materil berupa kehilangan kekuasaan, harta benda, dan wanita-wanita yang dijadikan tawanan oleh musuh.

Mereka juga mengalami penderitaan moril karena tempat-tempat suci dan lambang-lambang kesucian agama mereka dilecehkan dan dihancurkan.

Menurut sejarah, yang menghancurkan mereka untuk kedua kalinya adalah bangsa Romawi yang kemudian menguasai Palestina. Mereka membunuh dan menawan orang-orang Yahudi serta menghancurkan Baitul Makdis dan kota-kota yang lain.

Kaisar Romawi pertama yang memasuki Baitul Makdis adalah Kaisar Titus pada tahun 70 Masehi.

Ia membakar Masjidil Aqsa, dan merampas barang-barang berharga yang terdapat di dalamnya, sehingga dalam peristiwa ini kurang lebih 1 juta orang Yahudi tewas.

Selanjutnya Kaisar Hadrianus yang memerintah dari tahun 117 sampai dengan 158 Masehi, juga menguasai Baitul Makdis dan melakukan berbagai tindakan perusakan di masjid itu.

Dari ayat ini setidaknya pelajaran yang bisa kita ambil adalah Allah akan membalas setiap perbuatan dengan perbuatan yang setimpal, tugas kita sebagai manusia adalah berusaha untuk selalu berbuat kebaikan dan selanjutnya jika ada yang berbuat tidak baik kepada kita, maka serahkan semuanya pada Allah SWT.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Anjuran agar kita tidak membalas kejelekan dengan kejelekan, karena hal itu dapat merugikan diri sendiri.

Jangan sampai jika ada yang menjelekkan, lalu kita balas menjelekkan. Kalau demikian, apa bedanya kita dengan mereka?

Lebih baik kita fokus mengurusi kegiatan rutin kita dan menghasilkan kreatifitas. Sebab hal ini lebih besar manfaatnya, seperti disebutkan dalam surah Al-Isra ayat 7 di atas.

Seperti dikutip laman NU Online, Nabi Muhammad SAW sendiri memberi teladan. Ketika dizalimi beliau tidak balas menyakiti. Ketika dicaci maki beliau diam. Dan memilih tetap melakukan kegiatan positif.

Hasilnya apa? Pada akhirnya orang yang memusuhi nabi kagum dengan akhlaknya nabi dan memilih ikut agama Islam.

Setiap mendapat kejahatan maka balas saja dengan kegiatan-kegiatan positif yang kita lakukan. Kita jangan sampai terlalu sibuk menanggapi, yang justru malah bisa berdampak berbengkalainya tugas kita yang lain.

Demikianlah khutbah JUmat singkat pekan ini, semoga kita dapat mengambil hikmah dari apa yang disampaikan, dan semoga kita semua termasuk orang-orang yang senantiasa selalu berusaha berbuat baik dalam setiap kesempatan..Aamiin allahumma aamiin.

Baca juga artikel terkait KHUTBAH JUMAT BULAN SYAWAL atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Addi M Idhom