Teddy Girl: Subkultur Pertama Inggris yang Jadi Inspirasi Dior

Perancang busana Italia Maria Grazia Chiuri mengakui tepuk tangan di akhir koleksi busana Dior's Cruise 2019 di Chantilly, utara Paris, Jumat, 25 Mei 2018. (Foto AP / Thibault Camus)
Oleh: Joan Aurelia - 15 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Teddy Girl adalah sebutan bagi perempuan kelas pekerja Inggris yang gemar memakai jas pada 1950an
tirto.id - Di ranah fesyen kelas atas, Maria Grazia Chiuri sang direktur kreatif rumah mode Dior, dianggap sebagai desainer feminis. Anggapan itu muncul usai koleksi terbatas berupa kaus putih bertuliskan ‘We All Should be Feminist’ dipasarkan pada 2017. Kaus yang desainnya terinspirasi dari judul buku penulis perempuan asal Nigeria Chimamanda Ngozi Adichie itu seketika viral di media sosial, terlebih setelah selebritas Rihanna mengunggah foto sedang memakai kaus itu.

Sejak resmi bekerja di Dior pada Juni 2016, Chiuri bertekad bahwa dirinya harus bersikap lebih vokal lewat penciptaan konsep desain busana yang mendukung berbagai wacana sosial positif dari para perempuan. Keinginannya kian membulat setelah ia mengamati gerakan #metoo yang salah satunya tujuannya untuk mendorong perempuan berani bersuara dan memperjuangkan keadilan.


Akhir Februari lalu, Chiuri kembali mengeluarkan kaus bernada aktivisme, bertuliskan ‘Sisterhood Global’ yang terinspirasi dari judul buku aktivis feminis asal AS, Robin Morgan. Kali ini Chiuri ingin menyampaikan pesan sosial pada pelanggan setia Dior secara lebih efektif. Kaus itu memang bagian koleksi musim dingin 2019 yang mengangkat tema utama Teddy Girl--sebutan bagi anggota perempuan subkultur Teds di Inggris pada 1950-an. Ciri khas anggota kelompok ini, antara lain, mengenakan blazer longgar, celana denim digulung, kemeja berkerah tinggi, dan sepatu tanpa hak.

Chiuri mengisahkan bahwa ide itu muncul setelah partner bisnisnya, Stephen Jones memperlihatkan potret Teddy Girl karya sutradara asal Inggris Ken Russell.

“Aku merasa busana Teddy Girl bicara tentang tradisi, tetapi di saat yang sama juga bicara tentang perlawanan terhadap aturan yang ada. Aku tidak bisa lagi bersikap naif dengan menganggap fesyen sebagai sarana ekspresi diri, aku harus bisa menyampaikan pesan positif kepada publik,” kata Chiuri kepada Vogue.

Teddy Girl: Subkultur Pertama di Inggris yang Sayup Terdengar

Potret yang diperlihatkan Jones kepada Chiuri adalah bagian dari serial foto The Last of the Teddy Girls yang menunjukkan potret Teddy Girl dan Teddy Boy--sebutan bagi anggota Teds berjenis kelamin pria. Pada 1950-an, Russell berkunjung ke Notting Hill, Inggris, untuk mendokumentasikan anak-anak muda ini di muka reruntuhan bangunan yang runtuh akibat Perang Dunia II.

Dalam dokumentasi Russell, para Teddy Girl tampil dalam berbagai gaya. Ada kalanya mereka mengenakan setelan jas lengkap yang terdiri dari blazer, kemeja berkerah tinggi, waistcoat, celana berpotongan ramping dan lurus. Ada juga yang berpenampilan lebih kasual dengan mengenakan kaus, celana denim yang digulung, jas, serta syal. Sebagian perempuan dalam potret tersebut nampak memakai rok longgar selutut yang dipadukan dengan jas sepinggang. Ada pula yang terkesan lebih serius lantaran mengenakan coat dress yang menutupi setengah betis.

“Sebelum aku, tidak ada orang yang memperhatikan eksistensi Teddy Girls. Buatku, mereka adalah sosok-sosok yang innocent,” kata Russell kepada Another, majalah yang mengklaim kelompok Teddy Girl sebagai kaum terlupakan.


Teds bisa dibilang sebagai subkultur pertama yang muncul di Inggris. Robert J. Cross dalam riset “The Teddy Boy as Scapegoat” (1998) menyebut bahwa kelompok ini muncul tak lama setelah pemerintah Inggris menerapkan kebijakan untuk memusnahkan pemukiman kumuh di sekitar London setelah perang dunia.

Sebagian warga direlokasi ke tempat tinggal komunal, sebagian lagi dikirim ke luar kota. Peristiwa itu menyebabkan para individu yang berasal dari kelas pekerja ini terpisah dari keluarga dan kelompoknya.

Anak-anak muda korban penggusuran lantas merasa perlu membuat komunitas dan menunjukkan identitas diri mereka. Kala itu, mereka tergolong marjinal, kaum pekerja tanpa keahlian khusus yang digaji di bawah minimum. Mereka juga jadi bagian masyarakat yang tidak punya akses ke sarana hiburan. Oleh karena itu, dengan membentuk kelompok, mereka berharap bisa mendapatkan hal-hal yang tak ditemui dalam kehidupan sehari-hari, yakni perasaan dihargai atau dihormati, dan kesempatan untuk bersenang-senang.

“Mereka menggunakan busana sebagai alat untuk mendapatkan hak yakni hak untuk diperhatikan,” kata Peter Lewis dalam The Fifties (1978) seperti yang dikutip Cross. Gaya busana tersebut membuat mereka merasa lebih berdaya dan merasa bisa dianggap sebagai “seseorang” di tengah masyarakat yang menganggap mereka bukan siapa-siapa.



Teds kemudian mengadaptasi gaya busana kaum Edwardian, golongan yang pada 1900-an dianggap paling elite. Para Teds mengambil jas yang dijahit rapi sebagai seragam utama. Mereka menciptakan padanan busana baru yang tidak mainstream pada zamannya.


“Dengan bergaya seperti orang kaya, Teds mengejek janji-janji pemerintah dalam menciptakan kondisi sosial yang egaliter dan tidak memandang kelas. Hal ini merupakan aksi penolakan untuk tunduk pada kelas yang dianggap lebih superior,” tulis Cross.

Kaum elite Inggris menganggap Teds sebagai sekelompok anak muda yang punya gangguan jiwa karena punya dandanan nyeleneh. Mereka dilarang untuk masuk ke bioskop dan dilarang bergaul dengan sosok sebaya yang berbeda kelas. Ini juga bisa ditengok di film-film di Inggris dekade 1950-an seperti Cosh Boy, Violent Playground, Sapphire, The Angry Silene, Wind of Change, dan Flame in the Streets yang menggambarkan sosok Teds sebagai kelompok yang harus dimusnahkan.

Usia subkultur ini tidak panjang. Teds mencapai puncak pada 1956 dan meredup pada 1958. Pada 1970-an pamor Teds muncul lagi akibat keberadaan pesohor yang mengadaptasi gaya busana mereka. Meski tak berumur panjang, subkultur ini berhasil mengubah anggapan orang tentang Edwardian suites. Kelompok ini juga menginspirasi gerakan subkultur lain di Inggris seperti Skinhead dan Mod. Di ranah mode, baru Dior yang jelas-jelas menyatakan terinspirasi dari Teddy Girl.

Baca juga artikel terkait FASHION atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight