tirto.id - Perasaan bahagia, sedih, dan haru campur aduk saat sebanyak 358 jemaah haji dari kelompok terbang (kloter) KNO 02 meninggalkan Kota Makkah pada Selasa siang (2/6/2026). Jemaah asal Kabupaten Langkat, Sumatera Utara ini dijadwalkan terbang dari Jeddah menuju Medan pada Selasa malam waktu Arab Saudi.
Katiyo Kadiman, salah satu jemaah haji KNO 02, mengaku sedih harus meninggalkan Tanah Suci.
"Cuma karena sudah waktunya, kita harus pulang," kata Katiyo dengan suara terbata-bata dan air matanya menetes tak terbendung.
Ia tak kuasa melanjutkan ucapannya. Air matanya terus mengalir karena harus meninggalkan Tanah Suci yang ia tunggu-tunggu selama belasan tahun. Tapi, ia tetap bersyukur karena proses ibadah hajinya berjalan lancar.
"Sudah selesai semua, alhamdulillah. Allah telah memilih kami dan keluarga. Alhamdulillah," kata Katiyo yang terkumpul tiga perasaan sekaligus: haru, bahagia, dan sedih berpisah dengan Tanah Haram.

Katiyo juga mengingat momen-momen penting saat puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Meski cukup berat, kata Katiyo, ia bersyukur bisa melaluinya dengan lancar.
"Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah," serunya berulang.
Di sisi lain, Katiyo bersyukur dan bahagia karena akhirnya bisa pulang ke Tanah Air. Ia berada di Madinah dan Makkah untuk berhaji kurang lebih sekitar 40-an hari.
"Senang banget, karena sudah tidak ketemu [keluarga] 42 hari. Meski sering telepon, tapi yang namanya kangen itu sudah pasti," kata Katiyo sambil mengusap matanya yang berkaca-kaca.
Hal yang sama juga dirasakan Siti Mardiah binti Akum Tarigan (70). Meski berat harus meninggalkan Tanah Suci, ia mengaku bahagia karena akhirnya dapat kembali ke Indonesia setelah lebih dari 40 hari berada di Arab Saudi menunaikan rukun Islam kelima.
Mardiah mengatakan seluruh rangkaian ibadah haji dapat dijalankannya dengan baik, termasuk melempar jumrah di Jamarat, Mina. Meski termasuk lanjut usia (lansia), ia dapat melaksanakan tawaf bahkan lempar jumrah secara mandiri.
Mardiah juga mengaku merasakan kesedihan karena harus meninggalkan Tanah Suci. Perasaan itu bercampur dengan kebahagiaan karena akan segera bertemu kembali dengan keluarga di kampung halaman.
"Sedih dan gembira. Gembira karena saya sudah rindu juga sama anak saya, sama cucu," kata dia.
Pengalaman Spiritual Luar Biasa
Ritual haji memang memerlukan kekuatan fisik dan kesabaran ekstra. Saat di Arafah misalnya, semua jemaah memanfaatkan waktu yang sempit tersebut untuk memperbanyak doa, merenungi semua perbuatan yang telah dilaluinya. Jemaah haji dengan segala keterbatasan fasilitas yang ada, tetap khusyuk melangitkan doa-doanya.
Setelah dari Arafah, jemaah haji melanjutkan mabit atau bermalam di Muzdalifah. Di tanah ini, semua setara. Tak ada jabatan maupun kekayaan.
Semua tidur beratapkan langit dan beralas karpet seadanya. Lagi-lagi, di tempat ini jemaah haji diuji kesabarannya.
"Di Arafah, yang namanya pangkat, jabatan dan kedudukan, ternyata tidak ada nilainya, kecuali hanya ketakwaan," kata Samsul Azhar, jemaah haji asal Kloter KNO 02.
Usai wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah, jemaah haji bertolak ke Mina. Saat di Mina, ujian jemaah bukan hanya soal kesabaran, tapi juga kekuatan fisik dan kegigihan.
Mereka setiap hari berjalan kaki dari tenda Mina ke Jamarat untuk melempar jumrah. Durasinya yaitu selama tiga hari bagi jemaah yang nafar awal, lalu empat hari bagi jemaah nafar tsani.
Bukan hanya jarak yang cukup jauh, jemaah dihadapkan pula dengan kepadatan selama menuju Jamarat. Jarak pergi-pulang minimal 7 km.
Alhasil jemaah harus melalui semua itu di bawah terik matahari yang menyengat, jarak tempuh jauh, serta lautan manusia yang berjalan melewati dua terowongan Mina. Aktivitas ini sudah pasti membutuhkan kesabaran ekstra dan kekuatan fisik di atas rata-rata.
"Selama kami menjalani ibadah haji, kami mendapatkan pengalaman spiritual yang luar biasa. Yang melatih kita bertakwa kepada Allah, melatih sifat-sifat baik pada diri kita, terutama sifat sabar, sifat bersusah payah untuk ibadah kepada Allah," kata Samsul sebelum meninggalkan Kota Makkah.
Samsul juga bersyukur selama di Tanah Suci, baik di Madinah dan Makkah, pelayanan dari petugas haji sangat baik. Berbagai hal yang dikhawatirkan selama manasik di Tanah Air, tidak terjadi.
"Alhamdulillah mulai dari tempat [hotel], makanan di Madinah yang disiapkan itu sangat baik," kata dia.
Pelayanan yang sama juga saat pelaksanaan haji di Makkah. Menurut Samsul, mulai dari fasilitas yang disiapkan hingga bus untuk transportasi sangat kondusif. Ia bersama jemaah lain bisa beribadah dengan nyaman dan aman.
358 Jemaah Asal Langkat Meninggalkan Makkah
Pada Selasa (2/6) ini , sebanyak 358 jemaah haji asal Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, mulai dipulangkan ke Tanah Air menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Proses kepulangan jemaah mendapat pendampingan langsung dari Kementerian Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.
Koordinator Akomodasi Sektor 6 Jarwal Makkah, Trinanda Pamungkas, mengatakan, hari ini terdapat dua kloter yang dijadwalkan kembali ke Indonesia dari hotel nomor 603 dan 605 di kawasan Jarwal, Makkah.
Menurut dia, sebanyak 358 jemaah yang menempati hotel 603 seluruhnya berasal dari Kabupaten Langkat dan tergabung dalam Kloter KNO 2.
"Alhamdulillah untuk kepulangan di jadwal hari ini tuh ada satu kepulangan di 603 sama di 605," kata Trinanda kepada tim Media Center Haji (MCH) saat ditemui di Hotel 603 Jarwal, Makkah, Selasa (2/6/2026).

Trinanda menjelaskan, para jemaah akan diberangkatkan dari Bandara Jeddah menggunakan maskapai Garuda Indonesia pada pukul 19.00 Waktu Arab Saudi (WAS).
Ia menuturkan, secara umum proses pelayanan dan persiapan kepulangan berjalan lancar tanpa kendala berarti. Tetapi, petugas harus bekerja ekstra karena banyaknya jumlah jemaah yang harus dilayani.
"Alhamdulillah untuk sementara kendala di lapangan tidak ada hal yang signifikan dan menonjol. Untuk keseluruhan pada umumnya aman dan tertib," ucapnya.
Sebelum proses keberangkatan, petugas terlebih dahulu melakukan koordinasi dan konsolidasi internal guna memastikan seluruh jemaah siap diberangkatkan. Selain itu, petugas juga melakukan penyisiran ke setiap kamar hotel untuk memastikan tidak ada jemaah yang tertinggal.
"Kita melakukan penyisiran sweeping ke kamar-kamar, ditakutkan ada jemaah yang tertinggal atau terkunci di dalam kamar. Jadi dari pihak kami, tim akomodasi, menyisir hotel," ujarnya.
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































