tirto.id - Bagi Cecep (49), Dedi Mulyadi adalah sosok pemimpin yang sangat berkarakter. Pria asal Kota Bandung itu menganggap kalau Demul –panggilan Dedi– adalah sosok gubernur yang sangat paham dengan kehidupan harian masyarakat.
Cecep bahkan sudah mengikuti berita terkait Dedi sejak sebelum pemilihan kepala daerah (Pilkada) tahun lalu. Menurutnya, kebijakan yang diterapkan orang nomor satu di Provinsi Jawa Barat itu sangat membantu, khususnya di bidang pendidikan.
Kebijakan yang dimaksud salah satunya menghapus biaya tak terduga seperti study tour. Cecep merasa hal tersebut membebankan orang tua dengan penghasilan pas-pasan.
“Terus, (Dedi) membuat program anak-anak SMA yang diarahkan minat dan bakatnya, dan akan disalurkan menurut bakatnya masing masing,” ujar Cecep kepada Tirto, Rabu (7/5/2025).
Dia juga berpendapat, wacana kontroversial Dedi untuk mengirim siswa “bandel” ke barak militer justru bagus untuk membentuk kedisiplinan pada anak. Dengan membentuk kedisiplinan, minimal anak bisa memberikan tanggung jawab, khususnya kepada dirinya sendiri dan bisa lebih menghormati orang tuanya.
Sejumlah wacana kontroversial Dedi memang bikin namanya belakangan tak absen mewarnai lini masa media sosial. Sejak penghujung Februari lalu, nama Gubernur Jawa Barat ini terus menyedot perhatian publik.
Tren yang ditangkap Google pun memperlihatkan tingginya popularitas penelusuran kata kunci "Dedi Mulyadi" di mesin pencarian. Dalam dua bulan terakhir, alias dari 1 Maret sampai 30 April 2025, penelusuran kata “Dedi Mulyadi” sempat naik-turun, sebelum mencapai puncaknya pada 29 April.
Pada hari itu, minat pencarian kata kunci “Dedi Mulyadi” di Google Trend menyentuh skor 100, yang mana menggambarkan puncak popularitas. Dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya, skor penelusuran “Dedi Mulyadi” hanya berkisar antara 20 - 30-an.
Adapun skor di atas berdasar alat pendeteksi tren Google. Google trend bekerja dengan melihat minat dari waktu-ke waktu. Skor menggambarkan minat pencarian relatif terhadap titik tertinggi pada grafik untuk wilayah dan waktu tertentu. Sederhananya, nilai 100 adalah puncak popularitas untuk kata kunci tersebut, nilai 50 berarti istilah tersebut setengah populer. Nilai 0 berarti tidak ada cukup data untuk kata kunci tersebut.
Populernya nama Demul pada akhir April 2025, kemungkinan besar dipicu oleh wacana vasektomi yang dia ungkap kepada media. Sehari sebelumnya, Senin (28/5/2025), ia melontarkan rencana kepesertaan keluarga berencana (KB) sebagai syarat bagi masyarakat untuk menerima bantuan, mulai beasiswa hingga berbagai bantuan sosial dari provinsi.
Saat Rapat Koordinasi bersama kepala desa se-Jawa Barat pada Senin (28/4/2025), Dedi mengatakan KB pria, berupa vasektomi akan menjadi syarat untuk penerimaan bantuan sosial. Hal itu berangkat dari temuannya banyak keluarga prasejahtera ternyata memiliki banyak anak, padahal kebutuhan tidak tercukupi.
Menariknya, pembahasan seputar KDM ini tak hanya terjadi di kalangan warga Jawa Barat, tapi juga merambah hingga ke luar Pulau Jawa. Analisis Google Trend memperlihatkan bahwa lokasi penelusuran kata kunci “Dedi Mulyadi” selama 1 Maret - 30 April 2025 paling populer di Jawa Barat, disusul Jakarta, Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Kalimantan Utara.
Pengamat Politik dari Universitas Padjajaran (Unpad), Kunto Adi Wibowo, menilai fenomena ini kemungkinan terjadi karena beresonansi dengan permasalahan yang ada di Yogyakarta dan Kalimantan Utara, serta kemungkinan besarnya komunitas warga Jawa Barat atau Suku Sunda di wilayah tersebut.
“Sehingga akhirnya kan kedekatan etnisitas itu kan yang sebenarnya ditonjolkan oleh Dedi Mulyadi. Dengan identitasnya sebagai Sunda Wiwitan dan identitasnya sebagai orang Sunda. Itu yang akhirnya melekat pada Dedi Mulyadi dan bisa jadi magnet bagi orang Sunda yang ada di luar Jawa Barat gitu,” tutur Kunto ketika dihubungi Tirto, Selasa (6/5/2025).
Senada dengan tingginya minat pencarian Google, pada akhir April, pembahasan soal Kang Dedi Mulyadi atau KDM ini juga ramai di media sosial. Media monitoring dari cuitannya, mengungkap perbincangan terkait KDM di X, Facebook, YouTube, Instagram, TikTok, memuncak pada 30 April. Periode monitoring ini juga dari 1 Maret 2025-30 April 2025.
Percakapan tentang KDM didominasi klaster publik positif, publik kritis, aktivis dan tokoh publik, serta media. Publik positif mendukung vasektomi dan pemberantasan premanisme, sementara publik kritis mengkritik kebijakan represif dan kontradiksi sikap KDM. Meski sentimennya terbelah, di media sosial kecenderungan sentimennya lebih mengarah ke positif.
“Di media sosial, 50 persen sentimen positif mendukung kebijakan pro-rakyat KDM seperti vasektomi, pemutihan pajak, dan pemulihan lingkungan. Namun, 38 persen sentimen negatif menyebut KDM lebih fokus pencitraan dan mempertanyakan etika serta efektivitas kebijakannya,” tulis Drone Emprit dalam cuitannya, Kamis (1/5/2025).
Adapun kata kunci yang sering dibicarakan terkait Dedi Mulyadi mencakup @DediMulyadi71, ‘KB’, ‘Gubernur’, ‘suami’, dan ‘ketipu’. Menariknya cuitan populer di X banyak yang menyoroti kontroversi seputar KDM, mulai dari tudingan memakai aktris dalam konten, kritik kebijakan vasektomi, hingga sindiran soal intel di kampus. Hal-hal ini, semua mencerminkan ketidakpuasan publik terhadap kebijakan Dedi.

Gubernur Tak Bisa Sekadar “Ngonten”
KDM sempat maju sebagai calon Wakil Gubernur pada Pilgub Jawa Barat 2018. Namun, kala itu dia harus kalah dari Ridwan Kamil, yang kala itu kian populer di media sosial.
Belajar dari kejadian tersebut Dedi kemudian menjadi aktif bermedia sosial. Akun YouTube @KANGDEDIMULYADICHANNEL jadi sarana utamanya. Sudah dibuat sejak 17 November 2017, Dedi baru aktif mengunggah berbagai macam video ke channel YouTube-nya sekitar awal Januari 2020 saat ia aktif sebagai anggota DPR RI, mengutip Antara.

Konsistensinya di media sosial berbuah manis, dalam kurun waktu sekitar 1 tahun, tepatnya pada 31 Maret 2021, akun YouTube Dedi Mulyadi berhasil tembus hingga 1 juta subscriber. Per 7 April 2025, sudah ada lebih dari 7 juta subscriber akun itu dengan lebih dari 4.200 video yang dia unggah.
Konsistensinya di media sosial juga berbuah manis untuk mengangkat kepopulerannya, saat maju lagi sebagai calon Gubernur pada Pilkada Jawa Barat 2024, dia menang telak, dengan perolehan suara 14,1 juta. Angka tersebut setara dengan 62 persen pemilih di Jawa Barat.
Terlepas dari berbagai faktor, kepopuleran Dedi di media sosial dianggap turut menjadi pengaruh. Pengamat Politik Unpad, Kunto, menyebut Demul banyak bereksperimen dan mengembangkan kontennya di media sosial, setidaknya dalam satu-dua tahun terakhir.
“Dari situ kan dia paham betul bahwa dia harus tampil sebagai hero atau sebagai pahlawan di tengah masalah-masalah masyarakat yang misalkan gak ada jalan keluar gitu kan,” ujarnya.
Menurutnya, meski Dedi kerap datang dan memberikan solusi langsung, solusi yang ditawarkan Dedi cenderung episodik dan tidak sistemik. Dengan kata lain Dedi hanya menolong dari gejalanya saja.
“Jadi kalau orang sakit panas, ya dikasih obat penurun panas. Tapi gak kemudian mencari panasnya itu gara-gara apa gitu. Itu yang akhirnya membuat dia jadi populer karena sesuai dengan apa yang diinginkan oleh masyarakat. Masyarakat sedang gerah, dia kasih kipas angin kan selesai gitu. Seakan-akan masalahnya selesai, seakan-akan ada elit politik yang memang punya perhatian terhadap masyarakat gitu,” lanjut Kunto.

Ia menilai dalam kapasitas sebagai gubernur, tidak bisa pemimpin hanya jadi tukang konten dan pencitraan. Dedi mesti bisa kemudian menyeimbangkan antara kepentingannya untuk ngonten, entah dalam rangka investasi politik, hobi, atau memang jadi kebiasaan.
“Tapi paling tidak kita ingin melihat bagaimana interaktivitas juga terjadi gitu kan. Jadi dia nggak hanya bikin konten, tapi juga ikut berdiskusi dengan masyarakat tentang problem-problem yang ada di masyarakat. Dan yang kita harapkan solusinya solusi sistemik gitu. Solusi yang memang jangka panjang dan menjangkau semua warga Jawa Barat, tidak hanya di lokasi tempat dia bikin konten saja,” ujar Kunto.
Kalaupun Dedi punya tujuan mengerek elektabilitas lewat konten, langkah yang diambil bisa dibilang terlalu cepat. Analis Sosial-politik ISESS Musfi Romdoni, berpendapat kalau masyarakat pasti punya titik jenuh dan hal ini berisiko pada kepopuleran Dedi yang akan jatuh.
“Dan ujung-ujungnya dia (Dedi) ini akan jadi semacam selebgram aja. TikToker atau artis. Itu nantinya branding –yang dia secara sadar-nggak sadar– akan terbentuk. Mungkin 2-3 tahun lagi kalau dia terus seperti ini. Dan bahkan kita enggak perlu menunggu 2 tahun,” ucap Musfi lewat sambungan telepon, Selasa (6/5/2025).

Belum 6 bulan menjabat gubernur saja orang sudah melabelinya, “gubernur konten”. Hal Ini seharusnya memberi lampu kuning bagi tim branding Dedi. Kalau memang Dedi punya visi panjang, misal untuk jadi Gubernur Jakarta, atau bahkan maju di Pilpres, dia harus bisa menyematkan branding sebagai kepala daerah yang problem solver.
Hal ini, menurut Musfi, itu belum terlalu terlihat dari sosok Dedi. “Jadi masih terkesan dia ini sekedar menaikkan engagement-nya aja. Jadi kembali ke tujuannya. Kalau sekadar ingin populer, ya seperti ini caranya. Karena artis pun seperti itu. Ini era politik selebritas. Tapi kalau visi dia itu panjang dan seterusnya, ini nunggu waktu aja sampai publik jenuh sama KDM,” lanjut Musfi.
Melihat Dedi dari Teori Scarcity
Tak cuman era politik selebritas, fenomena popularitas Dedi dikatakan Musfi bisa dipandang dari teori ekonomi scarcity, atau kelangkaan. Menurut dia sosok Dedi kini sangat terkenal karena sederhananya dan, “cuma dia yang dramatis saat ini”.
“Nah yang unik itu, di masyarakat Jawa Barat ini ternyata mereka ini agak suka dengan konten-konten yang heboh dramatis seperti itu. Sebenarnya itu yang kita temukan sejak Pilpres (dan) Pilkada (2024),” kata Musfi.
Dedi memang paham betul karakteristik psikologi masyarakat Jawa Barat yang menjadi dapilnya. Menurut Musfi, kalau dibuat pemetaan, di Jawa Barat memang konten-konten ala Dedi akan viral. Unsur-unsur konten seperti drama, emosi, kontra narasi atau kontra aktor jadi bahan bakarnya.
“Iya, kita (naluri manusia) memang suka bergosip kan. Kita memang suka sesuatu yang menyentuh. Bahkan meskipun kita tahu itu bohong, kita tonton,” lanjutnya.

Musfi melabeli Dedi sebagai Jokowi 2.0, lantaran imaji yang dibangun mirip dengan apa yang dilakukan mantan presiden Indonesia ke-7 itu. Dedi mencoba mereplikasi gaya “dekat dengan rakyat” ala Jokowi, tapi dengan intensitas yang lebih tinggi.
“Tapi justru caranya itu kita melihat kurang elegan dan rentan menimbulkan kejenuhan,” tutur Musfi. Ia mengaku tidak melihat arah pembentukan pencitraan yang tegas, berbeda dengan Jokowi yang menggambarkan dirinya sebagai sosok yang dekat dengan rakyat dan turun langsung ke lapangan.
Penulis: Fina Nailur Rohmah
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id

































