tirto.id - Dampak konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran, yang berujung pada penutupan Selat Hormuz, mengubah peta operasional perusahaan pelayaran di Indonesia.
Sejumlah emiten pelayaran, terutama yang memiliki rute ke Timur Tengah, turut terdampak akibat eskalasi konflik tersebut. PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR), salah satu pemain utama logistik laut nasional, memastikan telah mengambil langkah taktis untuk menghindari wilayah rawan di sekitar Selat Hormuz.
Direktur Utama SMDR, Bani M. Mulia, mengatakan bahwa keselamatan armada dan awak kapal adalah prioritas utama. Perusahaan telah mengalihkan rute pelayaran menjauh dari kawasan konflik.
“Semua armada kami pastikan tidak berada di lokasi zona perang dan saat ini tidak melewati area tersebut,” ujar Bani kepada Tirto, Selasa (3/3/2026).
Namun, keputusan untuk mengubah rute dan situasi pasar global yang tidak menentu membawa konsekuensi biaya. Bani memproyeksikan tahun 2026 akan diwarnai oleh kenaikan beban operasional, khususnya dari sisi asuransi dan bahan bakar.
“Kami memperkirakan biaya asuransi dan bunker (bahan bakar kapal) akan naik, sehingga biaya operasional ikut meningkat,” kata dia.
Meski demikian, dalam industri pelayaran, krisis geopolitik sering kali menciptakan anomali pasar.
Bani menjelaskan bahwa gangguan jalur pelayaran seperti penutupan Selat Hormuz akan menekan kapasitas armada global, yaitu supply kapal berkurang karena rute memutar yang lebih jauh atau kapal yang tertahan. Sementara itu, permintaan pengangkutan kargo tetap ada.
Ketimpangan ini membuka ruang bagi kenaikan tarif angkut atau freight rate. Bagi perusahaan pelayaran, ini adalah mekanisme keseimbangan baru. Biaya yang naik akibat perang akan dibebankan ke pasar, yang pada akhirnya berpotensi menjaga, atau bahkan meningkatkan pendapatan perusahaan.
“Kenaikan biaya biasanya akan diimbangi dengan kenaikan tarif, sehingga tetap mendorong pendapatan. Ada peluang kenaikan tarif angkut karena kapasitas tertekan, sementara muatan masih memiliki permintaan,” tambahnya.
Sementara itu, Corporate Secretary PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI), Arya Pradana, menyatakan bahwa secara operasional langsung, armada HUMI relatif aman karena fokus pada distribusi energi di perairan Indonesia.
"Pada dasarnya saat ini untuk HUMI belum terkena dampak langsung terhadap penutupan Hormuz karena saat ini HUMI masih berfokus pada pemenuhan energi domestik untuk ketahanan energi nasional," ujar Tuti kepada Tirto.
Namun, Arya memberikan catatan penting mengenai skala dampak global dari konflik tersebut. Selat Hormuz bukan hanya jalur minyak, tetapi juga jalur bagi sekitar 20-25 persen perdagangan LNG global. Gangguan di sana otomatis memicu volatilitas harga energi internasional yang akan merembet ke mana-mana.
Ia pun membedah struktur ketahanan gas nasional. Secara produksi, Indonesia sebenarnya cukup mandiri dengan produksi gas sekitar 6 BSCFD (billion standard cubic feet per day), yang mampu menutupi kebutuhan domestik sebesar 4-4,5 BSCFD. Masalah utamanya adalah infrastruktur: gasnya ada di Timur Indonesia, tapi penggunanya ada di Jawa dan Sumatera.
"Meskipun secara agregat Indonesia relatif tidak bergantung pada impor LNG dalam skala besar, tantangan utama berada pada aspek distribusi dan infrastruktur," ucapnya.
Namun, risko tetap mengintai dari sisi harga minyak dunia. Arya mengingatkan bahwa harga minyak mentah global, yang kini sangat sensitif dan fluktuatif di kisaran angka tinggi, memiliki korelasi dengan biaya logistik dan struktur harga energi secara umum.
"Volatilitas harga minyak mentah global dapat memengaruhi struktur harga energi dan biaya logistik secara tidak langsung," tambahnya.
Untuk menghindari dampaknya ke perseroan, HUMI memperkuat anak usahanya, PT GTS Internasional Tbk (GTSI) di bidamg pengangkutan LNG dan PT PCSI di segmen oil dan chemical, untuk mengoptimalkan infrastruktur domestik seperti Floating Storage Regasification Unit (FSRU).
Hal ini diambil untuk memastikan bahwa meskipun pasar global sedang volatil, distribusi energi di dalam negeri tetap berjalan stabil dan efisien.
“Pendekatan portofolio yang terdiversifikasi ini memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus memungkinkan Perseroan mengelola eksposur terhadap volatilitas harga energi global dan perubahan arus perdagangan internasional dengan prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik,” kata dia.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































