Periksa Data

Spotify Nomor Satu di Dunia, tapi Kok Merugi Terus?

Oleh: Irma Garnesia - 22 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Seiring bertambahnya jumlah pelanggan premium, penghasilan yang didapat Spotify juga bertambah. Namun, hal tersebut tak lantas membuat Spotify memperoleh keuntungan.
tirto.id - Pada awal Juni ini, laman YouTube Tech in Asia mengunggah sebuah video yang menyebutkan bahwa Spotify berhasil mencetak rekor 100 juta pelanggan berbayar pada akhir April 2019. Hal tersebut membuat aplikasi streaming musik asal Swedia tersebut menduduki peringkat pertama di dunia. Sayangnya, hingga kini, Spotify masih gagal memperoleh keuntungan. Mengapa demikian?

Sebagai catatan, melalui data statistik pengguna itu, Spotify berhasil mengalahkan Apple Music yang menurut Statista tercatat memiliki 60 juta pelanggan berbayar per Juni 2019.

Spotify sendiri berhasil meningkatkan jumlah pengguna premium berkat promosi di Amerika Serikat dan Kanada, paket langganan keluarga, ekspansi ke perangkat Google Home Mini, dan juga paket akses premium ke layanan streaming daring Hulu.

Masih dari Tech in Asia, dapat dilihat bahwa jumlah pelanggan berbayar atau premium dan pelanggan aktif bulanan Spotify terus meningkat sejak 2016. Menurut laporan keuangan Spotify pada kuartal I/2019, Spotify telah mencapai 100 juta pelanggan premium dan 217 juta pengguna aktif bulanan.

Sebagai catatan, pada akhir 2018, jumlah pelanggan premium tercatat sebanyak 96 juta dan pengguna aktif bulanan sebanyak 207 juta. Jumlah ini terus meningkat sejak tahun 2016. Pada tahun tersebut, jumlah pengguna premium Spotify mencapai sekitar 48 juta pengguna dan jumlah pengguna aktif bulanan sekitar 124 juta pengguna.

Infografik Periksa Data Spotify
Infografik Periksa Data Spotify. tirto.id/Quita


Spotify saat ini tersedia di 97 negara, namun lebih terkenal di Eropa dan Amerika. Sebanyak 37 persen pengguna aplikasi ini berasal dari benua biru tersebut, disusul Amerika Utara sebanyak 30 persen, dan Amerika Latin sebanyak 22 persen. Sementara itu, Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Australia hanya menyumbang 11 persen pengguna bagi aplikasi ini.

Di beberapa negara Asia seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Hong Kong, Spotify kalah jauh dengan pesaingnya, Joox. Berdasarkan studi yang dilakukan Ipsos pada 2017 berjudul "Targeting millennials using music streaming apps," Joox menempati posisi 14 di Indonesia, 9 di Malaysia, 5 di Thailand, dan 9 di Hongkong sebagai aplikasi yang paling banyak diinstall di Android dan iOS. Spotify, sementara itu, berada jauh di belakang, yakni menempati posisi 84 di Indonesia, 35 di Malaysia, 54 di Thailand, dan 28 di Hong Kong.

Terlepas dari posisi Spotify di sejumlah negara Asia, peningkatan jumlah pengguna ternyata tidak sejalan dengan pendapatan yang diperoleh Spotify. Pada kuartal I/2019, kerugian perusahaan aplikasi ini bahkan mencapai 142 juta euro. Kerugian ini memang sedikit lebih baik dibanding periode yang sama tahun lalu. Kala itu, Spotify mencetak kerugian hingga 169 juta euro.

Namun, catatan pentingnya, aplikasi ini selama enam tahun belakangan memang selalu merugi, meski pendapatannya juga bertambah.

Infografik Periksa Data Spotify
Infografik Periksa Data Spotify. tirto.id/Quita



Mengapa Bisa Merugi?

Tech in Asia mencatat, Spotify adalah pihak ketiga yang menjual konten dari label rekaman. Sementara label rekaman sendiri punya hak atas koleksi musik yang dihasilkan oleh para musisinya. Model bisnis yang dijalankan Spotify membuat mereka harus membayar royalti dan biaya distribusi kepada label rekaman, penerbit, dan pemegang hak streaming musik pada pelanggan.

Seiring bertambahnya jumlah pelanggan premium, penghasilan yang didapat Spotify juga bertambah. Namun, peningkatan jumlah pengguna premium juga membuat biaya yang harus dibayar menjadi lebih tinggi.

Pada kuartal I/2019, misalnya, Spotify harus menutupi biaya produksi, biaya operasional, modal, dan pajak sekaligus. Seluruh biaya ini tak mampu ditutupi oleh pendapatan dan laba kotor perusahaan, sehingga Spotify harus merugi sebesar 142 juta euro.

Menurut Gene Munster, investor dan analis dari Loup Ventures, fakta bahwa Spotify harus merugi meski menjadi layanan musik nomor satu dunia menunjukkan bahwa model bisnisnya memang sudah jelek dari awal. Gene mengatakan, seperti diberitakan USA Today, sulit melihat bagaimana Spotify bisa menghasilkan uang.

Hal yang sama pernah dialami Pandora. Layanan musik ini harus membayar label rekaman, musisi, dan distributor sekaligus. Meski telah ada sejak tahun 2000-an, Pandora dilaporkan memperoleh pendapatan sebesar 1,4 miliar dolar AS pada 2017, namun merugi sebesar 518,4 juta dolar AS.

Sebenarnya yang bisa dilakukan Spotify agar tidak terus-terusan merugi adalah bertindak seperti label rekaman, yakni memproduksi konten sendiri, misalnya, seperti Netflix. Awalnya, Netflix memang bertindak seperti toko rental film dan serial. Namun, dengan juga memproduksi konten sendiri, Netflix tak perlu lagi membayar biaya yang besar seperti di awal.

Dilansir Forbes, Apple Music juga pernah melakukan hal serupa ketika menjalin kesepakatan dengan Chance the Rapper. Apple membayar Chance The Rapper sebesar 500 juta dolar AS untuk program eksklusif di platform mereka selama dua minggu. Selama periode tersebut, pengguna bisa mendengar lagu dan mengunduh karya musisi asal Chicago tersebut secara gratis.

Chance the Rapper bukan satu-satunya artis yang bekerja sama secara eksklusif dengan Apple Music. Rapper asal Kanada, Drake, juga telah bekerja sama dengan Apple Music sejak 2015. Album keempatnya, Views (2016), dirilis secara eksklusif melalui Apple Music selama seminggu penuh.


Sayangnya, Daniel Ek, CEO Spotify, tidak pernah melihat perusahaannya sebagai label rekaman. Dalam wawancaranya dengan Variety, Daniel menyampaikan bahwa Spotify tidak ingin menjadi disrupsi bagi industri musik dan menggantikan label rekaman konvensional. Hal itu pula yang membuat Spotify memutuskan menutup program uji coba yang memungkinkan musisi indie mengunggah lagu mereka langsung ke platform musik tersebut mulai 30 Juli 2019.

Spotify sendiri mengaku kesulitan memantau hak cipta pendistribusian musik dari musisi indie, sementara pada saat yang sama, Spotify juga ingin mendukung para mitra distributornya. Nantinya, para musisi indie harus bekerja sama dengan para distributor yang telah disetujui—jika mereka belum memiliki label yang menaunginya—untuk bisa mengunggah karya mereka ke platform Spotify.

Sebenarnya Spotify tidak diam saja. Masih dari Tech in Asia, platform ini tengah berfokus pada program podcast mereka dan bekerja sama dengan Amy Schumer atau Joe Budden untuk menghasilkan podcast orisinal. Spotify juga dengan aktif menyisipkan iklan pada podcast mereka sejak pertengahan 2018.

Keseriusan Spotify pada podcast juga ditunjukkan dengan akuisisi pada beberapa perusahaan penyedia layanan podcast seperti Gimlet Media, Parcast Network, dan juga Anchor.

Meski fokusnya melebar dari hanya menyediakan musik, upaya etik Spotify untuk tidak menghancurkan industri musik konvensional patut diapresiasi. Namun, pertanyaan selanjutnya adalah apakah itikad baik itu bisa membuat platform ini tidak terus-terusan merugi dan mampu bertahan?



============

Artikel periksa data ini menggunakan video Tech in Asia berjudul "Spotify Nomor Satu di Dunia, Tapi Kok Rugi Terus? #TIAExplainer" yang diunggah ke YouTube pada 13 Juni 2019 sebagai rujukan utama.

Redaksi memohon maaf karena sebelumnya tulisan ini tidak menyertakan rujukan utama tersebut.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - )

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight