Menuju konten utama

SMF: Setiap Rp1 T Investasi Sektor Perumahan Kerek PDB Rp1,9 T

Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), SMF mengembangkan perbaikan rumah kumuh, salah satunya di Surakarta.

SMF: Setiap Rp1 T Investasi Sektor Perumahan Kerek PDB Rp1,9 T
Suasana kompleks perumahan mewah di Candisari, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu. (7/2/2026). Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI) mengindikasikan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan IV 2025 tumbuh terbatas dengan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan IV 2025 yang tumbuh sebesar 0,83 persen (yoy) atau relatif stabil dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan III 2025 sebesar 0,84 persen (yoy). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/bar

tirto.id - Direktur Utama PT Sarana Multigriya Finansial (SMF), Ananta Wiyogo mengatakan, setiap Rp1 triliun investasi di sektor perumahan, diperkirakan bisa mengerek produk domestik bruto (PDB) hingga Rp1,9 triliun.

Sebab, berdasarkan kajian lembaga survei independen DTS Indonesia, investasi di sektor perumahan dapat memberikan dampak berganda (multiplier effect) hingga 1,86 kali ke sektor lainnya.

"Berdasarkan kajian DTS Indonesia, lembaga independen, sektor perumahan berperan sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi melalui efek berganda yang signifikan dengan multipliereffect sebanyak 1,86 kali memicu aktivitas di berbagai sektor lainnya setiap investasi Rp1 triliun akan mendapatkan PDB sebesar Rp1,9 triliun," ujar dia, dalam Kunjungan Kerja Pers 2026, di Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (12/2/2026).

Karena itu, melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), SMF mengembangkan perbaikan rumah kumuh, salah satunya di Surakarta. Dalam program ini SMF menyasar masyarakat yang masuk dalam desil 2 ke bawah. Selanjutnya, penerima manfaat juga merupakan warga dengan penghasilan tidak tetap dan tidak memiliki kemampuan untuk mengangsur.

"Sehingga, program TJSL meningkatkan kualitas rumah di daerah kumuh merupakan salah satu solusi yang dapat dilaksanakan untuk menekan backlog kelayakan hunian, program ini juga memberikan dampak pemenuhan tujuan pembangunan berkelanjutan," tutur Ananta.

Tujuan pembangunan berkelanjutan yang telah dipenuhi di antaranya, Sustainable Development Goals (SDGs) 1 yaitu pengentasan kemiskinan, SDGs 3 terkait pencapaian kehidupan sehat dan sejahtera, SDGs 6 pemenuhan air bersih dan sanitasi layak, serta SDGs 11 kota dan pemukiman yang berkelanjutan.

Namun, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sekaligus mencapai tujuan SDGs, Ananta meyakini, penanganan pemukiman kumuh tidak bisa dilakukan secara parsial. Karena itu program yang dirancang sebagai bagian dari penanganan kawasan rumah secara terpadu.

"Yang dilanjutkan oleh pemerintah kota Surakarta melalui perbaikan infrastruktur lingkungan, sanitasi, drainasi hingga akses dasar lainnya, ke depannya SMF akan terus memperkuat perannya tidak hanya sebagai penyedia likuiditas pembiayaan perumahan tetapi juga sebagai mitra strategis pemerintah dan daerah dalam memastikan bahwa pembangunan perumahan yang benar-benar berdampak langsung bagi masyarakat," jelas dia.

Dalam kerja sama dengan Pemerintah Kota Surakarta ini, SMF sudah melakukan dua tahap pembangunan kampung kumuh di Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon, Surakarta secara bertahap.

Pada tahap pertama, 47 rumah telah dibangun dan rampung pada 2022, kemudian 56 rumah juga dibangun pada tahap selanjutnya.

Baca juga artikel terkait PERUMAHAN atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Farida Susanty