Menuju konten utama

Skala Relokasi Produksi Grup Yazaki ke Vietnam Diperkecil

Hasil perundingan membuat prinsipal asal Jepang itu menunda relokasi produksi dalam skala besar ke Vietnam.

Skala Relokasi Produksi Grup Yazaki ke Vietnam Diperkecil
Presiden Partai Buruh sekaligus Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, resmi dilantik menjadi Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (8/6/2026). tirto.id/M Fajar Nur
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Penasihat Khusus Presiden RI Bidang Ketenagakeran dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, mengatakan rencana relokasi sebagian produksi Grup Yazaki dari Indonesia ke Vietnam berhasil diperkecil. Itu terjadi setelah serikat pekerja dan manajemen perusahaan berunding.

Menurut Said, langkah tersebut turut menekan potensi pemutusan hubungan kerja (PHK).

Said mengaku melakukan mitigasi terhadap sejumlah perusahaan yang menghadapi ancaman PHK akibat rencana pemindahan produksi ke luar negeri. Salah satu langkah yang ditempuh ialah mendorong perundingan bipartit antara serikat pekerja tingkat perusahaan dan manajemen.

“Langkah-langkah yang saya lakukan adalah, satu, memastikan bahwa kalau penyebab PHK adalah karena adanya prinsipal yang ingin memindahkan produksinya ke negara lain atau negara asal, maka perundingan bipartit antara serikat pekerja tingkat perusahaan dengan manajemen itu adalah yang paling efektif,” kata Said dalam konferensi pers secara daring, Minggu (28/6/2026).

Dia mengatakan pendekatan tersebut diterapkan di PT JAI Pasuruan dan PT SAI Mojokerto yang sama-sama memproduksi wiring harness untuk industri otomotif dan berada di bawah Grup Yazaki. Menurut Said, hasil perundingan membuat prinsipal asal Jepang itu menunda relokasi produksi dalam skala besar ke Vietnam.

“Nah, ini yang saya lakukan di perusahaan PT JAI dan PT SAI. PT JAI di Pasuruan, PT SAI di Mojokerto. JAI di Pasuruan, SAI di Mojokerto, itu akhirnya membuat prinsipal menunda memindahkan sebagian produksinya ke Vietnam,” ujarnya.

Said menjelaskan semula perusahaan berencana memindahkan sekitar separuh lini produksinya ke Vietnam. Namun, setelah dilakukan perundingan, relokasi hanya dilakukan terhadap sebagian kecil lini produksi.

“Dua perusahaan ini memproduksi wiring harness. Wiring harness itu untuk kabel-kabel di mobil, semua kabel di mobil namanya wiring harness. Nah, dari 45 line produksi, hanya sekitar 3 sampai 5 line saja yang akhirnya dipindahkan ke Vietnam. Yang rencananya besar-besaran, 50 persen enggak jadi,” kata Said.

Menurut dia, hasil diskusi tersebut juga menghasilkan kepastian mengenai rencana bisnis perusahaan hingga 2030. Dalam periode itu, pengurangan jumlah pekerja disebut hanya akan dilakukan secara alamiah melalui berakhirnya masa kontrak kerja, bukan melalui PHK massal.

“Mereka menjelaskan business plan, rencana perusahaan sampai tahun 2030 di dua perusahaan ini, PT JAI Pasuruan dan PT SAI Mojokerto. Kalaulah terjadi perampingan jumlah karyawan sampai tahun 2030, itu lebih secara alamiah, yaitu karyawan-karyawan kontrak yang habis kontraknya maka mereka tidak memperpanjang kontraknya,” ujarnya.

Said menambahkan, perusahaan masih membuka peluang memperpanjang kontrak pekerja apabila permintaan pasar meningkat, terutama dari Grup Toyota dan perusahaan otomotif lainnya.

“Tetapi bila ada permintaan pasar yang meningkat, terutama di Grup Toyota, yang memesan itu biasanya Grup Toyota dan perusahaan-perusahaan mobil lainnya, maka bisa saja perpanjangan karyawan kontrak tetap dilakukan. Tapi sampai tahun 2030 jadi hanya pengurangan secara alamiah,” tutur Said.

“Ya, mungkin sekitar 20 persen sampai 30 persen itu akan berkurang sampai tahun 2030,” tambahnya.

Dia juga menyebut saat ini PT SAI mempekerjakan sekitar 4.300 pekerja, sedangkan PT JAI memiliki lebih dari 2.500 pekerja. Menurut Said, hasil mitigasi tersebut menunjukkan dialog antara manajemen dan serikat pekerja dapat menjadi salah satu cara untuk menekan potensi PHK di tengah tekanan industri.

Baca juga artikel terkait RELOKASI INDUSTRI atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Fadrik Aziz Firdausi