Menuju konten utama

Siasat Purbaya Lepas dari Kutukan Pertumbuhan Ekonomi 5%

Rerata pertumbuhan 5 persen, buat Indonesia menerima kutukan sebagai negara yang terjebak dalam pendapatan menengah (middle income trap).

Siasat Purbaya Lepas dari Kutukan Pertumbuhan Ekonomi 5%
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/9/2025). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/YU

tirto.id - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan, Indonesia tidak bisa menerima nasib dengan pertumbuhan ekonomi hanya di kisaran 5 persen. Sebab, rerata pertumbuhan itu, Indonesia bisa jadi akan menerima kutukan sebagai negara yang terjebak dalam pendapatan menengah (middle income trap) dan tidak bisa bertransformasi sebagai negara maju.

“Jadi, kalau kita menerima nasib dengan tumbuh 5 persen aja, ‘udah bagus itu, udah bagus’, ya kita dikutuk akan tetap berada di middle-income trap seperti ini. Seperti sekarang. Ya, kalau lagi senang, maju. Kalau agak susah dikit, misalnya lagi down ekonominya, agak susah lagi. Jadi, kita nggak akan pernah bisa makmur kalau begitu caranya,” ujarnya, dalam acara Acara Great Lecture: Transformasi Ekonomi Nasional: Pertumbuhan yang Inklusif Menuju 8 Persen, di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (11/9/2025).

Untuk menjadi negara maju, sebuah negara harus mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi, bahkan hingga dua digit dalam jangka waktu panjang. Seperti Jepang misalnya, kendati kini hanya memiliki pertumbuhan ekonomi di kisaran 0-1 persen, namun pada tahun 1960-an negara itu mampu mencapai pertumbuhan double digit dalam waktu lebih dari 10 tahun.

“Contoh yang lain, Cina sama juga. Double digit selama 10 tahun lebih. Makanya, Cina sekarang sudah mau menyaingi atau menyusul Amerika Serikat. Jadi, kalau kita mau menjadi negara maju, kita harus berani menuju, menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” tambah mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (DK LPS) itu.

Karenanya, ketika Presiden Prabowo Subianto membicarakan targetnya untuk mencapai pertumbuhan 8 persen di akhir masa kepemimpinannya, Purbaya mengaku senang mendengar optimisme itu. Kini, sebagai Menteri Keuangan baru yang menggantikan Sri Mulyani, dia mengaku tidak mudah memang bagi Indonesia untuk mencapai target tersebut.

Apalagi, pasca krisis multidimensi pada 1998, Indonesia seakan tidak bisa lari dari pertumbuhan 5 persen. Padahal, sebelum krisis terjadi, pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu menembus level 6-6,7 persen.

“Kita kejar. Nggak gampang, tapi mungkin,” tegas Purbaya.

Indonesia, bahkan memiliki senjata yang cukup besar: permintaan domestik yang terdiri dari konsumsi rumah tangga ditambah realisasi investasi. “Itu hampir 90 persen dari kekuatan ekonomi kita,” lanjutnya.

Kalau dua mesin ekonomi itu dapat dikelola dengan baik, tidak akan mustahil bagi Indonesia untuk mengerek pertumbuhan ekonomi menjadi lebih tinggi. Sayangnya, permintaan domestik sering kali diganggu oleh kebijakan pemerintah sendiri.

“Namun, sayangnya orang-orang kita sering lupa. Domestic demand-nya diganggu oleh kebijakan kita sendiri. Sehingga, ekonominya nggak bisa lari,” tukas Purbaya.

Baca juga artikel terkait MENTERI KEUANGAN PURBAYA YUDHI atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra