Menuju konten utama

Sesak di Muara Angke: Ribuan Kapal Terjebak Dermaga Overload

Nelayan Muara Angke keluhkan akses berlayar akibat dermaga overload 2.564 kapal.

Sesak di Muara Angke: Ribuan Kapal Terjebak Dermaga Overload
Kondisi ribuan kapal nelayan di Dermaga T Pelabuhan Muara Angke, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (29/1/2026). ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi

tirto.id - Di bawah langit Jakarta Utara yang tak menentu, nafas ekonomi para nelayan Muara Angke kini kian terhimpit. Bukan hanya soal badai di tengah laut, mereka kini harus berjuang melawan "daratan kayu" di rumah sendiri akibat 2.564 kapal yang berjejal di dermaga yang kapasitasnya tak sampai separuhnya.

Ruang gerak nelayan Muara Angke kian sempit, membuat akses mencari nafkah harus bertarung dengan ribuan lambung kapal yang parkir semrawut dan mangkrak bertahun-tahun.

Salah satu nelayan, Barda Wijaya (43), mengaku dirinya terpaksa meminggirkan kapal-kapal nelayan lain saat hendak berlayar untuk menjaring ikan. Dia mengeluh kesulitan akses berlayar imbas ribuan kapal yang bersandar di Dermaga T Pelabuhan Muara Angke.

"Kapal kan jalannya cuma maju sama mundur saja, kalau mau kita atur saja, kita mundurkan kapal. Ada kapal yang menghalangi digeser, lepas dulu tali pengikatnya" ujar Barda di pelabuhan tersebut, Kamis (29/1/2026) dikutip dari Antara.

Pria yang sudah sejak tahun 1998 menjadi nelayan ini tidak mempermasalahkan kondisi parkiran kapal yang semrawut selama ada komunikasi yang baik antarsesama nelayan.

"Kalau saya pribadi sih enggak terlalu berpengaruh, yang penting kan ada komunikasi saja. Jadi enak kan," katanya.

Barda mengungkapkan, permasalahan nelayan sebetulnya terkait cuaca seperti sekarang sedang tidak menentu. Hal itu sangat berpengaruh terhadap hasil tangkapan.

"Jadi kayak, misalnya, angin, kayak musim sekarang-sekarang ini, mah itu yang menjadi beban," ungkapnya.

Nelayan asli Pandeglang ini mengatakan, bulan Februari dan bulan Maret seharusnya menjadi momentum yang baik untuk menangkap ikan. Ia pun sangat menantikan momentum tersebut.

"Biasanya bulan ke dua atau ke tiga, Februari sampai Maret itu cuaca bagus, hasil tangkapan biasanya lebih banyak," katanya.

Barda merupakan nelayan yang biasa menangkap ikan teri dan sejenisnya di perairan Kepulauan Seribu. Jika cuaca sedang baik, ia biasanya bisa dua kali berlayar dalam sehari.

Dia dan sesama nelayan lain di kapalnya itu bisa menghasilkan hingga dua ton ikan teri yang bercampur dengan ikan lainnya seperti ikan kembung dalam sekali berlayar jika cuaca baik.

"Tapi kalau cuaca lagi enggak bagus, pernah juga cuma dapat 25 kilogram ikan teri. Kalau cuma dapat 25 kilogram kan jadi enggak dapat apa-apa," tutur dia.

Barda menyampaikan, selama dirinya menjadi nelayan, uang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Ia mengaku paling besar mendapatkan keuntungan bersih hingga Rp300 ribu per hari.

"Itu kalau lagi tangkapannya banyak, tapi kalau lagi biasa aja ya paling cuma Rp100 ribu," katanya.

Harapan Dermaga Khusus dan Solusi BBM Nelayan

kapal nelayan di Muara Angke

Kondisi parkiran kapal yang 'overload' (jenuh) di Pelabuhan Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (29/1/2026). ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi

Rama, penjaga pangkalan atau parkiran kapal nelayan di Dermaga T Pelabuhan Muara Angke, mengaku banyak kapal yang tidak lagi beroperasi namun bersandar di antara kapal-kapal nelayan yang aktif sehingga menyulitkan akses berlayar.

"Jadi banyak kapal yang memang tidak beroperasi, tapi malah di tempat sandaran kapal yang beroperasi," ujar Rama di pelabuhan tersebut pada Kamis, dikutip dari Antara.

Menurut Rama, terdapat setidaknya 300 kapal nelayan nonaktif yang bersandar di Dermaga T Pelabuhan Muara Angke.

"Kalau kapal nelayan jumlahnya sekitar 2.500 kapal, yang tidak beroperasi 300 lebih kapal mah ada, lebih kurang ya," kata dia.

Rama menilai, seharusnya ada lokasi atau tempat khusus untuk kapal-kapal yang tidak lagi beroperasi.

"Jadi kapal yang beroperasi ada tempatnya, kapal yang mangkrak itu ada tempatnya. Kayak yang di sebelah sini kan banyak kapal mati, itu kan sudah tidak beroperasi bertahun-tahun," ungkap dia.

Rama juga menyoroti terkait keberadaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) subsidi untuk kapal-kapal nelayan yang disebut hanya ada satu titik, yakni di Muara Angke.

"Karena cuma ada satu doang pom subsidi di Muara Angke. Nelayan kalau mau isi bahan bakar harus mengantre lama, kalau pas ngisinya mah cepat," katanya.

Tokoh masyarakat nelayan Muara Angke, James Willing, mengatakan dirinya sudah melaporkan keluhan itu ke pihak terkait.

"Ya tapi enggak pernah didengarkan, padahal udah dari bulan-bulan kemarin kami sudah memberitahukan bahwasanya kapal sudah begitu banyak," katanya.

Menurut James, salah satu kekhawatiran yang terjadi ketika banyak kapal-kapal nelayan yang bersandar, yakni tidak terawasi. Di sisi lain, potensi risiko terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan juga tinggi.

"Yang dikhawatirkan itu mengenai masalah kebakaran ya, kemarin saja dari Muara Baru ada kebakaran. Apalagi kalau menumpuk terlalu banyak," katanya.

James berharap pemerintah memperhatikan soal masalah kapal-kapal yang banyak bersandar di Dermaga T Pelabuhan Muara Angke, khususnya kapal yang tidak beroperasi (mangkrak) atau nonaktif.

Langkah Polisi Tertibkan Overload di Muara Angke

kapal nelayan di Muara Angke

Kondisi semrawut parkiran ribuan kapal di Dermaga T Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara, Kamis (29/1/2026). ANTARA/Risky Syukur

Polres Pelabuhan Tanjung Priok melakukan penertiban terhadap tempat parkir kapal yang overload (penuh) di Pelabuhan Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara.

“Upaya penertiban dilakukan setiap hari agar mobilitas kapal tetap berjalan dan situasi kamtibmas tetap kondusif,” ungkap Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok, AKBP Aris Wibowo, di Jakarta, Kamis dikutip dari Antara.

Aris menyebutkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Unit Pengelola Pelabuhan Perikanan (UPPP) Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP) DKI Jakarta terkait masalah padatnya parkiran kapal tersebut.

Menurut hasil koordinasi, saat ini kolam Pelabuhan Muara Angke memiliki luas sekitar 1.200 meter persegi dengan kapasitas ideal sekitar 1.000 unit kapal. "Namun, fakta di lapangan jumlah kapal yang bersandar telah mencapai 2.564 unit," ujar Aris.

Ketimpangan itu membuat kondisi dermaga overload dan menghambat olah gerak kapal.

Permasalahan utama yang sangat dirasakan para pengusaha kapal ikan adalah kepadatan kapal yang jauh melebihi kapasitas kolam pelabuhan.

Selain itu, kata Aris, antrean pengisian BBM di SPBU Muara Angke turut memperparah situasi. Saat ini, SPBU hanya mampu melayani sekitar enam hingga delapan kapal per hari, menurun dari sebelumnya yang bisa melayani 12 hingga 14 kapal per hari.

"Tapi ketersediaan kuota BBM dipastikan tidak menjadi kendala," ujar dia.

Di Pelabuhan Muara Angke terdapat dua fasilitas pengisian BBM, yakni SPBU di Jalan Pendaratan Udang Dermaga Muara Angke dengan kuota 60.000 kiloliter (KL) per tahun serta SPBB Bintang Muara Jaya dengan kuota 7.000 KL per tahun.

Selain kepadatan kapal, terdapat sejumlah faktor lain yang menyebabkan banyak kapal tidak beroperasi, antara lain permintaan relaksasi aturan Vessel Monitoring System (VMS) bagi kapal di atas 30 GT, kondisi cuaca buruk.

Kemudian kapal yang tidak beroperasi selama lebih dari tiga tahun namun masih bersandar di kolam dermaga serta aktivitas perbaikan kapal yang tidak pada tempatnya.

Aris menuturkan bahwa proses penerbitan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) juga masih menjadi kendala meskipun sekitar 90 persen SIPI di wilayah Muara Angke telah diterbitkan.

Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Muara Angke, Aiptu Setiyono, juga memberikan imbauan kepada para anak buah kapal (ABK) agar segera meninggalkan kolam dermaga setelah pengisian BBM selesai.

Sementara itu, Unit Intelkam Polsek Kawasan Sunda Kelapa terus melakukan pengawasan untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan.

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan permasalahan kepadatan kapal di Pelabuhan Muara Angke dapat segera terurai dan aktivitas pelayaran nelayan kembali berjalan normal.

Baca juga artikel terkait NELAYAN MUARA ANGKE

tirto.id - Insider
Sumber: Antara
Editor: Siti Fatimah