Serapah Politikus: Agresif dan Tidak Intim

Oleh: Husein Abdulsalam - 3 April 2018
Dibaca Normal 2 menit
Kata-kata serapah yang dilontarkan pejabat atau politisi kerap menimbulkan persoalan karena dinilai tidak sopan. Dalam konteks tertentu, penggunaan serapah justru menunjukkan keakraban.
tirto.id - Sejumlah politisi atau pejabat publik kerap mengungkapkan kata-kata serapah kepada seseorang, kelompok orang, atau lembaga pemerintah saat berbicara. Tidak jarang pernyataan tersebut disitir media dan kemudian menjadi viral.

Salah satu sosok yang jamak dikaitkan dengan hal itu adalah Basuki Tjahaja Purnama. Menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta, pada 2014 laki-laki yang akrab disapa Ahok tersebut mengaku kesal terhadap para pejabat Pemerintah DKI Jakarta yang melakukan praktik jual-beli rusun.

"Saya sudah betul-betul muak dengan kemunafikan. Pejabat-pejabat DKI ini luar biasa santun sekali kalau ngomong sama saya, tetapi ternyata mereka bajingan semua," sebut Ahok, seperti dilansir Kompas.

Belakangan, Ahok dikritik atas sikapnya tersebut. Semasa mencalonkan diri sebagai gubernur di Pilkada DKI Jakarta 2017, Ahok pun mengatakan tidak akan mengatakan kata-kata serapah lagi.


Ahok bukan satu-satunya pejabat atau politisi yang bersinggungan dengan serapah dan kata-kata kasar. Dalam sepekan terakhir, dua politisi mendapat perhatian lebih karena melontarkan ungkapan serapah.

Ketua DPP PDIP Arteria Dahlan menyematkan kata "bangsat" kepada Kementerian Agama (Kemenag) saat membahas agen perjalanan umrah bodong dengan Kejaksaan Agung pada Rabu (28/3/2018).

"Yang dicari jangan kayak tadi. Bapak lakukan inventarisasi, pencegahannya, Pak. Ini Kementerian Agama bangsat, Pak, semuanya, Pak!"

Menurutnya, ucapan itu sudah sempat dia sampaikan langsung kepada Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Arteria mengaku kecewa dengan kinerja Kemenag menangani kasus penipuan yang dilakukan agen perjalanan umrah nakal.

Sementara itu, yang paling mutakhir adalah ucapan Prabowo Subianto. Pada Sabtu (31/3/2018), Ketua Umum Partai Gerindra tersebut memulai pidatonya dengan mempertanyakan kondisi ekonomi rakyat Indonesia yang tak kunjung membaik. Menurutnya, hal itu berbanding terbalik dengan kekayaan alam Indonesia.

“Jangan-jangan karena elite kita yang goblok atau menurut saya campuran itu. Sudah serakah, mental maling, kemudian hatinya sudah beku. Tidak setia pada rakyat, hanya ingin kaya di atas penderitaan rakyat,” kata Prabowo.


Serapah, yang Agresif dan yang Intim

Anna-Brita Stensröm dalam Trends in Teenage Talk: Corpus Compilation, Analysis and Findings (2002) membedakan ungkapan serapah menjadi dua jenis berdasarkan sifatnya. Pertama, ungkapan serapah yang bersifat agresif atau mencerminkan emosi penutur. Kedua, ungkapan serapah yang bersifat sosial atau memperintim hubungan antar-peserta komunikasi. Stensröm pun menganalisis ada tiga fungsi ungkapan serapah, yakni sebagai penekan, penyerang, dan pengutuk.

Berdasarkan sifat, ungkapan tiga politisi di atas dapat digolongkan jenis yang pertama. Sedangkan berdasarkan fungsi, mereka digunakan sebagai penyerang.

Sementara itu, dalam bab "Ilfil Gue Sama Elu! Sebuah Tinjauan atas Ungkapan Serapah dalam Bahasa Gaul Mutakhir" yang terdapat di buku Geliat Bahasa Selaras Zaman (2010), Untung Yuwono meneliti penggunaan kata serapah dalam bahasa gaul yang berkembang pesat setelah Reformasi 1998. Salah satu ciri bahasa gaul adalah kekayaan ungkapan serapah.


Dalam bab tersebut, Yuwono menyebutkan bahwa bentuk-bentuk "bajingan", "gila", dan "brengsek" dapat dikatakan sebagai ungkapan serapah yang mendominasi novel-novel yang terbit pada 1970-an.

"Tingginya produktivitas pemakaian bentuk-bentuk ungkapan serapah itu membuat pakar bahasa memuat bentuk-bentuk itu dalam kamus bahasa Indonesia dan buku-buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia edisi I, 1988," sebut Yuwono.

Yuwono pun membagi kata-kata serapah dalam beberapa klasifikasi. Hasilnya, ada ungkapan serapah yang diambil dari hewan yang dekat dengan kehidupan manusia, misalnya anjing, babi, kampret, bangsat, monyet, hingga kuda. Ada pula ungkapan serapah yang diambil dari sifat-sifat manusia, seperti gila, goblok, tolol, lucu, bego, dan konyol.


Infografik serapah

Yang Kotor Bukan Berarti Tidak Baik

Namun, Stensröm juga mengungkapkan pandangan lain mengenai ungkapan serapah. Menurutnya, tidak ada kata yang tidak baik. Sebuah kata dipandang tidak baik hanya di mata masyarakat yang menilainya. Menurutnya, ungkapan serapah yang tidak baik adalah ungkapan serapah yang tidak pada tempatnya dilontarkan.

Ahok adalah contoh yang paling menggambarkan hal itu. Bagi dia, menyertai ungkapan serapah dalam pembicaraan adalah hal yang biasa di kampung halamannya, Belitung Timur—termasuk dalam ranah komunikasi pejabat dan warga. Namun, Ahok mengakui bahwa mengungkapkan serapah di wilayah DKI Jakarta tidak tepat.

"Kemarin (saya) pulang (ke Belitung Timur) ada ibu-ibu Bugis biasa tinggal di pulau sekarang pindah di darat. Dia dengan bangga panggil saya gini, 'Pak Ahok saya sekarang sudah tinggal di darat, saya tinggal di Jalan GTB'," ungkap Ahok, seperti dilansir Kompas.

"Seingat saya waktu jadi bupati enggak ada jalan itu. 'Oh terusan dari jalan GTA, Pak', kata dia. Saya ngerti, 'Ibu tahu enggak GTA itu singkatan dari Gang Tai Asu?' Dia kaget, tanya kalau gitu GTB apa, saya bilang mungkin Gang Tai Babi," tambah Ahok.

Baca juga artikel terkait PIDATO PRABOWO atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Politik)

Reporter: Husein Abdulsalam
Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Ivan Aulia Ahsan