8 Oktober 1939

Serangan Jerman ke Polandia dan Pemberontakan Yahudi di Warsawa

Ilustrasi Mozaik Jerman Polandia. tirto.id/Sabit
Oleh: Petrik Matanasi - 8 Oktober 2020
Dibaca Normal 3 menit
Pada awal 1943, orang-orang Yahudi mulai melawan Tentara Jerman di Polandia. Tentu saja dengan risiko sangat besar.
“Pada 31 Agustus 1939, semua orang di Warsawa yakin bahwa perang melawan tentara-tentara Jerman tak terelakkan lagi,” Wladyslaw Szpilman menuliskan kalimat itu dalam bukunya The Pianist (2005). Nyatanya, tak hanya perang yang tak terelakkan, tapi juga pendudukan Jerman atas kota mereka pada 8 Oktober 1939, tepat hari ini 81 tahun lalu.

Jelang pendudukan Jerman, ketika pertahanan Polandia makin berantakan dan hancur, Szpilman muda sudah terkenal sebagai pemain piano di Warsawa. “Pada hari terakhir di stasiun radio itu, aku memainkan resital Chopin. Inilah siaran musik langsung terakhir dari Warsawa. Bom-bom berjatuhan di dekat stasiun radio secara terus menerus selama aku bermain dan bangun-bangunan di dekat tempat kami terbakar,” ungkapnya.

Film The Pianist (2005), yang disutradarai Roman Polanski dan diperankan Adrian Brodie, menggambarkan dengan baik bagaimana Wladyslaw sedang bermain piano di sebuah radio ketika sebuah peluru meriam mengenai gedung tempatnya bermain.

Hidup baru pun dimulai, terutama untuk orang-orang Yahudi macam Szpilman. Nasab dan ras yang dimilikinya membawa ia ke sebuah kampung khusus orang Yahudi yang disebut ghetto. Tentu bersama orangtua dan saudara-saudarinya. Keluarga Szpilman kemudian tercerai-berai. Mereka semua hidup sebagai kuli-kuli macam romusha. Di masa itu, ada segelintir juga orang-orang Yahudi yang rela jadi kaki tangan tentara Jerman. Mereka kadang disebut sebagai Polisi Biru.

Wladyslaw Szpilman, bersama laki-laki Yahudi lain yang menjalani kerja paksa, akhirnya menjadi saksi sekaligus pelaku sebuah gerakan rahasia. Kondisi terjepit membuat mereka nekad mematahkan mitos bahwa orang Yahudi pecundang malang sejak diusir dari tanah leluhur mereka ribuan tahun silam. Selama ribuan tahun pembuangan dan terlunta-lunta itu mereka tak pernah melawan dalam sebuah perang atau pemberontakan.

Orang-orang Yahudi lebih asyik bergiat di bidang perekonomian, ilmu pengetahuan atau kebudayaan. Pemberontakan baru terukir dalam sejarah di Warsawa—dan Szpilman ada di sana—setelah mereka mendapat penggalan berita kekalahan tentara Jerman di beberapa front awal 1943.


“Semakin mengumpullah optimisme di tangan dan kami menyambutnya dengan riang gembira serta makin kuatlah keyakinan kami bahwa perang akan segera berakhir...seiring dengan santernya berita-berita politik yang menggembirakan, gerakan-gerakan bawah tanah di ghetto meningkatkan aktivitas-aktivitas mereka. Tak terkecuali kelompokku. Majorek, yang setiap hari mengirim berkarung-karung kentang untuk kelompok kami dari kota, menyelundupkan amunisi di bawah tumpukan kentang tersebut. Kami membagi, memasukan ke dalam celana-celana panjang kami, dan membawanya ke dalam ghetto. Ini sebuah aktivitas yang berisiko,” tulis Szpilman.

Senjata-senjata yang mereka selundupkan adalah senjata-senjata kecil, agar lebih mudah disembunyikan.

Di masa-masa penuh kesibukan di kalangan orang Yahudi, tentara Jerman terus mengawasi. Bahkan Szpilman dan Majorek nyaris ketahuan. Biasanya, jika ketahuan akibatnya fatal. Tentara Nazi Jerman tak segan membunuh orang Yahudi. Orang-orang Yahudi itu yakin, melawan atau tidak pada tentara Jerman, peluang mereka untuk mati nyaris sama besarnya.

Akhirnya pemberontakan Yahudi pertama terhadap Jerman pun meletus pada 18 Januari 1943. Hari itu, tentara Jerman sedang mengumpulkan paksa penghuni-penghuni ghetto untuk diusir ke area lain. Tentu saja mereka terkejut karena adanya perlawanan dari kombatan Yahudi yang rata-rata bertubuh kurus. Menurut Nechama Tec dalam Resistance: Jews and Christians Who Defied the Nazi Terror (2013), pemberontakan orang-orang ini adalah kejutan bagi militer Jerman di sana.

Orang-orang Yahudi kombatan itu tergabung dalam Żydowska Organizacja Bojowa (ZOB) alias organisasi tempur atau kombatan Yahudi. Militer Jerman yang marah lalu membantai orang-orang Yahudi. Meski demikian, perlawanan terus berjalan meski sempat dipadamkan.

Mereka merancang lagi pemberontakan yang lebih dahsyat lagi pada 19 April 1943. Militer Jerman mengerahkan pasukan Schutz Staffel (SS) pimpinan Jenderal Juergen Stroop. Untuk membersihkannya butuh waktu sebulan. Menurut John Guttman dalam World War II: Warsaw Ghetto Uprising dalam World War II Magazine (2000), dalam pembersihan bulan Mei 1943, 13 ribu Yahudi terbunuh. Setengahnya dibakar hidup-hidup.

Orang-orang Yahudi yang memberontak itu digempur tentara Jerman sampai berantakan sehingga dengan mudah dibubarkan. Namun, tak semuanya berhasil dibunuh tentara Jerman. Banyak yang bertahan dan bergerilya dalam Home Army alias pasukan perlawanan bawah tanah Polandia.




Pemberontakan yang melibatkan orang-orang Yahudi pun terjadi lagi setelah Mei 1943. Ketika itu, dari arah timur Tentara Merah Uni Soviet terus menggempur posisi Jerman yang makin terjepit setelah dipukul dari Stalingrad. Jika Tentara Merah menggempur dari luar, maka organisasi perlawanan macam ZOB melemahkan Jerman dari dalam wilayah pendudukan.

Yitzhak Zuckerman adalah salah satu dari pemberontak Yahudi yang terus bergerilya hingga perang selesai bersama Home Army. Dia dianggap sebagai pemimpin pemberontak Yahudi di Warsawa. Setelah pemberontakan, Yitzak Zuckerman jadi makin berhati-hati terhadap orang Yahudi.

“Tidak ada polisi 'baik' di sini karena orang yang baik menanggalkan seragam dan menjadi Yahudi yang sederhana,” katanya dalam A Surplus of Memory: Chronicle of the Warsaw Ghetto Uprising (1993). Mereka berpeluang membocorkan rencana dan posisi pemberontak Yahudi itu.

Kota Warsawa makin hancur lagi oleh bom-bom pemberontak atau peluru meriam tentara Jerman. Szpilman sendiri kemudian kabur tak kembali ke ghetto. Dia berpindah dari satu reruntuhan gedung ke reruntuhan gedung lainnya. Film The Pianist menggambarkan Szpilman bertemu dengan seorang Kapten Tentara Jerman Wilm Hosenfeld, yang memperbolehkannya bermain piano serta kemudian menyelamatkannya dari keganasan serdadu Jerman, kelaparan, dan udara dingin.

Kematian adalah hal yang dekat dengan Yahudi Eropa di masa jika bertemu serdadu Jerman. Sampai kemudian Tentara Merah Uni Soviet menerobos dari timur, Amerika-Inggris serta sekutu lainnya dari arah barat, hingga perang pun akhirnya usai.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 19 Januari 2017. Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait YAHUDI atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight