tirto.id - Pengamat ekonomi energi Universitas Padjajaran (Unpad) Yayan Satyakti menilai, konflik Amerika Serikat (AS) dengan Venezuela berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Pasalnya, penguasaan Venezuela, termasuk sumber daya minyaknya, akan membuat AS menjadi kian menarik bagi tujuan investasi global. Imbasnya, permintaan dolar meningkat dan akan melemahkan permintaan mata uang negara-negara lain.
"Itu sangat berdampak terhadap aktivitas ekonomi dunia. Jadi, kalau misalkan Amerika menguat ya, berarti permintaan terhadap dolar menguat," ucap Yayan saat dihubungi, Senin (5/1/2026).
Sebagai informasi, pada perdagangan sore ini (5/1/2026), mata uang rupiah ditutup melemah 15 poin atau sekitara 0,09 persen ke level Rp.16.740 dari penutupan sebelumnya di level Rp.16.725.
Meski demikian, ia melihat adanya peluang positif dari serangan AS ke Venezuela terhadap Indonesia. Salah satunya, penurunan harga minyak global yang dapat meringankan neraca dagang RI sebagai net importir minyak.
Kondisi ini juga dapat menurunkan harga BBM dalam negeri yang berimbas pada berkurangnya beban fiskal untuk subsidi energi. PT Pertamina, selaku pemain utama BBM dalam negeri, juga memiliki peluang mendapatkan harga minyak lebih murah dari AS, yang rata-rata produknya sesuai dengan kebutuhan kilang-kilang minyak RI yang rendah sulfur.
"Minyak impor dari Amerika Serikat yang mudah-mudahan harganya bisa kompetitif ya dibandingkan dengan harga [minyak] dari Timur Tengah, ya walaupun memang secara harga itu memang beda," urai Yayan.
"Nah, tetapi mungkin dari sisi biaya refinery, itu lebih murah karena kan low sulfur, biaya transportasinya lebih murah karena lebih ringan ya kalau misalkan low sulfur," lanjut dia.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































