Menuju konten utama

Serangan AS ke Venezuela Dinilai Bisa Pukul Nilai Tukar Rupiah

Meski rupiah akan mengalami tekanan, koreksi harga minyak dunia imbas serangan AS ke Venezuela bisa menguntungkan Indonesia.

Serangan AS ke Venezuela Dinilai Bisa Pukul Nilai Tukar Rupiah
Petugas menunjukkan uang rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Senin (27/10/2025). Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50 persen sebagai upaya mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah yang sesuai dengan fundamental di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi serta sinergi untuk turut memperkuat pertumbuhan ekonomi. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pengamat ekonomi energi Universitas Padjajaran (Unpad) Yayan Satyakti menilai, konflik Amerika Serikat (AS) dengan Venezuela berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Pasalnya, penguasaan Venezuela, termasuk sumber daya minyaknya, akan membuat AS menjadi kian menarik bagi tujuan investasi global. Imbasnya, permintaan dolar meningkat dan akan melemahkan permintaan mata uang negara-negara lain.

"Itu sangat berdampak terhadap aktivitas ekonomi dunia. Jadi, kalau misalkan Amerika menguat ya, berarti permintaan terhadap dolar menguat," ucap Yayan saat dihubungi, Senin (5/1/2026).

Sebagai informasi, pada perdagangan sore ini (5/1/2026), mata uang rupiah ditutup melemah 15 poin atau sekitara 0,09 persen ke level Rp.16.740 dari penutupan sebelumnya di level Rp.16.725.

Meski demikian, ia melihat adanya peluang positif dari serangan AS ke Venezuela terhadap Indonesia. Salah satunya, penurunan harga minyak global yang dapat meringankan neraca dagang RI sebagai net importir minyak.

Kondisi ini juga dapat menurunkan harga BBM dalam negeri yang berimbas pada berkurangnya beban fiskal untuk subsidi energi. PT Pertamina, selaku pemain utama BBM dalam negeri, juga memiliki peluang mendapatkan harga minyak lebih murah dari AS, yang rata-rata produknya sesuai dengan kebutuhan kilang-kilang minyak RI yang rendah sulfur.

"Minyak impor dari Amerika Serikat yang mudah-mudahan harganya bisa kompetitif ya dibandingkan dengan harga [minyak] dari Timur Tengah, ya walaupun memang secara harga itu memang beda," urai Yayan.

"Nah, tetapi mungkin dari sisi biaya refinery, itu lebih murah karena kan low sulfur, biaya transportasinya lebih murah karena lebih ringan ya kalau misalkan low sulfur," lanjut dia.

Baca juga artikel terkait US VS VENEZUELA atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana