tirto.id - Selayang pandang kisah ziarah Pondok Pesantren (PP) An-Nawawi Purworejo 2025 berlangsung selama 4 hari di 4 Provinsi pada Jumat-Senin, 12-15 Desember 2025. Lokasi awal bermula di makam guru Pangeran Diponegoro hingga Jayakarta.
An-Nawawi menyelenggarakan ziarah dengan mengunjungi sejumlah lokasi makam yang tersebar di Jateng, Jakarta, Banten, hingga Jawa Barat (Jabar).
Tidak hanya para pengikut tarekat Qadiriyah PP An-Nawawi Purworejo, perjalanan ini juga disertai para santri dan masyarakat umum. Ziarah 4 hari 4 provinsi ala An-Nawawi Purworejo dimulai di Magelang dan berakhir hingga Tasikmalaya.
Apa saja hal menarik untuk disimak selama ziarah ratusan kilometer dengan mengelilingi hampir separuh lebih Pulau Jawa ini?
Guru Pangeran Diponegoro
Perjalanan dimulai pada hari Jumat, 12 Desember 2025, pukul 15.00 WIB. Setidaknya terdapat sekitar 17 bus dengan jumlah peserta nyaris 1.000 orang.
Performa panitia tentunya layak diacungi jempol lantaran mampu tampil OK dan prima. Berada di bus nomor 11, suasana awalnya cukup meriah. Isi rombongan adalah para pengikut tarekat Qadiriyah dan masyarakat umum.
Yang cukup menarik, mayoritas peserta termasuk Baby Boomers hingga Gen X dengan usia rentang 50-60 tahun. Kursi belakang bus diisi sederet santri Gen Z: Ulfatun Nabila dan kawan-kawan yang nantinya sempat bersenandung dengan suara fals selama perjalanan pulang.
Semangat membara mengiringi perjalanan. Tak banyak kata-kata yang diungkapkan selain doa-doa yang dipimpin KH. Sugeng Nur Shodik dengan didampingi Kiai Ridho Amin.
Sampai pada tujuan pertama, yakni makam Mbah KH. Nur Muhammad. Lokasinya di Ngadiwongso, Salaman, Magelang.
Konon, KH. Nur Muhammad adalah guru Pangeran Diponegoro. Sedangkan Pangeran Diponegoro sendiri katanya pernah menjadi seorang mursyid tarekat Qadiriyah.
Ziarah di makam guru Pangeran Diponegoro diisi bacaan tahlil dan doa-doa. Peserta turut dipersilahkan memanjatkan doa privasi kepada Allah Swt.
Suasana sudah hampir senja. Perjalanan dilanjutkan menuju makam KH. Siraj Abdurrasyid atau dikenal sebagai Mbah Siraj Payaman. Letaknya memang di Payaman, Magelang.

Aksi KH. Siraj saat Merapi Meletus
Malam hari penuh kendaraan melintas di jalan raya arah Magelang-Temanggung. Dahulu, KH. Siraj ikut serta berjuang melawan penjajah.
Pengarang Erang-Erang Sekar Panjang dan Tafsir Yasin itu pernah membuat heboh pemerintah kolonial Hindia Belanda era 1930-an.
Gunung Merapi meletus. KH. Siraj menyarankan agar segera menggelar acara "Khataman Kitab Shahih Bukhari". Erupsi Merapi seketika langsung berhenti.
Tak ayal, Belanda akhirnya memberikan sebuah gelar unik, yakni Rama Agung.
Selepas dari makam KH. Siraj, perjalanan menuju makam Kiai Abdullah Taqwim alias Ki Ageng Makukuhan di Kedu, Temanggung.
Hawa dingin malam hari cukup menusuk kulit. Perlu jalan kaki sekitar 1 km menuju lokasi. Selanjutnya naik bukit.
Kendati suasana malam sangat dingin, para peserta ziarah seolah tak kenal kata lelah dalam menelusuri jalanan pinggir sungai. Suara tahlil hingga doa-doa mengiringi kondisi di atas bukit.
Murid Sunan Kalijaga Keturunan Cina
Kisah Ki Ageng Makukuhan tidak bisa dilepaskan dari era Wali Songo. Ia dikenang sebagai murid Sunan Kalijaga yang diperintah untuk menyebarkan Islam di wilayah Sabuk Gunung: Sumbing, Sindoro, dan Prau.
Ia disebut-sebut termasuk keturunan Cina dan mempunyai nama asli Ma Kuw Kwan, selain berstatus sebagai murid Sunan Kudus.
Waktu seolah tidak mau diajak berhenti. Perjalanan kembali dilanjutkan menuju utara Pulau Jawa: Pekalongan. Kali ini, lokasi yang disasar adalah makam Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Aththas.
Sebelum datangnya subuh, bacaan tahlil dan doa-doa kembali dikumandangkan dengan diiringi gerimis hujan.
Lagi-lagi, para peserta yang didominasi usia setengah abad lebih itu tidak mengenal kosa kata lelah. Meski seharusnya tidur enak di kasur empuk, semangat tinggi justru tetap saja menyertai.
Habib Ahmad Anti Tinggalkan Tahajud
Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Athas lahir di kota Hajren, Hadramaut, Yaman, tahun 1255 H.
Berkat anjuran sang guru, As-Sayyid Al-Allamah Ahmad bin Zaini Dahlan, Habib Ahmad memulai dakwah di Makkah hingga tiba di Indonesia.
Semasa hidup, Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Athas konon tidak pernah meninggalkan tahajud sembari membaca satu juz Al-Qur'an.
Pagi hari yang terang, memasuki hari kedua, Sabtu, 13 Desember 2025, ritual ziarah berlanjut lagi.
Tak ada kesempatan tidur nyenyak selayaknya di kamar, kecuali waktu di dalam bus yang bisa digunakan untuk memejamkan mata sejenak.
Selama perjalanan sehari, lagi-lagi panitia menunjukkan taji. Tak perlu banyak personel, sedikit arahan saja sudah mampu menggerakkan ratusan peserta guna memasuki kendaraan masing-masing hingga mengikuti petunjuk selanjutnya.
Mbah Dim yang Rendah Hati Tak Perlu Juru Kunci
Dengan jarak yang tidak terlalu jauh, rombongan tiba di makam KH. Dimyati Nasir, Comal, Pemalang.
Peserta perlu menyisiri jalan raya Pantura yang dahulu terkenal ramai sebelum datangnya era Tol Jawa.
Dalam sebuah jurnal kajian manajemen dakwah yang berjudul "Religious Education in the Tomb of Scholars" ditulis oleh Faidatul Amalia, Nur Laeli Nafisah, dan Ahmad Hidayatullah (Universitas Islam Negeri K.H. Abdurahman Wahid Pekalongan) tahun 2022, Mbah Dim dikenal sebagai sosok yang rendah hati. Pribadinya dilengkapi jiwa sosial hingga kepedulian yang tinggi.
"Mbah Dimyathi adalah seorang ulama yang berjiwa sosial, sehingga makamnya pun tidak ada juru kunci jadi siapapun boleh berziarah ke makam beliau, serta tujuan masyarakat berziarah ke makam Mbah Dimyathi adalah untuk bertawassul atau menjalin hubungan dengan beliau secara tidak langsung," ujar KH. Muhaimin, cucu Mbah Dim.
Sunan Amangkurat Agung: Putra Mahkota Sultan Agung
Siang hari yang tidak terlalu panas, perjalanan terus melaju menuju arah barat: Tegal.
Di sini terdapat makam Sunan Amangkurat Agung. Ada yang menyebut sebagai Susuhunan Amangkurat I, Sunan Tegalwangi, hingga Sunan Amangkurat Tegalarum. Lokasinya di Dusun Pakuncen, Desa Pasarean, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal.
Sunan Amangkurat Agung adalah seorang Raja Mataram Islam ke-4 yang naik tahta pada 1646-1677. Ia putra mahkota Sultan Agung dengan nama lahir Raden Mas Sayyidin.
Kembali lantunan bacaan tahlil dan doa-doa dikumandangkan di lokasi yang sedikit berada di ketinggian selayaknya Piramida di Mesir. Peserta pun duduk bersila di selasar makam, dari atas hingga bawah.
Sunan Gunung Jati Pendiri Kesultanan Cirebon
Siang hari, rombongan belasan bus bercorak biru melaju kencang menuju arah Cirebon. Yang dicari adalah makam Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati.
Tepat di depan tempat parkir yang luas, menjulang tinggi bangunan masjid megah yang diresmikan oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) saat itu, Dudung Abdurachman. Namanya Masjid Syarif Abdurachman.
Perlu jalan kaki sekitar 1 kilometer untuk menuju lokasi makam yang bernuansa Islami. Dindingnya ditempeli piring-piring kuno dengan hiasan menarik serta tulisan Arab selayaknya doa.
Sunan Gunung Jati alias Sunan Syarif Hidayatullah adalah pendiri Kesultanan Cirebon. Nama lainnya Muhammad Nuruddin, Syekh Nurullah, Sayyid Kamil, Bulkiyyah, Syekh Madzukurullah, hingga Makdum Jati.
Meskipun dikenal gencar berdakwah di Pulau Jawa, khususnya Cirebon, Sunan Gunung Jati justru gagal mengajak kakeknya, Prabu Siliwangi, untuk memeluk Islam.
Dengan kondisi yang cukup panas di dalam makam, hal ini tak menghalangi peserta guna melantunkan kalimat tahlil dan doa dengan khusyuk.
Cut Nyak Dhien: Pahlawan Nasional Aceh yang Dibuang di Sumedang
Menjelang senja, laju belasan bus menuju ke Sumedang, lokasi makam Cut Nyak Dhien. Tiba malam hari, peserta menyusuri tengah-tengah pemakaman kampung.
Lokasi makam Cut Nyak Dhien berada di paling pojok atas. Sang pahlawan nasional itu adalah pejuang perempuan asal Aceh.
Suaminya, Teuku Cek Ibrahim Lamnga, meninggal dalam sebuah pertempuran dahsyat melawan Belanda. Meskipun demikian, perjuangan tetap berlanjut. Cut Nyak Dhien lalu menikah lagi dengan Teuku Umar.
Cut Nyak Dhien ditangkap pada tahun 1901 dan dibuang ke Sumedang, Jawa Barat, hingga wafat 6 November 1908.
Tengah malam menyusuri makam yang berada di ketinggian. Peserta memasuki bus masing-masing guna melanjutkan perjalanan cukup jauh menuju Serang, Banten.
Setidaknya, masih ada waktu sejenak untuk memejamkan mata di malam hari yang cukup sunyi.

Sultan Maulana Hasanuddin & Maulana Yusuf: Raja Banten 1-2
Di Serang, Banten, terdapat dua lokasi yang dituju, yakni makam Maulana Yusuf dan Sultan Maulana Hasanuddin.
Menurut Portal Resmi Kabupaten Serang, Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati, diangkat menjadi Raja/Sultan Banten pertama dan berkuasa sekitar 18 tahun (1552-1570 M).
Usai wafat, Sultan Maulana Hasanuddin sang pendiri Kesultanan Banten, akhirnya digantikan oleh putranya, Maulana Yusuf alias Raja Banten yang kedua (1570-1580 M).
Lokasi pertama yang dituju adalah makam Maulana Yusuf. Dini hari, Minggu, 14 Desember 2025, rombongan ziarah berjalan memasuki bangunan makam yang cukup besar. Lantunan doa dipanjatkan dengan khusyuk disertai bacaan khusus.
Tak butuh waktu lama di lokasi makam Maulana Yusuf, ritual berlanjut menuju tempat Maulana Hasanudin yang berada di komplek Masjid Agung Banten, Serang.
Nama lainnya Pangeran Sabakingking. Kesultanan Banten didirikan pada 1527 usai merebut wilayah Banten Girang dari Pucuk Umun.
Selepas subuh tanpa perlu tidur, peserta mulai memasuki lokasi makam yang tepat berada di sebelah Masjid Agung Banten.
Melalui perjuangan keras menahan kantuk, bacaan tahlil dan doa berhasil diikuti sampai selesai hingga menuju pagi hari yang cerah disertai gerimis air hujan.
Tanah Kusir dan Istiqlal
Dari Serang, Banten, perjalanan kembali berlanjut menuju ibu kota Jakarta. Lokasi pertama adalah Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Makam yang diziarahi meliputi Dr. H. Mohammad Hatta, Ustadz H. Djamil, Prof. KH. Saifuddin Zuhri, KH. Sirojuddin Abbas Datuk Bandaharo, KH. Ilyas, hingga H. Adam Malik Batubara.
Turun dari kendaraan, peserta mulai mencari tempat duduk masing-masing yang dianggap nyaman. Ada yang berada di dekat makam, duduk di kursi, hingga berkumpul di tangga yang cukup luas.
Suasana hijau menghiasi lokasi. Ditambah sebaran ratusan jemaah semakin menambah nuansa Islami.
Dari Tanah Kusir, peserta dibawa menuju Masjid Istiqlal. Ini adalah masjid terbesar di Asia Tenggara yang dibangun mulai 1961 dan baru selesai 1978.
Tidak ada lagi ritual tahlil di sini lantaran tidak menjadi lokasi makam keramat yang dituju sejak awal.
Peserta menikmati kemegahan Masjid Istiqlal yang mengalami renovasi pada 2021 dengan menelan biaya APBN sebesar setengah triliun lebih.
Meninggalkan pusat kota Jakarta dengan kawalan petugas Kepolisian, rombongan bus beralih ke makam Pangeran Jayakarta di Jakarta Timur.

Pangeran Jayakarta Putra Kesultanan Banten
Pangeran Jayakarta memiliki nama lain Pangeran Akhmad Jakerta. Ia merupakan seorang putra Pangeran Sungerasa Jayawikarta asal Kesultanan Banten.
Menurut Pustaka Pejaten, sumber lain menyebutkan Pangeran Jayakarta adalah putra Ratu Bagus Angke, seorang bangsawan Banten.
Ratu Bagus Angke sendiri adalah menantu Fatahillah atau Falatehan. Ia termasuk menantu Sunan Gunung Jati.
Sementara berdasarkan keterangan yang dikutip via Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta, kepemimpinan Jayakarta sempat diwarnai pertempuran melawan VOC.
Alasannya, Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen membangun benteng dengan dilengkapi meriam di setiap sudut hingga mengarah tepat ke istana.
Belanda akhirnya mengambil alih wilayah Jayakarta pada 30 Mei 1619 dan merubah menjadi Batavia.
Di makam Pangeran Jayakarta, para jemaah mulai memenuhi lokasi. Sangat beda dengan sejumlah lokasi makam sebelumnya. Tidak ada lagi pengemis yang kerap mengelilingi hingga berharap meminta sedekah.
Sore hari yang cerah, ziarah berlanjut menuju wilayah Provinsi Jawa Barat. Targetnya adalah Syekh Bayanullah di Panjalu, Ciamis.
Air Zam-Zam Makkah Jadi Situ Panjalu?
Perjalanan cukup panjang dan melelahkan untuk menuju Ciamis. Seolah badan ingin segera merebah di atas kasur.
Tepat dini hari, Senin, 15 Desember 2025, rombongan tiba di Ciamis. Lokasi ini sangat dingin dan dipenuhi kesunyian tengah malam.
Namun, waktu yang lama untuk menunggu subuh tidak mampu membuat mata terpejam guna menikmati tidur.
Di tengah malam dini hari, sebuah kisah diungkapkan salah seorang peserta asal Kabupaten Lamandau, Provinsi Kalimantan Tengah. Ia adalah transmigran sukses asli Kebumen, Jawa Tengah.
Setelah berpuluh-puluh tahun berjuang di lokasi transmigrasi sejak era Soeharto, kini tinggal menikmati hasil hingga mampu merogoh kocek untuk sekedar datang memenuhi undangan perjalanan spiritual menembus 4 provinsi selama 4 hari.
Ia mengaku, salah satu kunci kesuksesan hidup versinya adalah menjadi seorang pengikut tarekat Qadiriyah hingga menjalankan amalan.
Sempat dibuat kecewa dengan perjalanan yang sangat jauh, tapi ternyata tidak sia-sia lantaran nuansa lokasi makam kali ini sangat menarik.
Perlu menaiki perahu kecil untuk menuju tempat Syekh Bayanullah atau Prabu Hariang Kencana alias Syekh Panjalu di Panjalu, Ciamis.
Artinya, peserta wajib bergantian lantaran kapasitas perahu yang hanya bisa diisi sekitar 10-15 orang saja.

Namun, suasana megah dan indah seolah memanjakan mata sepanjang perjalanan. Perahu kecil membawa rombongan menyusuri danau hingga tiba di sebuah bukit yang berada di tengah-tengah air.
Sedikit berjalan kaki menanjak, akhirnya lokasi yang dituju sudah di depan mata. Hawa sejuk diiringi irama pepohonan menjulang tinggi nan indah turut mengisi suasana syahdu pagi hari setelah subuh.
Syekh Panjalu memiliki nama Sayyid Ali Bin Muhammad bin Umar selain Prabu Hariang Kencana atau Borosngora.
Lokasi makamnya di Situ Lengkong Panjalu. Konon, situ (danau) seluas 57,95 hektar itu adalah tumpahan air zam-zam yang dibawa Syekh Panjalu dari Makkah.
Menikmati sajian keindahan Situ Panjalu termasuk yang paling dinanti. Selepas menghadapi perjalanan panjang, keindahan hutan dan nuansa pedesaan menjadi angin segar.
Lokasi makam Syekh Panjalu di tengah hutan dan danau memang sulit dilupakan selain sensasi menaiki perahu kecil menyusuri Situ Lengkong.
Usai dari Syekh Panjalu, lokasi terakhir adalah makam Syekh Abdul Muhyi, Pamijahan, Tasikmalaya.
Syekh Abdul Muhyi Pamijahan Tasikmalaya
Dari Ciamis, perjalanan panjang menyusuri wilayah perbukitan. Kondisi medan cukup sempit dan berkelok. Belasan bus melaju pelan dan tetap seirama.
Tiba di lokasi makam Syekh Abdul Muhyi, Pamijahan, Tasikmalaya, peserta memasuki lorong yang dipenuhi pedagang hingga sejauh sekitar hampir 3 kilometer.
Jalan kaki tentunya tidak terasa melelahkan lantaran kanan kiri dipenuhi pedagang makanan, oleh-oleh, hingga segala kebutuhan.
Naik ke atas bukit, peserta tiba di lokasi. Sama seperti sebelumnya, lantunan tahlil dan doa kembali dikumandangkan. Rombongan pun memenuhi bangunan makam yang cukup luas dan berada di atas bukit.
Siapa Syekh Abdul Muhyi? Ia lahir pada masa Mataram Islam, tepatnya era Sultan Amangkurat 1.
Syekh Abdul Muhyi masyhur sebagai tokoh di wilayah Tatar Sunda, termasuk Cirebon, Kuningan, Garut, dan Sukapura (Tasikmalaya).
Islam pun menyebar dengan pesat hingga banyak pesantren berdiri di lokasi yang pernah ia singgahi.
Makam Syekh Abdul Muhyi di Pamijahan Tasikmalaya menjadi lokasi pemungkas hingga menuju pulang.
Sempat singgah di Purwakarta dan Banyumas untuk istirahat, rombongan akhirnya sampai tepat pada pukul 03.00 WIB dini hari, Selasa, 16 Desember 2025.
Masuk tirto.id






































