tirto.id - Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), menyatakan Sekolah Rakyat mampu memberikan dampak positif yang signifikan terhadap perkembangan para siswa setelah sembilan bulan program itu berjalan. Perbaikan tidak hanya terlihat pada kemampuan akademik siswa, tapi juga kesehatan dan karakter mereka.
Ia menyampaikan hal ini saat menjelaskan perkembangan program Sekolah Rakyat dalam Konferensi Pers Pemerintah di Auditorium Bakom RI, Jakarta Pusat, Rabu (6/5/2026).
Konferensi pers tersebut menjadi bagian dari pemaparan capaian lintas sektor, mencakup program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di sekolah, penanganan tuberkulosis (TB), hingga perluasan akses pendidikan bagi kelompok rentan.
Gus Ipul menjelaskan, dari segi kesehatan, banyak murid Sekolah Rakyat yang sebelumnya mengalami kurang gizi, anemia, dan kebugaran rendah kini menunjukkan perbaikan.
Berat dan tinggi badan para siswa tersebut meningkat dan kondisi fisik mereka lebih bugar. Kemampuan konsentrasi belajar mereka pun turut membaik.
"Ini terlihat sederhana, tetapi sangat mendasar. Anak yang sehat memiliki kesempatan belajar yang jauh lebih baik,” ujar Gus Ipul.
Perubahan positif juga tampak pada aspek karakter. Siswa menjadi lebih disiplin, percaya diri, dan mandiri, serta menunjukkan sikap yang lebih positif dalam keseharian.
Orang tua murid juga melaporkan perubahan kebiasaan anak, seperti lebih rajin beribadah, terbiasa bangun pagi, mengurangi penggunaan gawai, hingga mulai membantu keluarga.
“Sekolah Rakyat tidak hanya mengubah satu anak, tetapi memulihkan harapan dalam satu keluarga,” tegas Gus Ipul.
Di bidang akademik, perkembangan kapasitas siswa pun tampak menjanjikan. Pada tahun 2026, Sekolah Rakyat akan meluluskan 453 siswa dari jenjang SD, SMP, dan SMA.
Para lulusan perdana Sekolah Rakyat itu bakal diarahkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Bagi lulusan SMA yang berminat memasuki dunia kerja juga mendapat pengarahan sesuai minat dan potensi masing-masing.
Gus Ipul menambahkan, prestasi siswa Sekolah Rakyat di berbagai tingkatan saat ini sudah mulai bermunculan. Tercatat satu siswa meraih juara internasional, yakni peringkat kedua dalam ajang Senkaido Open International Karate Championship Series 7 Tahun 2025.
Selain itu, terdapat 162 siswa berprestasi di tingkat nasional, 87 di tingkat provinsi, dan 75 di tingkat kabupaten/kota.
Menurut Gus Ipul, raihan prestasi itu menunjukkan bahwa anak-anak dari keluarga rentan mampu bersaing ketika mendapat akses dan pendampingan yang tepat.
Dalam pemaparannya, Gus Ipul sekaligus menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat dirancang sebagai intervensi untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Oleh karena itu, program ini dibuka khusus untuk anak-anak dari keluarga rentan yang belum memperoleh akses pendidikan layak.
“Sekolah Rakyat kita rancang sebagai upaya untuk memotong rantai kemiskinan. Kita tidak boleh menyerah pada keadaan, dan negara harus hadir bagi mereka yang selama ini tidak terlihat,” ujarnya.
Program ini menjadi wujud pelaksanaan amanat Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan kewajiban negara dalam melindungi fakir miskin dan anak-anak terlantar.
Data menunjukkan sebagian besar peserta didik berasal dari kelompok ekonomi terbawah, yakni desil 1 dan 2 dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Ada 60 persen orang tua murid Sekolah Rakyat yang bekerja sebagai buruh atau pekerja harian lepas. Sekitar 67 persen orang tua berpenghasilan di bawah Rp1 juta per bulan, dan 65 persen memiliki tanggungan lebih dari empat orang.
Bahkan, sebagian anak yang masuk Sekolah Rakyat belum pernah mengenyam pendidikan formal atau terpaksa putus sekolah.
Gus Ipul mengimbuhkan, berbeda dari yang berlaku di sekolah umum, proses rekrutmen siswa Sekolah Rakyat dilakukan lewat mekanisme penjangkauan secara aktif dan berbasis data. Penjaringan calon siswa dilengkapi dengan verifikasi lapangan, dialog dengan orang tua, dan penetapan oleh pemerintah daerah.
Untuk tahun ajaran baru 2026/2027, pemerintah menargetkan Sekolah Rakyat menerima 32.640 siswa baru. Saat ini, Sekolah Rakyat telah berdiri di 166 titik rintisan yang tersebar di 34 provinsi dan 131 kabupaten/kota, dengan jumlah siswa lebih dari 14.936 orang.
“Kami memastikan seluruh proses penyelenggaraan Sekolah Rakyat, termasuk pengelolaan program dan dukungan fasilitas, dilaksanakan secara transparan dan akuntabel sesuai ketentuan yang berlaku,” kata Gus Ipul.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Mohammad Qodari, menyoroti pentingnya intervensi kesehatan sejak dini melalui sekolah.
“Melalui sekolah, negara hadir memastikan seluruh anak tanpa terkecuali mendapat layanan dasar yang sama, sehingga potensi masalah kesehatan dapat terdeteksi dan ditangani lebih cepat,” ujarnya.
Konferensi pers ini turut dihadiri Deputi I Fahd, Deputi II Timothy Ivan Triono, serta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti yang didampingi Sekretaris Jenderal Suharti.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id

































