31 Januari 1942

Sejarah Pertempuran Malaya: Akhiri Penjajahan Belanda di Indonesia

Infografik Mozaik Pertempuran Malaya
Ilustrasi Pertempuran Malaya. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Iswara N Raditya - 31 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Kekalahan Sekutu di Malaya pada awal 1942 menjadi pintu masuk bagi Jepang ke Indonesia.
tirto.id - Siapa bilang orang-orang Malaysia dan Singapura sama sekali tidak pernah berperang untuk mempertahankan tanah air mereka dari serbuan bangsa asing? Sejarah mencatat, mereka sempat melakukannya pada awal 1942 meski sedikit berbeda dengan apa yang terjadi di Indonesia.

Saat Jepang tiba, sebagian rakyat Indonesia justru menyambut gembira. Dai Nippon memperkenalkan diri sebagai saudara tua sebagai sesama bangsa Asia. Rakyat Indonesia pun berharap Jepang menjadi juru selamat yang akan mengusir Belanda.

Sebaliknya, bagi orang-orang negeri tetangga, kehadiran Jepang berarti petaka. Mereka pun mengangkat senjata. Pertempuran Malaya pecah—perang yang akhirnya memungkasi kekuasaan Belanda di Indonesia dan menghadirkan penjajahan baru oleh Jepang.

Jepang Mengincar Asia Tenggara

Minggu pagi 7 Desember 1941, Jepang menghancurkan pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbor, Hawaii. Hanya sehari berselang, pasukan Dai Nippon sudah mencapai Asia Tenggara. Pertama di Thailand, lalu menuju Semenanjung Malaya.

Misi Jepang tentu saja untuk merebut wilayah-wilayah jajahan Sekutu, terutama Britania Raya atau Inggris yang menguasai Malaysia dan Singapura. Dai Nippon juga mengincar Indonesia yang sudah sekian lama diduduki Belanda, negara yang berpihak kepada Sekutu.


Jepang memang tak main-main dalam menghadapi Perang Pasifik atau Perang Asia Timur Raya. Lebih dari 500 unit pesawat tempur, ditambah tidak kurang dari 200 unit tank dan peralatan perang mutakhir lainnya, serta puluhan ribu serdadu, dipersiapkan untuk mewujudkan ambisi menguasai Asia. Jepang menyasar pula negeri-negeri di timur jauh alias Asia Tenggara.

Di sisi lain, Inggris, ikon Sekutu di Asia Tenggara, rupanya menganggap enteng ancaman Jepang. Laporan dari Malaya terkait pergerakan Jepang yang mulai menancapkan pengaruh di kawasan Indocina tidak direspons dengan cepat oleh London.

Dikisahkan David McIntyre dalam The Rise and Fall of the Singapore Naval Base 1919-1942 (1979), pada 1937 dilaporkan bahwa Jepang sudah membangun pangkalan militer di Siam (Thailand). Namun, permintaan bantuan senjata, tentara, dan dana untuk perang untuk Malaka malah diabaikan (hlm. 135).

Pada 1940, pergerakan Jepang kian kentara. Letnan Jenderal Lionel Bond, komandan pasukan Inggris di Malaya, mendesak bantuan Sekutu. Paling tidak, menurut Bond, pihaknya membutuhkan 300-500 unit pesawat tempur untuk menghadapi Jepang yang berkekuatan tak kalah besar. Tapi, lagi-lagi permintaan ini tidak pernah terpenuhi.

Akibatnya fatal bagi Inggris. Pertengahan Desember 1941, tentara Jepang mulai memasuki area kekuasaan Inggris di Malaya. Mereka mendarat di pantai barat dekat Sarawak.

Kedigdayaan Jepang di Malaya

Britania Raya dan Amerika Serikat yang merupakan kekuatan utama Sekutu tidak pernah memprioritaskan Asia Tenggara. Mereka sudah cukup kewalahan menghadapi Jerman dan Italia di Eropa sehingga permintaan dari Malaya tidak segera ditindaklanjuti secara serius.

Mau tidak mau, pemerintahan Inggris di Malaya untuk sementara harus berusaha sendiri untuk mempertahankan diri. Bantuan dari Sekutu akan datang jika situasi memang sudah benar-benar gawat, dan itu tidak bisa diandalkan mengingat tekanan Jepang semakin kuat.

Di sisi lain, Jepang memang sudah bersiap bergerak setelah berhasil menaklukkan Thailand, Birma (Myanmar), hingga Filipina. Sebelum menyerang, Jepang menyusupkan intelijennya ke Malaya. Menurut Joyce C. Lebra dalm Japanese Trained Armies in South-East Asia (1971), intel Jepang yang disebarkan ini terutama untuk berhubungan dengan kelompok lokal yang menghendaki kemerdekaan dari Inggris (hlm. 23).

Serangan pertama Dai Nippon terhadap Malaya dimulai pada 8 Desember 1941. Di bawah komando Letnan Jenderal Tomoyuki Yamashita, Jepang menghancurkan pangkalan militer Inggris dan Australia di pantai utara dan timur Malaya (Kelantan) melalui laut.

Selain itu, sebagaimana dipaparkan Joseph Kennedy dalam British Civilians and the Japanese War in Malaya and Singapore 1941-1945 (1987), Jepang juga menggerakkan pasukan infanteri ke pantai barat Malaya yang masuk melalui perbatasan Thailand. Ribuan serdadu Jepang dengan mudah memenangkan pertempuran karena dilindungi puluhan pesawat tempur dari udara (hlm. 7).

Sekutu sebenarnya telah mengirimkan bala bantuan, namun terlambat dan berhasil dihancurkan Jepang. Di Malaya sendiri, pasukan Sekutu yang merupakan gabungan pasukan Inggris, Australia, Melayu, dan serdadu kiriman dari India, semakin kewalahan menghadapi gempuran-gempuran masif yang terus-menerus dilancarkan Dai Nippon.

Memang ada kalangan yang menginginkan merdeka dari Inggris, namun tidak sedikit pula warga lokal yang turut melawan Jepang. Pemerintah Inggris di Malaya punya kesatuan militer yang berisikan orang-orang pribumi, yakni Resimen Melayu, yang dibentuk sejak 1933.



Jepang Menang, Belanda Hengkang

Pada 10 Desember 1941, dua kapal perang Inggris ditenggelamkan pesawat-pesawat tempur Jepang. Empat hari berselang, pasukan Jepang sudah mencapai Johor dan terlibat pertempuran sengit melawan tentara Sekutu.

Lionel Wigmore dalam The Japanese Thrust (1957) menyebutkan, Jepang memang kehilangan 600 orang serta 9 unit tank dalam perang ini. Namun, serangan balasan membuat pihak Sekutu dan Malaya menderita kerugian yang lebih besar: tidak kurang dari 3.000 orang menjadi korban, baik tewas maupun luka-luka.

Sepanjang awal 1942, menurut J. Tomaru dalam The Postwar Rapprochement of Malaya and Japan 1945-61: The Roles of Britain and Japan in South-East Asia (2000), agresi militer Jepang di Malaya kian gencar dan nyaris tak pernah berhenti. Kuala Lumpur pun jatuh ke tangan Dai Nippon pada 31 Januari 1942 (hlm. 35).

Setelah Kuala Lumpur yang menjadi pusat ekonomi Malaya beralih tangan, pasukan Sekutu masih berupaya melawan meskipun semakin terdesak. Frank Morgan dalam Reflections of Twelve Decades (2012: 142) menuliskan, pasukan Sekutu akhirnya mundur ke Singapura pada 31 Januari 1942, tepat hari ini 77 tahun lalu.


Berlindung di Singapura justru menjadi akhir perlawanan pasukan gabungan Sekutu. Hanya butuh waktu setengah sebulan bagi Jepang untuk mengambil alih negeri singa. Pada 15 Februari 1942, Dai Nippon menduduki Singapura. Pada periode yang sama, tentara Jepang mulai memasuki wilayah Indonesia dari perbatasan Malaysia di Borneo.

Hingga akhirnya, 8 Maret 1942, Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang dalam perundingan di Kalijati, dekat Subang, Jawa Barat. Inilah akhir penjajahan Belanda sekaligus mengawali era pendudukan Jepang di Indonesia.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 31 Januari 2018 dengan judul "Pertempuran Malaya Mengakhiri Penjajahan Belanda di Indonesia". Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight