16 November 1987

Zubir Said, Orang Minang Pencipta Lagu Kebangsaan Singapura

Ilustrasi Mozaik Zubir Said. tirto.id/Sabit
Oleh: Iswara N Raditya - 16 November 2020
Dibaca Normal 4 menit
Lagu “Majulah Singapura” ciptaan Zubir Said resmi menjadi lagu kebangsaan Singapura pada 1959, menggantikan “God Save the Queen” milik Britania Raya.
Lelaki berusia 21 tahun itu meninggalkan kampung halamannya ketika generasi muda Indonesia sedang bersiap merumuskan ikrar bersama: Sumpah Pemuda. Tahun 1928, Zubir Said pergi dari rumahnya di Fort de Kock alias Bukittinggi, Sumatra Barat, tanpa sepengetahuan keluarga. Tujuannya pun sudah ditetapkan, yaitu Singapura.

Zubir sengaja pergi diam-diam. Seandainya meminta izin pun pasti tak bakal dikasih. Ia tidak terlalu akur dengan ayahnya yang kolot, kesukaan bermain musik menjadi salah satu penyebabnya. Sang ayah percaya bahwa musik atau lagu bertentangan dengan agama (Rohana Zubir, Zubir Said: The Composer of Majulah Singapura, 2012:43).

Kala itu, Singapura dianggap sebagai dunia baru yang menjanjikan segala gemerlap dan kemakmuran. Dan itulah yang nantinya didapatkan Zubir Said di negeri kecil koloni Inggris tersebut.


Bermula dari Musisi Keliling

Sedari usia 7 tahun, Zubir Said sudah menjadi anak piatu. Ibunya telah wafat. Sebagai anak tertua, Zubir berkewajiban mengayomi tujuh orang adiknya yang masih kecil-kecil. Zubir sendiri adalah putra asli Minangkabau, lahir di Bukittinggi pada 22 Juli 1907.

Ayahnya, Mohammad Said bin Sanang, merupakan tokoh adat yang teguh menjalankan ajaran agama. Sang ayah bekerja di perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial Hindia Belanda. Dari situlah Zubir bisa mengenyam pendidikan di sekolah bentukan Belanda, termasuk mulai mengenal musik dari teman maupun gurunya.

Zubir memang berbakat di bidang musik, potensi itu terlihat bahkan ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Seorang guru pun tergerak, memperkenalkannya untuk mempelajari teknik membaca notasi. Berkat peran sang guru itu pula, Zubir membentuk kelompok musik pertamanya pada umur yang masih sangat belia.

Pergaulan Zubir dengan teman-teman sepergaulan sesama penyuka musik membuatnya kian matang. Bermula dari bermain seruling buatan sendiri, Zubir akhirnya bergabung dengan sebuah grup keroncong ketika menempuh pendidikan menengah. Dari situ, ia belajar instrumen lainnya, yakni gitar dan drum (Mardiana Abu Bakar dalam Zubir Said: His Songs, 1990:12).

Namun, kehidupan remaja Zubir ternyata tidak mudah. Ia harus bekerja saat masih berusia 18 tahun, membantu ayahnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ingat, Zubir punya tujuh orang adik.

Sempat menjadi buruh di sebuah pabrik batu bata, Zubir lantas mendapat tawaran dari seorang teman untuk bekerja sebagai juru ketik. Meskipun sibuk mencari nafkah, kecintaannya pada musik tak pernah padam. Ia terus belajar, memperdalam berbagai alat musik lainnya, termasuk biola yang menjadi salah satu instrumen kegemarannya kala itu.

Selain itu, Zubir juga bergabung dengan sebuah grup keroncong sebagai pemain biola. Pada usia 19 tahun, ia memutuskan keluar dari pekerjaannya dan total bermusik. Kebetulan, ia bertemu dengan seorang pegawai pemerintahan desa yang kagum akan bakatnya. Didoronglah Zubir untuk menekuni musik lebih serius lagi.

Zubir menyambut tantangan itu dengan membentuk sebuah grup keroncong keliling. Dari situlah ia meretas karier sebagai musisi sekaligus untuk menambah pemasukan. Zubir memimpin kelompoknya pentas di mana-mana, termasuk di pesta perkawinan, mengisi hiburan dalam acara pameran, serta agenda-agenda keramaian lainnya.


Matang di Negeri Seberang

Tahun-tahun itu menjadi pergolakan batin tersendiri bagi Zubir Said. Di satu sisi, ia sudah sangat nyaman berkarier sebagai musisi. Namun di sisi lain, pekerjaan yang amat disukainya itu tidak mendapat persetujuan dari ayahnya.

Hingga akhirnya, Zubir memutuskan pergi, tanpa pamit. Dari teman-temannya sesama musisi ia mendengar bahwa Singapura merupakan tujuan paling menjanjikan untuk menunjukkan kemampuan bermusiknya. Zubir pun dengan mantap menuju negeri singa pada 1928 dengan menumpang kapal kargo.

Zubir bergabung dengan kelompok keroncong Melayu bernama Grup Bangsawan di Singapura (Sulaiman Jeem & Abdul Ghani Hamid, Mengenang Pak Zubir, 1988:29). Pada masa-masa ini, Zubir menambah kemampuannya dalam bermusik dengan mempelajari piano kendati itu semula terjadi tanpa sengaja.

Kepada anaknya, Rohana, Zubir pernah berkisah tentang pengalaman pertamanya bersentuhan dengan piano:

“Ketika saya bergabung dengan kelompok opera kota, mereka punya aula besar dan di situ ada beberapa piano. Saat tidak ada orang, saya mencoba piano untuk pertamakalinya. Saya mendapatkan sesuatu yang berbeda dari biola atau gitar. Saya bisa mengaturnya dan itu lebih mudah dari gitar. Di kemudian hari, saya bisa memimpin orkestra dengan piano.” (Zubir, 2012:43).

Dan memang, di Singapura itulah nama Zubir Said sebagai musisi mumpuni semakin matang dan kian dikenal orang. Sampai sebuah perusahaan rekaman milik Inggris bernama His Master's Voice (HMV) merekutnya.

Meskipun sudah terbilang sukses di Singapura, namun sejatinya Zubir Said tidak pernah melupakan kampung halaman dan tanah airnya. Ia pernah pulang ke Sumatra Barat pada 1941 setelah pekerjaannya di HMV berakhir seiring pecahnya Perang Dunia II sejak tahun 1939.

Saat mudik ke Bukittinggi, Zubir membawa serta istrinya, Tarminah Kario Wikromo. Perempuan Jawa ini dinikahinya pada 1938, saat Zubir masih bekerja di HMV. Kala itu, Tarminah juga berkarier sebagai biduan keroncong.

Ketika Jepang mengambil alih wilayah Indonesia dari Belanda sejak 1942, ia membentuk grup musik untuk menghibur tentara Dai Nippon. Ia juga sempat menangani ilustrasi musik kelompok sandiwara keliling bernama Ratu Asia pada masa itu (Profil Dua Ratus Tokoh Aktivis dan Pemuka Masyarakat Minang, 1995:63).


Kembali ke Singapura dan Berjaya

Cukup lama Zubir Said tinggal di Indonesia, dari 1941 hingga 1947. Dua tahun setelah kemerdekaan Indonesia, ia memutuskan balik ke Singapura. Situasi keamanan yang genting dan rawan perang lantaran Belanda ingin kembali berkuasa tampaknya menjadi pertimbangan utama bagi Zubir untuk kembali merantau ke negeri tetangga.

Setiba di Singapura untuk kedua kalinya, ia justru mengambil pekerjaan sebagai juru foto sekaligus jurnalis di surat kabar Oetoesan Melajoe. Dengan bekerja di surat kabar, Zubir yakin punya peluang yang lebih besar untuk memperkenalkan dan menyebarluaskan karya-karya musiknya.

Dan benar, nama Zubir semakin dikenal. Tahun 1949, ia dipercaya menjadi komposer film-film Melayu produksi Shaw Brothers (Abu Bakar, 1990:14). Pekerjaan tersebut tentunya sangat prestisius kala itu. Salah satu sinema yang urusan musiknya ditangani Zubir, berjudul Chinta, menjadi film paling laris.

Karier Zubir selanjutnya kian meroket, terlebih setelah bergabung dengan perusahaan film yang lebih besar di Singapura, Cathay Keris, pada 1952. Selama 14 tahun ia berkarier di sini dan menghasilkan banyak karya musik untuk film.

Puncak kejayaan Zubir terjadi pada 1958. Itu bermula dari gubahan lagunya dengan judul “Majulah Singapura” yang diciptakan Zubir untuk Dewan Kota Singapura. Waktunya tepat karena tak lama berselang, tahun 1959, Singapura mulai menjalankan pemerintahan sendiri kendati masih berada dalam pengawasan Inggris.


Saat itu, pemerintah Singapura merasa perlu punya lagu kebangsaan yang bisa mempersatukan segala perbedaan. Ternyata, lagu karya Zubir dinilai memenuhi kriteria yang dibutuhkan. Maka sejak 30 November 1959, “Majulah Singapura” disahkan sebagai lagu kebangsaan Singapura (Martin Shaw, et.al, National Anthems of the World, 1975:369).

Pamor Zubir kian melambung berkat prestasi yang ditorehkan lewat karya-karyanya, termasuk meraih penghargaan dalam Festival Film Asia ke-9 tahun 1962, lewat lagunya dalam film Dang Anom. Zubir pun akhirnya menjadi warga negara Singapura pada 1967 (Z.B. Low, Majulah! The Film Music of Zubir Said, 2012:23).

Selain itu, ia juga telah menghasilkan tidak kurang dari 1.500 lagu meskipun tidak semua dipublikasikan (The Straits Times, 24 Agustus 2007). Zubir seolah menjadi legenda hidup dalam sejarah musik dan film di Singapura, dengan meraih seabrek penghargaan.

Zubir Said wafat di Singapura pada 16 November 1987, tepat hari ini 33 tahun lalu, dalam usia 80 tahun. Karya-karya Zubir yang nyaris seluruhnya memakai bahasa Melayu setidaknya menjadi bukti bahwa ia tidak pernah meninggalkan jatidirinya sebagai orang Melayu, juga orang Indonesia.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 16 November 2017. Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait SINGAPURA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Zen RS
DarkLight