Sejarah 'Bromance' Israel-Saudi: Makin Mesra Demi Ganyang Iran

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 16 November 2018
Dibaca Normal 4 menit
Keduanya tak punya hubungan diplomatik resmi. Saudi selalu bilang dukung Palestina. Tapi Iran, Musim Semi Arab, dan duo Trump-Pangeran MBS mengubah segalanya. Kemesraan itu tak mereka tutup-tutupi lagi.
tirto.id - Middle East Eye (MEE) sedang rutin menerbitkan laporan yang menguliti intrik dua pemain besar di Timur Tengah: Israel dan Arab Saudi.

Baru-baru ini, misalnya, sejumlah sumber terpercaya MEE mengungkap upaya Pangeran Saudi Mohammad bin Salman (MBS) dalam membujuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk memulai konflik dengan Hamas di Gaza.

Perang dinilai akan mengalihkan perhatian Presiden AS Donald Trump, mendorong Washington untuk kembali fokus ke peran Saudi dalam memperkuat kepentingan strategis Israel, dan meredam kericuhan yang semakin berkembang akibat kasus pembunuhan jurnalis Washington Post Jamal Khashoggi.

Pada 2 Oktober 2018, Khashoggi lenyap setelah menginjakkan kaki di Konsulat Jenderal Arab Saudi di Istanbul, Turki. Meski telah membantah terlibat dalam kasus hilangnya sang jurnalis, otoritas Saudi tetap dicurigai sebagai dalang mengingat rekam jejak yang sangat buruk untuk urusan kebebasan pers.

Jurnalis MEE David Hearst menulis perancang skenario tersebut adalah satu tim satuan tugas (satgas) darurat yang terdiri dari pejabat istana kerajaan, kementerian luar negeri, kementerian pertahanan, dan dinas intelijen Saudi.

“Mereka memberi arahan kepada putra mahkota (MBS) setiap enam jam,” tulis Hearst.

Kedekatan Israel dan Saudi, setidaknya yang terlihat di permukaan, berusia cukup muda. Beberapa analis memperkirakan hubungan itu baru terjalin selama lima tahun terakhir. NBC News pernah melaporkan selama jangka waktu tersebut kedua negara sebenarnya telah mengadakan pertemuan-pertemuan informal.

Dalam pandangan tradisional, nampak aneh jika Israel dan Saudi bergandengan tangan. Sejarah mencatat kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik. Sejak berdirinya Israel, Saudi juga bergabung dalam rombongan negara-negara Arab yang mendukung kemerdekaan Palestina.


Saudi era 1948 sedang dipimpin oleh Raja Abdulaziz yang tergolong lembek. Anaknya, Pangeran Faisal, punya pendirian yang lebih militan, reformis, sekaligus menolak pendudukan Israel.

Usai PBB mengeluarkan resolusi pemecahan wilayah Palestina, Faisal mendesak ayahnya untuk memutus hubungan dengan Amerika Serikat selaku sekutu utama Israel. Tapi Raja Abdulaziz tak merealisasikannya karena saat itu Saudi sedang menjajaki hubungan dagang dengan AS.

Sepeninggal Abdulaziz, tongkat estafet raja beralih ke saudara laki-laki Faisal, Saud bin Abdulaziz. Saud gagal memimpin karena tidak berkompeten sekaligus penuh skandal keuangan yang merugikan kerajaan. Saud pun digulingkan dan Faisal naik tahta sejak 2 November 1964.

Faisal langsung tancap gas untuk membuat kebijakan-kebijakan luar negeri yang pro-Palestina. Ia menyerukan agresi militer untuk membela Al-Quds (Yerussalem) dan menghentikan pemekaran wilayah Israel. Semangat ini disambut baik oleh Mesir dan Suriah. Ketiganya kemudian membentuk koalisi dan melahirkan Perang Enam Hari (1967).

Meski kalah dan ditinggal kawan-kawannya, Faisal tidak patah arang. Ia kemudian menyerukan perang ekonomi terhadap AS dengan cara mengembargo ekspor minyak. Hal ini melahirkan krisis ekonomi yang melumpuhkan sektor industri dan transportasi AS pada tahun 1973. Dua tahun berselang, Faisal ditembak mati oleh keponakannya sendiri.

Merujuk kembali ke laporan NBC News, retorika Saudi tetap bertahan pada dukungan untuk kemerdekaan Palestina. Tapi sejak akhir 1970-an mereka sesungguhnya mengurangi perhatian terhadap konflik Israel-Palestina. Mereka lebih fokus memuluskan suksesi politik sekaligus merealisasikan proyek modernisasi negara.

Lima tahun belakangan, David Hearst adalah satu dari sekian analis yang membongkar permainan dua kaki Saudi. Mereka melakukan pertukaran informasi intelijen dengan Israel, melalui pertemuan reguler yang bersifat rahasia.


Hearst, dalam laporannya untuk MEE, menjalin kooperasi karena punya musuh bersama: Iran. Penghancuran rezim Saddam Hussein di Irak pada 2003 mengubah peta koalisi. AS mengalihkan fokus ke rezim Syiah Iran, dan Saudi digandeng sebagaimana AS setia membekingi Israel.

Lalu datanglah Musim Semi Arab (Arab Spring). Gerakan anti-pemerintah menggoyang banyak rezim, termasuk Presiden Suriah Bashar al-Assad. Keputusan Iran untuk mendukung Assad membuat polarisasi kian mengental. Rusia turut satu sikap dengan Iran, sementara AS mendukung pasukan gerilya yang berusaha menumbangkan Assad.

Pasca-Musim Semi Arab, mulai sekitar tahun 2012, Israel memandang Saudi sebagai penjamin stabilitas di Timur Tengah. Pertemuan-pertemuan informal mulai dijalankan, terutama untuk menangkal pengaruh Iran dan mengerahkan dukungan militer untuk kelompok-kelompok militan di berbagai negara.

Retorika “perdamaian” kemudian makin sering keluar dari mulut para pejabat kedua negara. Ofer Zalzberg dari International Crisis Group pernah berkata pada Linah Alsaafin dari Al Jazeera bahwa perubahan peta politik ini memang harus mempertimbangan parameter terpokok: masa depan perdamaian Israel-Palestina.

Parameter tersebut tidak bisa dicapai tanpa keterlibatan sekutu terpenting Israel, AS, yang kini di bawah kendali Trump. Kembali merujuk laporan Hearst untuk MEE, wajar jika kini Pangeran MBS sedang bersusah payah untuk kembali menggaet kepercayaan AS yang mengendur akibat kasus pembunuhan Khashoggi.

“Lahirnya aliansi Saudi-Israel yang makin terbuka akan menghalangi Iran. Dalam banyak hal, adalah sangat rasional untuk memajukan proses perdamaian Israel-Palestina melalui poros Washington-Riyadh,” kata Zalzberg.


Kobi Michael, peneliti senior di Institite for National Security Studies di Tel Aviv University, Israel, berkata pada Alsaafin bahwa Saudi dan negara-negara Arab (termasuk Mesir tapi kecuali Qatar) punya dua ancaman strategis. Pertama, Iran; dan kedua, gerakan Salafi atau gerakan Islam radikal.

“Sayangnya, ketiadaan AS membuat Rusia dan Iran bisa dengan mudah menginfiltrasi Suriah. Israel dipandang sebagai sekutu paling potensial dan yang paling bisa diandalkan. Ini saat yang tepat bagi Saudi untuk berteman baik dengan Israel.”

Saudi kini tidak punya kewajiban sebesar dahulu untuk mendukung kemerdekaan Palestina, kata Michael. Ia menambahkan Saudi juga punya kesempatan untuk memperkuat basis keagamaan mereka berkat status sebagai penguasa Mekah dan Madinah, dua kota paling penting untuk umat Islam, termasuk untuk yang tinggal di Iran.

Satu dekade yang lalu kemesraan Israel-Saudi bak rahasia umum: semua orang tahu, tapi pejabat kedua negara tak menampilkannya ke muka publik. Kini situasinya pelan-pelan berubah. Netanyahu dan MBS makin vokal mengomentari berbagai isu politik, dan sinyal yang terbaca adalah makin solidnya kolaborasi kedua negara.

Awal April lalu, The Atlantic menerbitkan wawancara eksklusif Jefrey Goldberg dengan MBS. Salah satu pertanyaan Goldberg adalah meminta pendapat MBS terkait hak bagi orang Yahudi untuk memiliki negara sendiri Timur Tengah—setidaknya di bagian yang diklaim sebagai tanah leluhur.

Infografiik teman tapi ada maunya


Jawaban MBS, meski selaras dengan sikapnya selama ini, tetap menjadi sensasi di berbagai media massa.

“Saya percaya bahwa tiap orang, di manapun ia berada, memiliki hak untuk hidup di negara yang damai. Saya percaya orang Palestina dan Israel punya hak untuk memiliki tanahnya sendiri.”


MBS kemudian menambahkan pendapat yang khas: “Tapi kita harus memiliki sebuah kesepakatan damai untuk menjamin stabilitas untuk semua orang dan untuk memiliki hubungan yang normal.”

Bagi MBS, Israel adalah negara dengan ekonomi raksasa jika dibandingkan dengan luas wilayahnya. Pertumbuhannya yang pesat membuat Saudi membangun relasi kerjasama. Sekali lagi, MBS menekankan syaratnya adalah stabilitas kawasan. Inilah jawaban untuk pertanyaan Goldberg soal benarkah Iran membuat Saudi dan Israel makin mesra.

Di kesempatan yang berbeda, Netanyahu turut bersuara dalam nada-nada yang menyenangkan di telinga MBS. Tentang pembunuhan Khashoggi, misalnya. Saat para pemimpin dan warga dunia melancarkan kutukan keras, Netanyahu kembali menegaskan bahwa yang terpenting adalah kestabilan Saudi.

“Apa yang terjadi di konsulat Istanbul mengerikan dan harus diusut. Tetapi di saat bersamaan, Arab Saudi mesti tetap stabil sebab sangat penting bagi stabilitas kawasan dan dunia,” katanya berkunjung ke Varna, Bulgaria, sebagaimana dikutip Times of Israel.

Meski keluar dari topik Khasoggi, Netanyahu tak lupa untuk menyinggung Iran selaku musuh besar Israel. Baginya Iran adalah masalah yang lebih besar ketimbang kasus Khashoggi, dan pemerintahannya sedang memastikan agar Iran tidak lagi jadi masalah bagi dunia.

“Kami telah membantu mengungkap dua serangan teroris—satu di Paris, dan satu lagi di Kopenhagen—yang diinisiasi oleh dinas rahasia Iran. Memblokir Iran adalah puncak dari agenda kami dari segi keamanan. Bukan hanya untuk Israel tetapi saya percaya juga untuk Eropa dan dunia.”

Baca juga artikel terkait KONFLIK TIMUR TENGAH atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Politik)


Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf