Erwiana Sulistyaningsih

"Saya Kuliah untuk Buktikan Buruh Migran Bisa Berpendidikan"

Oleh: Dipna Videlia Putsanra - 22 September 2018
Dibaca Normal 5 menit
Erwiana akan tetap total bekerja untuk buruh migran sekalipun dia pernah disiksa oleh majikan di Hong Kong.
tirto.id - Erwiana Sulistyaningsih tampak segar dan sehat saat saya menemuinya di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, pada 18 September lalu. Bekas lebam dan luka di wajahnya sudah tak kelihatan. Ia, yang pagi itu mengenakan kerudung dan baju warna senada merah muda, bercerita dengan lugas kepada saya tentang cita-cita dan harapannya bagi buruh migran agar tak bernasib sama seperti dirinya.

Gadis asal Ngawi, Jawa Timur, ini mengalami penyiksaan pada 2014 yang menggemparkan seluruh masyarakat Hong Kong dan Indonesia. Erwiana pulang ke rumahnya dengan luka-luka yang sudah menghitam, lebam di sekujur tubuh—terutama wajah dan kepala, serta kulit kaki mengelupas.

Pada Februari 2015 Pengadilan Hong Kong telah memvonis mantan majikan Erwiana, Law Wan-tung, enam tahun penjara karena terbukti melakukan penyiksaan. Dalam persidangan, terungkap Erwiana disiksa hingga beberapa giginya tanggal serta luka di sekujur tubuh akibat pukulan dan cakaran.

Wan-tung juga pernah memasukkan pipa penyedot debu ke mulut Erwiana hingga menyebabkan berdarah. Erwiana pernah disuruh berdiri telanjang di kamar mandi saat musim dingin sambil disiram air dengan kipas yang mengarah ke badannya.

Erwiana bekerja 20 jam sehari dan tak diberi makanan layak. Ia pernah menggedor rumah tetangga untuk minta makan karena kelaparan. Ketika luka-luka Erwiana semakin parah hingga ia tak bisa bekerja lagi, sang majikan mengantarnya ke bandara dengan uang saku 9 dolar AS dan ancaman akan melukai keluarganya jika Erwiana melaporkan siksaan itu.


Beruntung, banyak orang baik di sekitar Erwiana yang membantunya memperjuangkan kasusnya. Kini kondisi Erwiana, 27 tahun, jauh lebih baik. Ia baru saja menuntaskan pendidikannya di jurusan Manajemen Sanata Dharma dengan predikat cum laude. Setelah ini, Erwiana ingin mencurahkan pikiran dan tenaga untuk membantu teman-teman buruh Indonesia. Ia juga ingin membuktikan bahwa buruh juga bisa berpendidikan tinggi.

Selamat Erwiana, kemarin lulus cum laude. Apa rencana setelah ini?

Hehehe terima kasih... Dari awal masuk kuliah kan aku sudah ikut organisasi, jadi mau fokus membantu teman-teman buruh migran. Aku enggak ingin lagi mereka mengalami kasus yang sama seperti yang aku alami. Aku bantu mereka lewat Kabar Bumi [Keluarga Besar Buruh Migran Indonesia], juga tergabung dalam JBMI [Jaringan Buruh Migran Indonesia].

Ingin lanjut ke S2 enggak?

Ingin sih, tapi sekarang istirahat dulu. Sebenarnya ada tawaran juga dari Sadhar [Sanata Dharma] dan Atma Jaya Yogyakarta, tapi aku bilang nanti dulu setelah urusan di Kabar Bumi. Tahun depan juga ada kemungkinan aku dipindahtugaskan ke Hong Kong untuk bantu kasus, karena di sana lagi membutuhkan.

Teman-teman di organisasi kan kerja full time di majikan jadi enggak bisa full time di organisasi, sehingga enggak bisa mengurus kasus dengan maksimal, padahal kasus kan setiap hari. Makanya butuh bantuan orang yang bisa full time di sana. Setelah lulus di sini kan ijazahnya bisa dipakai daftar jadi profesional di Hong Kong.

Enggak trauma balik ke Hong Kong lagi? Orang tua juga memperbolehkan?

Mereka terserah aku, yang penting aku nyaman. Trauma ada, kan memang pernah mengalami peristiwa itu [penyiksaan]. Tapi karena aku sudah sering pergi-pergi ya mereka enggak masalah, yang penting jaga kesehatan, jaga diri dan hati-hati. Kadang mereka khawatir, tapi yang penting aku tetap memberi kabar.

Saat ini Kabar Bumi membantu kasus apa?

Setiap hari ada macam-macam. Ini kemarin baru mendampingi keluarga Mary Jane yang mau dieksekusi.

Untuk kasus kamu sendiri di Hong Kong saat ini sudah selesai, kan?

Eksekusinya belum, masih proses. Makanya masih menunggu lagi. Dia [Law Wan-tung] dipenjara enam tahun dan denda. Dendanya buat pemerintah Hong Kong sama kompensasi buat aku, tapi dia belum mau bayar. Hakim udah memutuskan, tapi dia yang enggak mau bayar.

Menurut kamu hukuman itu bagaimana?

Kalau dibilang pantas atau enggak ya itu enggak sesuai sama apa yang dia lakukan terhadap aku. Tapi kan hukumnya begitu, ya setidaknya itu membuat dia jera. Aku merasa belum sesuai apalagi aku masih trauma dan sakit hati.

Aku juga menyayangkan dia enggak ada minta maaf dan menyesal. Aku bisa aja memaafkan tapi dia saja enggak mau mengakui perbuatannya. Itu sih yang paling membuat aku, ya... susahlah untuk memaafkan.

Akibat dari penyiksaan dan trauma itu memengaruhi kuliah kamu?

Aku sering pusing, terus kalau mikir terlalu lama itu suka tiba-tiba blank. Tapi untungnya teman-teman di sini suportif, jadi bisa minta bantuan kalau ada yang enggak aku pahami dan banyak kerja kelompok juga.

Kadang kalau udah mentok, enggak bisa mikir dan enggak bisa mengikuti materi, ya sudah aku biarin aja. Setelah itu selesai kelas, aku belajar sendiri. Jadi, di kelas paling bisa mengikuti jam pertama dan kedua saja, selanjutnya udah enggak bisa fokus.

Diagnosis dokter apa yang menyebabkan itu?

Jadi aku mengalami pembengkakan otak karena sering dipukuli di kepala, di mata, seluruh wajah. Syaraf juga kena. Kepala ini sering enggak fokus, penglihatanku kan juga sudah terganggu, terus cepat lelah, apalagi kalau melihat layar.

Apa yang membuat kamu tetap semangat dan terus kuliah sampai tuntas?

Aku dikasih kesempatan kuliah, jadi aku gunakan sebaik-baiknya. Aku enggak pengin mengecewakan orang yang udah memberi beasiswa. Selain itu, aku juga ingin buktikan ke orang-orang bahwa buruh migran ini pintar-pintar lho, kenapa kita malah jadi budak di negara orang dan jadi tenaga yang tidak profesional? Kenapa kita enggak dididik di negara kita untuk membangun negara kita?

Selain itu, aku ingin membuktikan bahwa kita, buruh, selama ini dianggap berpendidikan rendah, bodoh, karena itu makanya kita bisa kena kasus. Kita berpendidikan tinggi pun bisa kena kasus. Padahal enggak ada jaminan kita aman, karena mereka yang punya uang dan kuasa dalam perdagangan orang itu bisa menyiksa siapa saja, enggak harus pendidikan tinggi atau rendah.

Jadi memang motivasi awal kuliah supaya bisa mengubah nasib?

Jadi buruh ke Hong Kong memang ingin mencari modal untuk kuliah, karena bapak kan buruh tani, ibu juga pernah jadi buruh migran di Brunei. Aku setelah lulus SMK pernah jadi buruh di restoran di Jakarta. Aku mikir kok begini terus, pingin mengubah nasib makanya ingin kuliah, kali aja dengan kuliah nasibnya bisa berubah.

Karena biaya kuliah mahal, aku ke Jakarta untuk kerja, terus ke Hong Kong ternyata malah dapat majikan yang jahat, dianiaya, pulang dengan keadaan kayak gitu. Setelah itu kasusku didemo banyak orang—oleh orang lokal HongKong juga, terus banyak yang nawarin kuliah.

Waktu itu banyak tawaran kuliah, dari Hong Kong, dari Australia. Kenapa pilih di Yogyakarta? Karena kondisi masih trauma. Selain itu juga dekat dengan LBH Yogyakarta yang menangani kasusku, dekat dengan pengacara lebih adem, ada ancaman atau apa pun jadi dekat gitu.

Dari awal memang ingin mengambil jurusan manajemen?

Awalnya pingin Sastra Inggris, tapi enggak keterima, soalnya aku daftar udah mepet banget. Agak terlambat daftar karena aku waktu itu masih pengobatan. Selain itu karena dulu aku SMK akuntansi, jadi biar enggak jauh-jauh aku ambil manajemen aja yang masih sejalan.

Di samping itu, aku bisa banyak belajar tentang ekonomi, kenapa kita harus jadi buruh migran, padahal negeri kita ini kaya sumber daya? Hanya mencari sesuap nasi aja mesti jauh-jauh ke luar negeri.

Beasiswa yang ditawarkan kampus untuk kuliah kemarin bagaimana?

Biaya kuliah penuh sama biaya hidup Rp600 ribu per bulan. Kalau buku, laptop beli sendiri. Kalau ada tugas-tugas nge-print segala macam juga sendiri. Tapi aku dapat donasi dari teman-teman di Hong Kong. Itu aku manfaatkan untuk kuliah.

Harapan kamu saat ini untuk teman-teman di Hong Kong?

Harapan sih ya kalau bisa enggak usah lagi ada buruh migran. Kalau bisa, kekayaan alam di Indonesia dibagikan secara merata, tidak dikuasai segelintir orang. Pemerintah ciptakan lapangan kerja biar kita enggak usah ke luar negeri—itu jangka panjangnya.

Ada saran dari kamu untuk teman-teman di sana agar enggak mengalami nasib serupa?

Aku enggak bisa melarang mereka jadi buruh, padahal aku maunya enggak usahlah jadi buruh migran lagi: enggak dihargai, kerja nonstop 20 jam, istirahatnya sedikit, gaji separuh dari gaji orang sana, kadang enggak dikasih makan, enggak dikasih libur—kayak aku dulu.

Tapi kita enggak bisa melarang ketika kondisi di daerah dia enggak punya lahan, enggak punya kerjaan, padahal dia punya tanggungan keluarga: ada yang kena jeratan utang entah dari bank, rentenir... Aku enggak bisa melarang mereka untuk tidak keluar negeri jadi buruh migran.

Sarannya kalau mau ke sana harus tahu bahasa, budaya, paham di sana bagaimana. Terus paham hukum dan hak hukum ketenagakerjaan di sana, hak-hak sebagai PRT, terus juga berani. Ketika ada masalah berani lapor, berani melawan, enggak takut untuk berjuang.

Enggak bisa juga aku melarang mereka ke luar negeri sementara aku belum bisa menciptakan lapangan kerja untuk mereka.

Waktu berangkat sebenarnya para buruh dan kamu tahu enggak risiko itu?

Orang-orang menganggap hal itu wajar. Padahal banyak teman yang setelah pulang dari luar negeri, sakit kronis, kanker akibat kerja berat dalam waktu yang lama, bahkan banyak teman yang ketika pulang enggak bisa punya anak, ketika hamil kandungannya lemah, jadi harus istirahat total.

Itu banyak dialami oleh teman-teman, anggota kami sendiri itu ada yang empat kali keguguran. Hamil terakhir bayinya meninggal dalam kandungan, makanya dia enggak tahu kapan bisa punya anak. Belum ada penelitian sih apakah penyebabnya itu, mungkin bisa diteliti dari bagian kesehatan. Tapi, rata-rata teman-teman kami mengalami itu.

Teman-teman menganggap itu hal wajar, karena dengan gaji besar ya dia harus rekoso [susah payah], jam kerja kan seharusnya 8 jam kalau mereka anggap kita bekerja, bukan budak. Gajinya kalau di Hong Kong jam kerja 8-10 jam minimal 10.000-11.000 dolar Hong Kong (sekitar Rp19 juta dengan kurs 1 dolar HK setara Rp1892). Lah kita gajinya 4.500 dolar Hong Kong (sekitar Rp8,5 juta).

Sudah pasti kamu enggak akan kembali jadi buruh migran, ya. Ingin kerja kantoran?

Iya, dulu pengin sih kerja di kantor dapat gaji lumayan, enggak kerja berat. Aku pengin kerja sampai sore, ada istirahat. Ingin kerja gitu di bank atau perusahaan. Tapi sekarang berubah total. Sekarang ingin bekerja untuk buruh migran, untuk teman-teman.

Orang tua pasti bangga sekali kamu sudah wisuda dan jadi seperti sekarang...

Iya... menangis. Terharu. Bapak-ibu kemarin datang waktu wisuda. Tapi adik enggak datang karena gantian sama orang tua mengurus sawah di kampung.

Kalau nanti adikmu ingin jadi TKI bagaimana?

Aku juga enggak melarang, biar dia merasakan bagaimana beratnya. Sekarang aku ingin dia merasakan semuanya, melanglang buana. Tapi sekarang dia sedang kuliah jurusan pertanian, harapannya dia akan balik lagi ke kampung, mengurus sawah, bangun desa untuk teman-teman di sana.

Baca juga artikel terkait BURUH MIGRAN atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
(tirto.id - Wawancara)

Reporter: Dipna Videlia Putsanra
Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Fahri Salam
Dari Sejawat
Infografik Instagram