Safari Kivlan Menjelang Penangkapan

Infografik Safari Kivlan Zen Jelang aksi 212
mayor jenderal (purn) tni kivlan zein (tengah) mengikuti acara apel siaga bahaya komunis yang diselenggarakan dpd fpi jabar di kawasan jalan dipenogoro bandung, jawa barat, selasa (31/5). kegiatan tersebut guna mewaspadai munculnya komunis gaya baru yang dinilai akan menghancurkan nkri. antara foto/agus bebeng/aww/16.
Oleh: Agung DH - 2 Desember 2016
Dibaca Normal 2 menit
Kivlan Zein ditangkap bersama sembilan orang lain karena diduga hendak melakukan makar. Setelah aksi 4 November, Kivlan rajin bersafari. Ke mana saja dan apa saja yang ia bicarakan?
tirto.id - Mayor Jenderal (Purn) Kivlan Zein merupakan satu dari sepuluh orang yang dicokok polisi pada Jumat pagi, 2 Desember 2016. Kivlan ditangkap di rumahnya, komplek Gading Griya Lestari blok H1 -15, Jalan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Mabes Polri Kombes Rikwanto kepada media menyampaikan bahwa delapan dari sepuluh orang itu—termasuk Kivlan, Ahmad Dhani, Ratna Sarumpaet dan Rachmawati Soekarnoputri--dikenakan tuduhan melanggar pasal 107 jo 110 KUHP jo 87 KUHP tentang makar.

Rikwanto menyampaikan penyidik Polda Metro Jaya tengah melakukan pemeriksaan terhadap delapan orang tersebut di Mako Brimob Kelapa Dua. “Untuk barang bukti sedang didalami di sana, yang jelas ini berkaitan permufakatan jahat,” kata Rikwanto tanpa menyebut permufakatan jahat seperti apa yang dimaksud.

Menjelang demo 212, Kivlan sebenarnya tidak “galak-galak amat” menanggapi persoalan dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama. Ia memang menyatakan menampik tudingan isu makar yang sempat berhembus, tapi tidak pernah mengeluarkan pernyataan apapun untuk menggulingkan pemerintahan.

Safari Kivlan

Setelah demo 4 November menyeruak di Jakarta, Kivlan memang pernah berbicara tentang Ahok dan dugaan penistaan agama. Namun ucapan Kivlan masih terkait isu yang biasa ia bicarakan di berbagai waktu dan berbagai tempat: bangkitkan komunisme.

Senin (7/11) silam, Kivlan muncul di Mungkid, Magelang, Jawa Tengah guna menjadi pembicara dalam sarasehan untuk peringatan Hari Pahlawan. Di ceramahnya Kivlan menyampaikan maraknya aksi berbau Partai Komunis Indonesia (PKI), bahkan mereka berani menggelar Kongres X di Grabag pada 2010 silam.

Kivlan juga menyebut kader-kader PKI gaya baru sudah menjamah pemerintahan dan berniat mencabut Ketetapan MPRS Nomor 25 Tahun 1966 tentang Pembubaran PKI. Kivlan menyatakan kebangkitan PKI nyata adanya.

Dari Magelang, Kivlan blusukan lagi ke Nganjuk, Jawa Timur pada Sabtu (12/11). Di sana ia menjadi penceramah dalam pengajian umum yang diadakan Dewan Dakwah Islamiyah. Di pengajian bertema “Peran Umat Islam Terhadap NKRI” itu, Kivlan menyerukan betapa besar peranan umat Islam dalam upaya merebut kemerdekaan Indonesia.

Namun saat ini partai yang berlatar belakang Islam sudah terpecah dan berjuang dengan berbagai macam cara. Lantaran itulah Kivlan berharap persatuan dan kesatuan akan selalu membuat bangsa Indonesia tetap kokoh.

Blusukan Kivlan berlanjut, Minggu (13/11) ia memberi ceramah di Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Dalam ceramahnya di hadapan 1.500 jamaah, Kivlan menyampaikan adanya bahaya komunis. Menurutnya kebangkitan komunisme pada zaman dulu karena banyak terjadi kemiskinan dengan adanya penjajahan Belanda, sehingga Partai Komunis dengan mudah masuk mempengaruhi rakyat Indonesia.

Kivlan menyebut adanya “pembelaan” terhadap Ahok yang telah melakukan penistaan Agama Islam. Ia menganggap hal itu merupakan salah satu gaya PKI/Komunis dan merupakan doktrin komunis yang mengadu domba sesama ulama dan ormas di Indonesia, demikian rilis yang diterima Tirto, Minggu (13/11).

Masih di Ponorogo, di hari yang sama, mantan Kepala Staf Kostrad ini kembali memberikan ceramah dalam Diskusi Kebangsaan di Universitas Muhammadiyah. Seperti yang disampaikan sebelumnya, Kivlan membicarakan lagi tentang komunisme gaya baru di Indonesia.

Menurutnya dengan adanya “partai besar” di Indonesia telah bekerja sama dengan Cina membentuk organisasi PKI dari pusat sampai tingkat bawah.

“Targetnya pada pemilu 2019 menguasai Indonesia dengan masuk di partai-partai dan KPU untuk mendapatkan suara. Untuk itu kita harus mewaspadai Kebangkitan Komunis gaya baru tersebut,” terang Kivlan.

Di hari yang sama pula Kivlan melanjutkan safarinya ke Magetan untuk bersilaturahim ke Yayasan Islam Al-Ikhlas. Di hadapan ratusan undangan yang hadir, Kivlan Zein mengatakan bahwa umat Islam Indonesia wajib membela negara, tujuannya untuk mempertahankan kedaulatan NKRI.



Menurut Kivlan, hal ini perlu dilakukan karena saat ini bangsa Indonesia menghadapi banyak rongrongan yang mencoba menggoyang kedaulatan NKRI. Gerakan yang sangat berbahaya yang baginya menjadi indikasi munculnya tanda-tanda kebangkitan partai komunis Indonesia yang telah dikemas dengan gaya baru.

Selain itu ia juga menyoroti persoalan politik di Jakarta yang memanas. Menurut hemat Kivlan, masyarakat menilai penanganan permasalahan dugaan penistaan agama yang dilakukan Basuki berjalan lambat sehingga umat Islam melakukan aksi damai.

Pada proses hukum Ahok, Kivlan berharap ada keputusan yang terbaik dan adil bagi rakyat Indonesia.

Empat hari lalu sebelum dicokok polisi, laporan inilah.com, Senin (28/11), di Markas HMI Kivlan terang-terangan menyebut para taipan besar berada di balik pencalonan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam Pilgub DKI 2017. Kivlan bahkan tak segan menyebut nama-nama serta perusahaan-perusahaan swasta yang berdiri di belakang Ahok.

"James Riyadi, Tommy Winata, Grup Astra, Grup Podomoro. Banyak yang punya uang, lah," katanya.

***

Jumat (2/12) sore, Prabowo Subianto angkat bicara soal penangkapan Kivlan dan kawan-kawan. Prabowo menilai tudingan makar itu kepada 10 orang itu terlalu berlebihan.

"Ya mungkin aparat punya dasar. Tapi, demokrasi itu artinya menjunjung tinggi menyatakan pendapat. Terlalu jauh kalau disebut makar," katanya.

Prabowo mengaku mengenal sejumlah nama yang ditangkap. Menurutnya, mereka orang yang idealis, patriotik, nasionalis dan mungkin sedikit keras, tapi tujuan mereka untuk kebaikan Indonesia.

“Ada putri proklamator. Kalau disebut makar, sih, saya enggak yakin," katanya.

Tapi polisi berkata lain, 10 aktivis yang ditangkap menjelang aksi bela Islam III Jumat pagi itu sebagai tersangka. Mereka antara lain, Kivlan Zen, Ahmad Dhani, Eko Suryo Santjojo, Adityawarman,, Firza Husein, Rachmawati Soekarnoputeri, Sri Bintang Pamungkas, Ratna Sarumpaet, Rizki Kobardi dan Jamran.

"Statusnya 10 orang terakhir tersangka. Setelah pemeriksaan baru dilanjutkan status selanjutnya," kata Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Rikwanto.

Baca juga artikel terkait POLITIK atau tulisan menarik lainnya Agung DH
(tirto.id - Politik)

Reporter: Agung DH
Penulis: Agung DH
Editor: Zen RS
DarkLight