Menuju konten utama
Pemilu 2024

Saat Artis Menuju Senayan: Modal Tenar Tak Cukup Pikat Rakyat

Pemilu 2024 diwarnai keikutsertaan para artis dan pesohor dalam kontestasi Pileg.

Saat Artis Menuju Senayan: Modal Tenar Tak Cukup Pikat Rakyat
Kompleks DPR, Senayan, Jakarta.

tirto.id - Pemilu 2024 diwarnai keikutsertaan para artis dan pesohor dalam kontestasi pemilihan legislatif (Pileg). Puluhan artis yang menjadi caleg itu memperebutkan kursi di DPR RI lewat dukungan parpol masing-masing. Sejumlah nama beken di telinga masyarakat saling bersaing, terpantau dari hasil perolehan suara sementara di daerah pemilihan (dapil) mereka.

Dalam laman resmi KPU yang menampilkan hasil hitung suara legislatif DPR RI 2024, diakses Selasa (20/2/2024) pada 13.15 Wib sore, sejumlah caleg artis terpantau menorehkan hasil suara yang cukup tinggi. Di Dapil Jawa Barat I yang meliputi Kota Bandung dan Kota Cimahi misalnya, pesohor seperti Melly Goeslaw bersaing dengan nama beken lain seperti Marcell Siahaan, Giring Ganesha, hingga kerabat politisi seperti Atalia Praratya Kamil.

Melly Goeslaw yang disokong oleh Partai Gerindra mendapatkan suara cukup tinggi dengan perolehan 26.269 suara. Marcell Siahaan dari PDIP, baru mendapatkan 4.210 suara. Angka tersebut jauh dari perolehan suara Nico Siahaan, saudaranya yang juga bertarung di dapil yang sama dengan perolehan sementara 19.124 suara.

Di sisi lain, Giring Ganesha, yang merupakan mantan Ketua Umum PSI mendapatkan suara sementara 14.811. Dia berada di urutan pertama dari 7 caleg yang ditempatkan PSI di Dapil Jawa Barat I.

Dapil Jawa Barat II yang meliputi Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat juga diisi oleh sejumlah artis. Para artis dan pesohor ini tak hanya bersaing di sesama mereka, namun juga berkompetisi bersama politisi senior yang maju ke Senayan. Contohnya ada Denny Cagur yang diusung PDIP dengan raihan 17.101 suara. Denny bersaing dengan sesama kader PDIP dari kalangan pesohor yakni Hengki Kurniawan yang sudah mendapatkan 17.688 suara.

Denny Cagur

Denny Cagur dan sang bunda. ANTARA/Instagram/wendicagur

Di Partai Gerindra, Rachel Maryam dan mantan atlet badminton, Taufik Hidayat tampak berada di pucuk. Masing-masing menorehkan 30.543 dan 25.167 suara di Dapil II Jawa Barat. Nama lain seperti petahana Dede Yusuf dari Partai Demokrat tampak mendapatkan hasil suara cukup banyak dengan 47.948 suara.

Persaingan ketat para artis dan pesohor juga terpantau di Dapil Jakarta I dan II. Di Dapil Jakarta I, ada nama-nama pesohor seperti Eko Hendro Purnomo, Yusuf Mansur, hingga Gilang Dirga. Eko yang diusung oleh PAN meraih angka cukup tinggi dengan 26.483 suara. Angka tersebut terpaut jauh dengan Ayu Azhari, sesama pesohor dari PAN, yang mendapat perolehan 2.836 suara.

Yusuf Mansur yang diusung oleh Partai Perindo mendapatkan 1.261 suara. Tidak jauh berbeda, Gilang Dirga yang merupakan kader PPP mendapatkan 1.455 suara.

Di Dapil Jakarta II, atau yang disebut "dapil neraka" karena diisi oleh pesohor dan politisi senior, beberapa artis juga mendapatkan suara yang cukup tinggi. Misalnya, penyanyi Once Mekel dari PDIP yang mendapatkan 23.710 suara. Begitupun Uya Kuya dari PAN yang mendapatkan perolehan 37.658 suara. Meninggalkan jauh sesama pesohor yang diusung PAN yakni Lula Kamal, dengan perolehan 12.891.

Artis yang lain yang mendapatkan perolehan suara besar seperti Nafa Urbach dari Nasdem yang mendapatkan 47.123 suara di Dapil Jawa Tengah VI. Contoh lain seperti Ahmad Dhani dari Gerindra yang bertarung di Dapil Jawa Timur I dengan 42.841 suara. Ada pula penyanyi Kris Dayanti dari PDIP di Dapil Jawa Timur V dengan 39.066 suara.

Di sisi lain, terdapat pula artis-artis ternama yang kemungkinan besar tersingkir dari persaingan meraih kursi anggota dewan sebab raihan suara yang seret. Misalnya, tiga caleg artis dari Perindo yakni Aldi Taher, Vicky Prasetyo, dan Dede Sunandar.

Aldi Taher yang maju di Dapil Jawa Barat VII hanya meraup 984 suara. Sementara Vicky Prasetyo yang berlaga di Jawa Barat VI menghasilkan 1.789 suara. Angka kecil juga berpotensi menjadi sandungan bagi Dede Sunandar yang maju sebagai calon DPRD Bekasi V, dia hanya meraup 10 suara saja.

Sebagai informasi, perolehan di atas merupakan hasil sementara di laman KPU. Hasil ini merupakan gambaran dari data Sirekap yang tentu masih dapat berubah. Hasil pemilu resmi melalui hitung manual berjenjang KPU yang akan diumumkan paling lambat 20 Maret 2024.

Tak Cukup Modal Tenar

Analis politik dari Indonesia Political Opinion, Dedi Kurnia Syah, mengatakan modal popularitas atau tenar tidak cukup menggaet hati masyarakat untuk memenangkan Pemilu. Lebih dari itu, popularitas yang tidak terkait hal kontroversial akan menjadi bekal, serta dinilai memudahkan caleg artis mendapatkan simpati publik. Tokoh kontroversial akan kesulitan meraup simpati publik.

“Tentu [perlu] dilakukan, kampanye dan sosialisasi. [Misalnya] Primus Yustisio, Kris Dayanti, Hengki Kurniawan, masuk jajaran artis yang memang rajin dan mulai terbiasa ke masyarakat. Wajar, jika mereka mendapatkan porsi cukup besar, sementara Mulan Jameela, Ahmad Dhani, masuk kategori yang tidak begitu berhasil karena sisi kontroversial,” jelas Dedi.

Menyikapi fenomena masyarakat banyak menyukai caleg artis, Dedi mengatakan, ada semacam political fatigue di tengah masyarakat. Di mana kepercayaan pada politisi cenderung surut. Ini menyebabkan latar memilih bukan lagi soal aspirasi, tetapi lebih pada sekedar tren ketokohan.

“Tokoh yang dikenal utamanya kalangan artis dipilih bukan karena bisa dipercaya, tetapi karena siapapun yang dipilih tidak akan bisa mengubah apapun, ini bisa diartikan sebagai ambang keputusasaan publik pada politik,” terang Dedi kepada reporter Tirto.

Senada Analis politik dari SMRC, Saidiman Ahmad, menegaskan faktor kepopuleran bukan satu-satunya yang membuat caleg artis dapat lolos menjadi dewan. Salah satu yang menjadi penting dilakukan, adalah turun langsung ke akar rumput tempat mereka berlaga.

“Artis yang tidak melakukan sosialisasi positif ke masyarakat bisa dikalahkan oleh caleg yang melakukan kerja-kerja politik di tingkat akar rumput,” kata Saidiman kepada reporter Tirto.

Hal ini pula yang menjadi sebab penting caleg artis mendapatkan suara rendah atau tinggi di dapil mereka. Selain itu, dikenal saja tidak cukup, caleg juga perlu memiliki kualitas personal yang baik.

“Caleg-caleg artis memang memiliki modal kedikenalan. Namun, kedikenalan bisa dinaikkan melalui kampanye dan sosialisasi,” sambung Saidiman.

Masyarakat pada dasarnya sederhana, sebab mereka menginginkan caleg yang lebih merakyat dan mendengarkan aspirasi serta keluh kesah mereka. Maka, caleg populer yang sering turun ke masyarakat, “memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan penerimaan publik”.

Simulasi pemungutan suara di Bandung

Warga menerima vertas suara saat mengikuti simulasi pemungutan suara di GOR Saparua, Bandung, Jawa Barat, Selasa (30/1/2024). ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/rwa.

Jumlah Artis di DPR Tak akan Banyak

Analis politik dari Universitas Padjajaran, Kunto Adi Wibowo, memandang jumlah caleg artis yang akhirnya melenggang ke DPR akan tidak jauh berbeda dengan dua Pemilu sebelumnya. Caleg artis, kata dia, tidak menjadi vote getter atau pengumpul suara yang kuat dalam kontestasi pemilu.

“Menurut data saya pemilu 2014 dan 2019 artis yang terpilih juga segitu-segitu aja nggak nambah gede. Ada yang nggak jadi terpilih, ada yang baru terpilih jadi cuma ganti-ganti saja sekitar 16-17 caleg yang masuk DPR setiap pemilu,” tutur Kunto.

Menurut Kunto, hasil suara artis dipengaruhi juga oleh sikap masyarakat memandang urgensi pemilu. Beberapa pemilih yang tidak mau mencari informasi lebih dalam tentu akan mencoblos artis atau pesohor yang akrab di telinga dibanding caleg lain.

“Ada memang artis yang rajin atau turun ke basis dapil-dapil mereka. Ada juga artis yang nongkrong saja pakai medsos, atau nggak sempat turun karena kesibukan, atau bahkan malas turun, pasti ada tapi kasusistik tidak general,” sebut Kunto.

Peneliti dari Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI), Wawan Kurniawan, menyatakan artis atau pesohor sebenarnya memiliki modal keunggulan dalam hal popularitas. Masyarakat, kata dia, cenderung memilih nama yang mereka kenali dan seringkali diperoleh melalui eksposur media.

“Selain itu, artis cenderung menyampaikan pesan dengan cara yang lebih sederhana dan langsung, yang mungkin lebih mudah diterima oleh pemilih daripada narasi politik yang kompleks atau teknis,” kata Wawan kepada reporter Tirto.

Wawan menilai terdapat faktor X atau daya tarik khusus yang dimiliki oleh artis atau pesohor yang mungkin tidak ditemukan pada politisi tradisional. Hal ini dapat berupa karisma, daya tarik visual, atau kemampuan unik menghibur dan menarik perhatian pemilih.

“Artis dan pesohor memiliki keuntungan pengakuan nama yang signifikan, yang sering kali dianggap sebagai aset penting dalam politik. Pengakuan nama ini dapat mendorong pemilih untuk memilih mereka karena familiaritas, bahkan di atas pengalaman politik,” sambung Wawan.

Di sisi lain, beberapa pemilih mungkin memiliki rasa frustasi atau kecewa dengan status quo politik dan percaya bahwa artis atau pesohor sebagai wajah baru. Bisa berupa harapan pada perubahan yang diinginkan, meskipun para artis ini minim pengalaman.

“Seperti yang ramai di Medsos ketika Komeng meraih suara terbanyak, ada komentar, ‘Wakil rakyat sering melawak, jadi mending sekalian pilih pelawak yang sebenarnya!’,” jelas Wawan.

Baca juga artikel terkait CALEG ARTIS atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Politik
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Anggun P Situmorang