Menuju konten utama

RUU Pekerja Gig Masuk Prolegnas, PKB: Ini Masa Depan Kerja

Inisiator RUU Pekerja Gig Syaiful Huda tegaskan pentingnya regulasi baru bagi ojol hingga kurir demi masa depan dunia kerja digital RI.

RUU Pekerja Gig Masuk Prolegnas, PKB: Ini Masa Depan Kerja
Sejumlah pengemudi ojek daring (ojol) melakukan aksi demonstrasi di kawasan Patung Kuda, Jakarta, Selasa (20/5/2025). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Fraksi PKB DPR RI mendorong Rancangan Undang-Undang (RUU) Pekerja Gig masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2026. Langkah ini sebagai upaya konkret memayungi masa depan dunia kerja digital di Indonesia.

Inisiator RUU Pekerja Gig, Syaiful Huda, menegaskan bahwa regulasi khusus ini sangat mendesak demi memberikan perlindungan hukum bagi pekerja berbasis platform seperti pengemudi ojek online (ojol) hingga kurir. Di tengah perubahan zaman, Huda mengingatkan agar negara tidak terlambat merespons ekosistem ekonomi digital baru yang kini mulai didominasi oleh generasi muda.

“RUU ini menjadi sangat penting dan harus terus kita kawal. Jangan sampai dunia kerja sudah berubah sedemikian cepat, tetapi regulasi kita masih menggunakan kacamata lama,” jelas Huda dalam diskusi bertema Bebas tapi Cemas: Mengapa Gen Z dan Gen Alpha Butuh UU Khusus Pekerja Gig? di Ruang Rapat Fraksi PKB DPR RI, Selasa (8/9/2026).

Baca juga:

Lonjakan Sektor Kerja Fleksibel dan Adaptasi Regulasi Global

Menurutnya, negara tidak boleh terlambat merespons perubahan besar dalam pola hubungan kerja yang terjadi akibat perkembangan teknologi dan ekonomi digital.

"Kalau kita melihat perkembangan ekonomi dan dunia kerja ke depan, saya membayangkan mungkin 40 persen atau bahkan lebih masyarakat akan bekerja dalam skema gig. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia,” kata Huda.

Huda menuturkan, dalam RUU Pekerja Gig, terdapat berbagai subsektor pekerjaan yang memiliki karakteristik kerja fleksibel, berbasis proyek, atau berbasis platform.

Ia mengatakan, Indonesia dapat mempelajari berbagai pengalaman negara dalam mengatur perkembangan ekonomi digital dan pekerja gig.

“Malaysia sudah memiliki pengaturan mengenai pekerja gig. Kita juga bisa mempelajari pengalaman Amerika, Eropa, dan negara-negara lainnya. Tentu bukan untuk menyalin begitu saja, tetapi mengambil pelajaran yang sesuai dengan kondisi Indonesia,” katanya.

Ekosistem Digital Sehat dan Dukungan Prolegnas 2026

Aksi Hari Buruh di Bandung

Seorang jurnalis merebahkan diri di atas poster saat melakukan aksi memperingati Hari Buruh di Taman Cikapayang, Bandung, Jawa Barat, Kamis (1/5/2025). Aksi yang diikuti Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Pewarta Foto Indonesia (PFI) Bandung, dan Federasi Serikat Buruh Militan (Sebumi) itu mendesak DPR agar merevisi UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 serta mengajak buruh media untuk membentuk serikat pekerja di perusahaan atau lintas perusahaan sebagai upaya menaikan posisi tawar guna menghentikan eksploitasi terhadap buruh media. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/tom.

Huda menambahkan, dalam proses penyusunan RUU Pekerja Gig, DPR terus membuka ruang bagi aspirasi berbagai institusi, komunitas pekerja, pelaku industri, serta kelompok masyarakat.

Menurut Huda, perhatian terhadap persoalan pekerja gig juga semakin kuat dalam beberapa waktu terakhir, termasuk ketika isu kesejahteraan pekerja dan hubungan antara pekerja dengan perusahaan platform mendapatkan perhatian politik di tingkat nasional.

“Ini menunjukkan bahwa persoalan pekerja gig memang sudah menjadi isu penting yang harus segera mendapatkan kepastian regulasi,” tambahnya.

Karena itu, Huda menilai Indonesia membutuhkan regulasi yang mampu membangun ekosistem yang sehat dan saling mendukung antara pemerintah, perusahaan platform atau aplikator, pekerja, serta konsumen pengguna jasa.

Huda juga mengapresiasi dukungan Ketua Fraksi PKB DPR RI, Jazilul Fawaid, yang turut mendorong RUU Pekerja Gig menjadi usul inisiatif dan masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2026.

“Dalam perjalanan penyusunan RUU ini tentu masih banyak hal yang harus diperbaiki dan disempurnakan. Aspirasi dari berbagai fraksi dan kelompok masyarakat harus terus kita akomodasi,” jelasnya.

Baca juga artikel terkait GIG ECONOMY atau tulisan lainnya dari Muhammad Nizar

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Nizar
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Siti Fatimah