tirto.id - Aroma bumbu dan rempah masakan khas Aceh memenuhi ruang dapur. Kuah beulangong, kuah sie manok, hingga mie Aceh telah tersaji rapi dalam piring-piring hidangan untuk dimakan bersama.
Di tengah ruang dapur, ada seorang perempuan lansia yang duduk di lantai sambil memilah-milah beberapa lembar daun pisang. Sebaskom nasi diletakkan di sisi kanannya. Kedua bahan itu adalah komposisi utama untuk membuat bu kulah. Namanya Rusna. Usianya 74 tahun.
Dengan gerakan yang tampak sederhana, Rusna mengambil dua lembar daun pisang berukuran sekitar 50 x 50 sentimeter. Nasi putih kemudian diletakkan di atasnya. Secuil garam diambil dengan ujung jarinya dan ditaburkan ke dalam bungkusan.
“Ini biar nasinya gurih,” kata Rusna, Senin (24/8/2026).
Tangannya yang telah keriput kemudian bekerja dengan telaten. Empat sisi daun pisang ditekan dan dilipat perlahan hingga nasi membentuk kerucut. Di bagian ujung, sebatang lidi kecil ditusukkan sebagai pengunci.
Satu bungkusan selesai. Kemudian bungkusan berikutnya dibuat, begitu seterusnya.
Di tangan Rusna, nasi putih, daun pisang, garam, dan sebatang lidi berubah menjadi satu hidangan yang bagi masyarakat Aceh bukan sekadar pengisi perut. Itulah bu kulah.
Dalam bahasa Aceh, bu berarti nasi, sedangkan kulah berarti bungkus. Secara sederhana, bu kulah adalah nasi yang dibungkus menggunakan daun pisang hingga berbentuk kerucut. Namun jangan salah—di balik bentuknya yang sederhana, tersimpan cerita panjang tentang tradisi, keluarga, dan perubahan zaman.
Rusna mengenal bu kulah sejak masih remaja. Dia belajar membuatnya dari almarhum ibunya ketika ikut membantu mempersiapkan berbagai acara adat. Saat itu, membuat bu kulah merupakan bagian dari pekerjaan bersama yang dilakukan keluarga dan masyarakat ketika ada perayaan besar.
Puluhan bungkus bu kulah bisa dibuat dalam satu kesempatan.
Pengetahuan itu tidak diperoleh dari buku resep atau pelatihan khusus. Rusna cukup melihat, mengikuti, lalu mengulanginya berkali-kali hingga tangannya terbiasa.

Kini, puluhan tahun kemudian, keterampilan yang dipelajarinya dari sang ibu masih melekat kuat. Rusna tidak sekadar membuat nasi bungkus. Dia sedang mengulang sebuah pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Prosesnya pun tidak sesederhana memasukkan nasi ke dalam daun.
Beras terlebih dahulu dimasak hingga menjadi nasi putih yang pulen dan tetap hangat. Sementara itu, daun pisang harus dipilih dengan selektif. Daun yang digunakan harus lebar, utuh, dan tidak robek.
Setelah itu, daun dilayukan dengan cara dipanaskan atau diasapi di atas api kecil. Tahapan ini membuat daun menjadi lebih lentur sehingga mudah dilipat tanpa patah atau robek. Proses tersebut sekaligus menguarkan aroma khas dari daun pisang.
Setelah itu, barulah nasi dimasukkan dan dibentuk menjadi kerucut. Bagi orang yang belum terbiasa, melipat daun hingga menghasilkan bentuk yang rapi bukan pekerjaan mudah. Tapi, bagi Rusna, gerakan itu telah menjadi bagian dari ingatan tangannya.
Tak Terpisahkan dari Tradisi
Bu kulah memiliki tempat tersendiri dalam tradisi makan bersama masyarakat Aceh, terutama dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi.
Di sejumlah daerah di Aceh, hidangan Maulid tidak hanya menjadi urusan makan-makan, tetapi juga menjadi ruang berkumpul dan mempererat hubungan masyarakat.
Setelah salat Ashar, hidangan yang disebut idang (beragam makanan tradisional yang diletakkan dalam nampan besar) mulai dibawa ke meunasah (surau). Bu kulah menjadi salah satu bagian dari hidangan tersebut.
Tradisi makan bersama ini biasanya diikuti kaum laki-laki di meunasah. Makanan yang telah disiapkan kemudian dinikmati bersama sebagai bagian dari rangkaian peringatan Maulid.
Karena itu, bu kulah bukan sekadar nasi yang dibungkus daun. Ia hadir ketika keluarga berkumpul, ketika masyarakat bergotong royong, dan ketika sebuah kampung merayakan hari besar keagamaan serta adat.
Bentuk kerucutnya juga menyimpan makna simbolik. Bentuk yang menyerupai limas atau piramida dimaknai sebagai simbol keseimbangan, keteraturan, dan harapan terhadap kehidupan yang harmonis.
Sementara itu, daun pisang mengingatkan pada kedekatan manusia dengan alam dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.
Bahkan, proses mengasapi daun bukan hanya persoalan teknis. Aroma yang muncul dari daun yang dilayukan menjadi bagian dari karakter bu kulah itu sendiri.

Ketika Daun Pisang Mulai Langka
Namun, tradisi yang telah bertahan lintas generasi itu kini menghadapi persoalan yang tidak sederhana. Bahan utama pembungkus Bu Kulah, daun pisang, semakin sulit diperoleh.
Rusna mengatakan banyak lahan yang dahulu ditumbuhi pohon pisang kini telah berubah menjadi kawasan permukiman atau bangunan lain. Akibatnya, masyarakat tidak lagi mudah menemukan daun pisang yang cukup lebar dan utuh.
Rusna kini terkadang harus membeli daun pisang yang harganya sekitar Rp2.000 per lembar.
“Daun pisang sudah sulit dijumpai, kadang harus beli Rp2 ribu per lembar,” katanya.
Untuk membuat bu kulah, dibutuhkan 2 lembar daun pisang. Saat ada suatu perayaan, satu rumah biasanya membuat 8-10 bungkus bu kulah untuk dibawa ke meunasah.
Persoalan itu terdengar sederhana, tetapi bagi tradisi seperti bu kulah, hilangnya daun pisang berarti hilangnya salah satu bagian penting dari ekosistem pengetahuan yang selama ini menopangnya.
Sebab, tidak semua daun pisang bisa digunakan. Daun harus cukup lebar, tidak robek, dan memiliki kondisi yang baik agar dapat dilipat menjadi bentuk kerucut. Jika daun mudah pecah, proses pembungkusan menjadi jauh lebih sulit.
Cuaca ekstrem dan angin kencang juga menjadi tantangan tersendiri karena membuat daun pisang lebih rentan rusak.
Persoalan bu kulah ternyata bukan semata-mata soal ketersediaan daun pisang. Ada persoalan lain yang lebih dekat dengan generasi berikutnya: siapa yang akan membuatnya?
Membuat bu kulah membutuhkan ketelatenan. Daun harus dikumpulkan, dipilih, dipotong, dilayukan, lalu dilipat dengan teknik tertentu. Semua proses tersebut membutuhkan waktu.
Di tengah kehidupan yang semakin praktis, pilihan untuk membeli wadah atau bungkus nasi yang sudah jadi tentu terasa lebih mudah. Rusna pun menyadari perubahan itu.
Tidak banyak lagi anak muda yang tertarik mempelajari proses panjang membuat bu kulah. Padahal, keterampilan tersebut tidak bisa langsung dikuasai hanya dengan sekali mencoba.

“Sudah tidak banyak generasi muda yang mau,” ujarnya.
Bagi Rusna, tantangan terbesar justru ada di sana. Jika tidak ada lagi yang mau belajar, sebuah tradisi bisa hilang. Bukan karena masyarakat tidak menyukainya, melainkan karena tidak ada lagi orang yang memiliki keterampilan untuk membuatnya.
Anak-anak Rusna masih membantunya membuat bu kulah. Mereka mengambil daun, membantu menyiapkan nasi, dan mengerjakan proses pembungkusan secara berulang.
Satu demi satu bungkusan selesai, lalu dimasukkan ke dalam keranjang.
Pemandangan itu seolah memperlihatkan bagaimana sebuah warisan berpindah tangan. Dulu, Rusna belajar dari ibunya. Kini, dia masih membuat bu kulah dan mengajarkan prosesnya kepada anak-anaknya. Warisan itu bukan hanya tentang cara melipat daun pisang.
Ada kesabaran di dalamnya. Ada gotong royong. Ada pengetahuan tentang bahan-bahan yang tersedia di alam. Ada pula ingatan tentang kampung, keluarga, dan perayaan yang pernah dilalui bersama.
Karena itu, ketika satu bu kulah selesai dibentuk, yang terbungkus sebenarnya bukan hanya nasi. Di dalam kerucut daun pisang itu, juga terdapat cerita tentang bagaimana masyarakat Aceh menjaga tradisi melalui makanan.
Penulis: Firhan Farabi
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id

































