Menuju konten utama

15 Brand yang Sering Dikira Asing, Padahal Asli Indonesia

Intip daftar merek ternama asli Indonesia yang sering dikira dari mancanegara, mulai dari pakaian, restoran cepat saji, hingga perlengkapan rumah tangga.

15 Brand yang Sering Dikira Asing, Padahal Asli Indonesia
Hong Kong Tourism Board & EIGER: A Collaboration to Celebrate Adventure Across Nature and City. foto/DOk. Eiger
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sejumlah merek populer yang beredar di Indonesia sering disangka berasal dari luar negeri. Mulai dari merek pakaian, makanan, hingga perlengkapan rumah tangga, brand apa saja yang dikira dari mancanegara, tapi ternyata asli Indonesia?

Kamu mungkin pernah memakai produk-produk kosmetik profesional, menyantap donat lezat, atau membeli pakaian modis di gerai bergengsi yang terkesan sangat kebarat-baratan.

Menariknya, banyak dari kita yang sering kali berasumsi bahwa logo-logo elegan dan nama-nama berbau asing tersebut merupakan produk impor dari Amerika, Jepang, atau Eropa.

Kita terlanjur melekatkan citra "mewah dan berkualitas" hanya pada merek luar negeri, tanpa menyadari bahwa barang yang sedang kita gunakan justru lahir dan diproduksi di tanah air sendiri.

Di balik nama-namanya yang terdengar sangat internasional, brand-brand tersebut ternyata 100% asli Indonesia, bahkan sudah sukses mengepakkan sayapnya ke pasar global. Di sisi lain, hal ini membuktikan bahwa kreativitas kreator lokal sama sekali tidak bisa dipandang sebelah mata.

Kenapa Banyak Brand Indonesia Dikira Berasal dari Luar Negeri?

Zara

Ilustrasi Toko Fashion. [Foto/Shutterstock]

Ada beberapa faktor mengapa brand asli Indonesia sering dikira dari luar negeri, mulai dari pemilihan nama hingga desain visual produknya. Berikut beberapa alasan mengapa banyak brand lokal sering disangka dari luar:

1. Pengaruh Nama Berbahasa Asing

Salah satu penyebab utama adalah penggunaan nama merek yang terdengar seperti berasal dari Inggris, Prancis, Italia, atau negara lain. Nama berbahasa asing dinilai lebih mudah diingat sekaligus memberikan kesan modern, premium, dan berkelas.

2. Branding dan Desain Visual Bergaya Internasional

Selain nama, identitas visual juga berperan besar dalam membentuk persepsi konsumen. Banyak brand Indonesia menggunakan logo minimalis, kemasan elegan, tipografi modern, hingga konsep toko yang mengikuti tren global.

3. Strategi Pemasaran agar Mudah Diterima Pasar Global

Sejumlah perusahaan Indonesia memang sengaja membangun citra yang universal agar produknya lebih mudah diterima di berbagai negara. Strategi ini mencakup penggunaan bahasa Inggris dalam materi promosi, situs web, hingga media sosial.

Bahkan, tidak sedikit brand lokal yang sengaja membuat materi promosi (seperti iklan TV atau media sosial) yang menggunakan model berwajah bule/orang asing. Dengan identitas yang tidak terlalu menonjolkan asal negara, sebuah brand dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

4. Produk Sudah Diekspor ke Berbagai Negara

Sudah banyak brand lokal yang berhasil menembus pasar internasional melalui ekspor. Produk-produk tersebut kini dapat ditemukan di berbagai negara, baik melalui distributor maupun platform e-commerce global.

Daftar Brand yang Sering Dikira Asing, Padahal Asli Indonesia

J.co donuts

donatt j.co foto/andrey gromico

Dunia bisnis Indonesia diam-diam memiliki "pahlawan lokal" yang berhasil menyamar dengan sangat sempurna. Mereka berhasil merebut hati konsumen yang mendambakan gengsi internasional. Siapa saja mereka? Ini dia beberapa merek lokal yang sering dikira dari luar negeri:

1. J.CO Donuts & Coffee

Siapa yang tak kenal donat J.CO? Banyak orang mengira J.CO Donuts & Coffee berasal dari Amerika Serikat karena mengusung nama berbahasa Inggris, konsep gerai modern ala coffee shop internasional, serta menawarkan donat dan kopi yang identik dengan budaya kafe Barat.

Padahal, J.CO merupakan brand asli Indonesia yang didirikan oleh Johnny Andrean. Dalam situs resminya, J.CO mulai membuka gerai pertamanya di Indonesia pada Juni 2005. Tak lama setelah itu, mereka membuka cabang di luar negeri seperti Malaysia, Singapura, hingga Arab Saudi.

2. Eiger

Header EIGER

Agenda EIGER Sepanjang 2026: Misi ke Sumatra, Rangkul Pendidikan di NTT, hingga Kompetisi Panjat Tebing Legendaris Berskala Internasional. FOTO/EIGER

Nama Eiger diambil dari nama sebuah gunung terkenal di Swiss sehingga tidak heran jika banyak orang mengira brand ini berasal dari Eropa. Ditambah lagi, desain produk, logo, dan konsep toko yang modern membuat citranya semakin identik dengan merek perlengkapan outdoor internasional.

Padahal, Eiger merupakan brand asli Indonesia yang didirikan pada 1989 di bawah naungan PT Eigerindo MPI. Sejak membuka toko pertamanya di Cihampelas pada 1995, Eiger terus melakukan ekspansi hingga akhirnya memiliki lebih dari 340 toko.

3. Executive

Banyak orang mengira Executive merupakan brand asal Amerika Serikat atau Eropa karena menggunakan nama berbahasa Inggris serta mengusung konsep busana formal bergaya internasional.

Executive sendiri adalah merek fesyen asli Indonesia milik PT Delamibrands Kharisma Busana. Pada 1983, Delamibrands mengakuisisi Executive 99 hingga akhirnya diperbarui dengan nama Executive. Saat ini Executive memiliki 60 toko serta lebih dari 100 konter di berbagai pusat perbelanjaan.

4. Buccheri

Nama Buccheri terdengar “sangat Italia” sehingga banyak orang mengira merek ini berasal dari negara tersebut. Ditambah lagi, koleksi sepatu kulit, tas, dan aksesori yang elegan semakin memperkuat citra sebagai brand fashion Eropa.

Faktanya, Buccheri merupakan brand asli Indonesia yang didirikan oleh Edi Yansah. Menurut laman resmi Buccheri, Edi Yansah yang berasal dari Kalimantan Barat merantau ke Jakarta di tahun 1980-an. Barulah pada tahun 1990-an, ia mendirikan Buccheri dengan toko pertamanya di Pasar Baru.

5. Terry Palmer

Sekilas, Terry Palmer terdengar seperti nama seorang desainer asal Inggris atau Amerika sehingga banyak konsumen mengira produk handuk dan perlengkapan rumah tangga ini merupakan merek impor.

Terry Palmer sebenarnya adalah brand asli Indonesia yang dimiliki oleh PT Indah Jaya Textile Industry. Brand ini diperkenalkan pada 1962 dan berkembang menjadi salah satu produsen handuk terbesar di Indonesia dengan produk yang telah diekspor ke berbagai negara.

6. Excelso

Dengan nama berbahasa asing dan konsep kafe premium, Excelso sering dikira sebagai jaringan kedai kopi asal negara Barat. Excelso ternyata adalah merek asli Indonesia yang didirikan oleh Soedomo Mergonoto di bawah PT Santos Jaya Abadi (Kapal Api Group).

Dikutip dari situs resminya, Excelso berdiri pada September 1991 dengan membuka gerai pertamanya di Plaza Indonesia, Jakarta. Nama brand ini terinspirasi dari kata “excellent so” yang meggambarkan komitmen perusahaan dalam menghadirkan kopi berkualitas tinggi.

7. Polygon

Polygon juga termasuk merek asli Indonesia, tapi sering dikira dari luar negeri karena brand sepeda ini menggunakan bahasa asing. Polygon sendiri merupakan merek yang bernaung di bawah PT Insera Sena yang berlokasi di Sidoarjo, Jawa Timur.

Sejak diperkenalkan pada 1989, sepeda Polygon telah dikenal luar. Sampai saat ini, Polygon telah memiliki setidaknya 500 outlet resmi yang tersebar di lebih dari 33 negara di berbagai belahan dunia.

8. Make Over

Sebagai salah satu brand kosmetik profesional, Make Over sering disangka berasal dari Eropa atau Amerika Serikat. Nama produk-produknya juga menggunakan nama berbahasa Inggris dan tampil layaknya merek kosmetik internasional.

Make Over sendiri sebenarnya adalah brand asli Indonesia yang diluncurkan pada 2010 oleh PT Paragon Technology and Innovation, perusahaan yang didirikan oleh Nurhayati Subakat yang juga menaungi brand Wardah.

9. Buttonscarves

Kaum hawa tentunya tak asing dengan merek Buttonscarves, brand fashion ternama yang sering disangka dari Eropa karena menggunakan nama berbahasa Inggris. Kenyataannya, Buttonscarves adalah brand asli Indonesia yang didirikan oleh Linda Anggreaningsih atau Linda Anggrea pada 2016.

Brand ini berfokus pada produk hijab premium sebelum akhirnya berkembang ke berbagai lini fashion dan lifestyle. Berkat branding yang kuat, kualitas produk premium, serta ekspansi ke pasar internasional seperti Malaysia dan Singapura, Buttonscarves kini memiliki citra layaknya luxury brand dari luar negeri.

10. California Fried Chicken (CFC)

Nama California Fried Chicken (CFC) menjadi alasan utama mengapa banyak orang mengira restoran cepat saji ini berasal dari Amerika Serikat. Penggunaan kata "California", logo bergaya Barat, serta konsep restoran yang mirip jaringan fast food internasional membuat banyak orang “tertipu”.

Faktanya, CFC justru berasal dari Indonesia dan kini sepenuhnya dimiliki perusahaan PT Pioneerindo Gourmet International Tbk. Pertama hadir pada 1983 di Jakarta, CFC akhirnya berkembang menjadi jaringan restoran cepat saji dengan ratusan gerai di berbagai daerah.

Ilustrasi CFC

Ilustrasi CFC. foto/istockphoto

11. SilverQueen

SilverQueen adalah produk cokelat asli Indonesia. Namun, berkat namanya yang menggunakan bahasa Inggris serta kemasannya yang modern, SilverQueen sering dikira sebagai cokelat asal Eropa atau Amerika.

Sejarah cokelat ini bermula dari akuisisi perusahaan Belanda bernama NV Ceres oleh pengusaha asal Myanmar, Ming Chee Chuang. NV Ceres lalu berganti nama menjadi PT Perusahaan Industri Ceres.

Pada 1950-an, keluarga Chuang mulai memperkenalkan merek cokelat SilverQueen di Indonesia, lalu mendirikan perusahaan Petra Foods yang saat ini dikenal sebagai Delfi Limited.

12. Krisbow

Nama Krisbow terdengar seperti merek perkakas asal Amerika Serikat atau Eropa sehingga banyak orang tidak menyangka bahwa brand ini berasal dari Indonesia. Krisbow merupakan merek milik Kawan Lama Group yang diluncurkan pada 1998.

Nama "Krisbow" sendiri merupakan singkatan dari Krisnandi Wibowo, anak dari pendiri Kawan Lama Group. Berkat jaringan distribusi yang luas dan kualitas produknya, Krisbow kini menjadi salah satu brand lokal yang dikenal luas dan paling sering disangka berasal dari luar negeri.

13. Hoka Hoka Bento (HokBen)

Nama Hoka Hoka Bento (kini menggunakan nama HokBen) memang terkesan “Jepang sekali”. Ditambah dengan menu khas Negeri Sakura, banyak yang akhirnya mengira bahwa restoran cepat saji ini berasa dari sana.

HokBen justru merupakan merek dari Indonesia yang didirikan oleh Hendra Arifin melalui PT Eka Bogainti. Restoran ini pertama dibuka pada 1985 di Jakarta. Meski menyajikan makanan bergaya Jepang, seluruh kepemilikan, operasional, hingga pengembangan menu dilakukan oleh perusahaan lokal.

14. Sophie Paris

Nama Sophie Paris (dikenal juga sebagai Sophie Martin) tentu tak asing bagi masyarakat Indonesia, khususnya pencinta mode. Namanya membuat banyak orang salah kaprah dan mengira brand ini berasal dari Prancis.

Merek ini didirikan di Jakarta pada 1995 oleh Bruno Hasson yang memang berasal dari Prancis. Sebagai strategi pemasaran, nama “Paris” ditambahkan pada merek Sophie Martin. Merek ini pun sukses memelopori bisnis fashion direct selling dan Multi-Level Marketing (MLM) di Indonesia.

15. La Fonte

Banyak konsumen mengira La Fonte merupakan merek pasta asal Italia karena menggunakan nama bernuansa Italia serta menawarkan produk seperti spaghetti, fettuccine, hingga macaroni.

Padahal, La Fonte adalah brand asli Indonesia yang dimiliki oleh PT Bogasari Flour Mills, anak perusahaan PT Indofood Sukses Makmur Tbk, dan diperkenalkan pertama kali pada 1991.

Brand ini dikembangkan untuk menghadirkan pasta berkualitas dengan bahan baku gandum pilihan yang diproduksi di Indonesia. Nama bernuansa Italia dipilih untuk memperkuat identitas produk pasta yang memang berasal dari negara tersebut.

Itulah beberapa merek asli Indonesia yang kerap disangka dari luar negeri. Siapa sangka, di balik nama-nama yang terdengar begitu asing, kebarat-baratan, atau oriental, ada keringat dan inovasi dari anak bangsa. Dari deretan nama di atas, mana merek favoritmu atau yang paling sering digunakan?

Baca juga artikel terkait BRAND LOKAL atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Edusains
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani