Menuju konten utama

Rupiah Melemah di Level Rp17.716 di Penutupan Perdagangan 22 Mei

Faktor eksternal di antaranya investor meragukan prospek perundingan perdamaian antara AS dan Iran. 

Rupiah Melemah di Level Rp17.716 di Penutupan Perdagangan 22 Mei
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026). Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026) melemah 106 poin atau 0,62 persen menjadi Rp17.287 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.181 per dolar AS, dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat perang AS dan Iran. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/kye
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah di level Rp17.716 pada perdagangan Jumat (22/5/2026). Rupiah melemah 49 poin atau 0,28 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.667.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan pelemahan rupiah hari ini dipengaruhi faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal di antaranya investor meragukan prospek terobosan dalam perundingan perdamaian antara AS dan Iran yang diprakarsai oleh Pakistan.

Lalu, ekonomi global disebut terus memanas akibat kenaikan harga minyak yang berdampak terhadap inflasi. Dampak inflasi disebut berpotensi membuat bank menaikkan suku bunga.

"Ada kemungkinan besar sampai akhir tahun ya, bank sentral Amerika ini akan menaikkan suku bunga 50 basis poin," terang Ibrahim dalam keterangan resmi, Jumat (22/5/2026).

"Kemudian, di hari ini pun juga, malam ini, Kevin Warsh diangkat sebagai Gubernur Bank Sentral Amerika. Ya, ini pun juga masih belum bisa membawa kebijakan-kebijakan bank sentral untuk kembali menurunkan suku bunga karena tensi inflasi yang cukup tinggi," lanjut dia.

Ibrahim melanjutkan, faktor internal melemahnya rupiah salah satunya adalah pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR beberapa waktu lalu yang diulas oleh pemeringkat internasional, salah satunya S&P Global. Lembaga itu disebut berpotensi menurunkan peringkat rating utang Indonesia.

Pasalnya, defisit fiskal dinilai bakal melebar mendekati 3 persen. Lalu, Prabowo disebut terlalu muluk soal pertumbuhan ekonomi mencapai 5,8-6 persen.

"Ini mengindikasikan bahwa dalam kondisi global yang tidak baik-baik saja yang kemungkinan besar akan menyasar di tahun 2027, pertumbuhan ekonomi begitu optimis di Indonesia," ucapnya.

"Sedangkan, saat ini kita melihat bahwa walaupun pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama di 5,61 persen, tetapi rupiah pun juga masih terus mengalami pelemahan. Bahwa segala cara dilakukan oleh Bank Indonesia sudah dilakukan, tujuh jurus pun juga sudah dilakukan," lanjut dia.

Ibrahim menambahkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga telah melakukan operasi pasar dengan menjual Surat Utang Negara yang mencapai Rp2 triliun-Rp4 triliun. Namun, penjualan itu dinilai belum bisa menguatkan rupiah.

"Apalagi, dampak dari pidato Presiden kemarin ya yang sangat mengganggu jalannya untuk komoditas ke depannya, yang akan dipantau satu pintu melalui Danantara. Ini pun juga kemungkinan akan terjadi monopoli dan di sini yang membuat arus modal asing keluar begitu deras," tuturnya.

Baca juga artikel terkait KURS RUPIAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fadrik Aziz Firdausi