Rukmini Zainal Abidin dalam Perang Kemerdekaan dan Industri Farmasi

Ilustrasi Apotek. FOTO/iStockphoto
Oleh: Petrik Matanasi - 23 September 2020
Dibaca Normal 2 menit
Sejak kecil, Rukmini Zainal Abidin kerap dibawa ayahnya ke apotek milik dokter Jerman. Kelak, ia menjadi produsen obat-obatan yang sukses.
Ketika masih tinggal di Bukittinggi, Sumatra Barat, Abdul Djalil--kelak menjadi saudagar kain batik di Pekalongan--sering membawa anaknya ke sebuah apotek milik dokter asal Jerman.

“Ciumlah hawa apotik ini. Isaplah dalam-dalam. Enak, bukan?” kata Djalil kepada Rukmini, anaknya.

Di zaman Jepang, Rukmini yang tamatan MULO Pekalongan dan Sekolah Menengah Tinggi Jakarta, kemudian belajar tentang obat-obatan di perguruan yang kini menjadi bagian dari Universitas Indonesia.

Sebelum Jepang menduduki Indonesia, seperti dicatat dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982 (1981:13), ketika keluarganya berada di Solo, Rukmini dibiasakan ayahnya ikut mengurusi perdagangan. Ia bahkan pernah disuruh mengurus kwitansi hingga ke Semarang sendirian. Di luar itu, dia suka menghabiskan waktu untuk membaca.

Selama di Jakarta, Rukmini akrab dengan buku-buku koleksi pamannya, Drs. Mohammad Hatta. Dalam Srikandi: Sejumlah Wanita Indonesia Berprestasi (1991:11), Rukmini mengakui bahwa ia belajar ketelitian, kehati-hatian, dan cara menata buku dari pamannya itu.

Masih di zaman Jepang, Rukmini magang di apotek Rumah Sakit Salemba--sekarang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Di tempat inilah ia berkenalan dengan Zainal Abidin, kepala apotek, yang usianya 10 tahun lebih tua dari Rukmini.

Dalam Who's who in Indonesia: Biographies of Prominent Indonesian Personalities in All Fields (1980:30) disebutkan, Zainal Abidin kelahiran 29 Desember 1914 di Sawahlunto, Sumatra Barat. Sementara Rukmini kelahiran Padang, 23 Februari 1924. Salah satu kawan mereka di zaman itu adalah penyair legendaris Chairil Anwar.

Pada 1948, Zainal Abidin menikahi Rukmini. Pasangan ini kemudian tinggal di sekitar Jalan Taman Kimia, Menteng, Jakarta Pusat.


Di masa Perang Kemerdekaan, seperti dicatat Thalib Ibrahim dalam Jiwa Juang Bangsa Indonesia (1975:16), Rukmini yang menjadi anggota Palang Merah Indonesia (PMI) merasakan betapa kurangnya obat-obatan bagi para pejuang. Kesulitan ini pernah mendorong pemerintah Indonesia melakukan barter dengan India antara obat dan beras.

Salah satu penyebab langkanya obat-obatan di pihak Republik adalah pesawat terbang yang membawa obat-obatan tersebut ditembak jatuh oleh pesawat tempur Belanda. Peristiwa itu kemudian melahirkan kisah-kisah penyelundupan obat-obatan dari daerah pendudukan Belanda yang dilakukan para gerilyawan Republik.

Pengalaman Rukmini dan Zainal Abidin di masa perang membuat mereka tergerak untuk bisnis obat-obatan. Setelah Perang Kemerdekaan berakhir, mereka membuka apotek di daerah Salemba yang bernama Apotek Tunggal.

“Nama itu kami ambil, karena baru kamilah orang pribumi yang memiliki apotek,” ujar Rukmini dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982 (1981).



Menurut catatan Thalib Ibrahim, apotek itu berdiri pada 1951 dan Rukmini sebagai pemimpinnya di bawah bendera PT Tunggal. Kala itu, apotek Belanda yang terkenal adalah Rathkamp yang jaringannya terdapat di kota-kota penting Hindia Belanda. Belakangan Rathkamp dikenal sebagai Kimia Farma.

Setahun kemudian, suaminya mendirikan pabrik farmasi yang bernma PT Abdi. Nama itu diambil dari kata "mengabdi". PT Tunggal dan PT Abdi perlahan mulai berkembang. Rukmini kemudian bermitra dengan sejumlah perusahaan obat luar negeri untuk mengembangkan sayapnya di Indonesia.

Sejak 1955, ia membangun hubungan dengan Bayer yang bermarkas di Leverkusen, Farbwerke Hoechst, dan La Petit. Obat-obatan Novalgin dari Hoechst dan Refagan dari Bayer pun kemudan diproduksi oleh perusahaan Rukmini. Peralihan kepemimpinan nasional dari Sukarno ke Soeharto semakin membuka lebar modal asing untuk berinvestasi di Indonesia, termasuk perusahaan farmasi.


Setelah 1967, pabrik modern mulai dikembangkan oleh Rukmini. Pada 9 September 1970, Presiden Soeharto meresmikan pabriknya yang di antaranya memproduksi antibiotik. Pada tahun itu, obat dari luar negeri menguasai 50 persen kebutuhan rumah sakit di Indonesia. Sembilan tahun kemudian, perusahaan Rukmini bekerja sama dengan Beecham Group memproduksi bahan baku antibiotik. Beberapa produk dari pabrik milik Rukmini bahkan diekspor.

Pada awal dekade 1990-an, Rukmini telah mempunyai seribu karyawan. Sejak 1953, ia telah memimpin sejumlah perusahaan, di antaranya PT Tunggal (1951), PT Shailendra Arya (1968), PT Internasional Cosmetics (1969), PT Reckit & Colman Indonesia (1969), PT Tunggal Putra (1979), dan PT Beecham Pharmaceuticals Indonesia (1979). Selain itu, sejak 1964 hingga awal 1990-an ia juga Komisaris PT Abdi.

Rukmini kemudian tak hanya dikenal sebagai produsen obat-obatan, tapi juga bermain di industri kosmetik. Ia terkait dengan merek Pond’s dari Amerika.

Baca juga artikel terkait FARMASI atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight