tirto.id - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyatakan dukungannya terhadap kesepakatan gencatan senjata sementara yang dicapai antara Amerika Serikat dan Iran. Langkah ini dinilai sebagai krusial guna meredam eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang kian mengkhawatirkan.
Juru Bicara 1 Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, mengungkapkan Indonesia memandang kesepakatan yang direncanakan berlangsung selama dua minggu tersebut sebagai momentum untuk mengedepankan jalur diplomasi dibandingkan konfrontasi militer.
"Pemerintah Indonesia menyambut baik kesepakatan gencatan senjata yang telah diumumkan selama dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran. Perkembangan ini mencerminkan adanya upaya dari pihak-pihak terkait untuk tetap membuka ruang diplomasi guna mendorong deeskalasi," ujar Yvonne dalam agenda press briefing di Kantor Kemlu di Jakarta, Rabu (8/4/2024).
Yvonne menekankan fokus utama Indonesia dalam menyikapi konflik di Timur Tengah adalah aspek kemanusiaan. Menurutnya, jeda pertempuran harus dimanfaatkan secara optimal untuk menjamin keamanan warga sipil yang kerap menjadi korban paling terdampak dalam ketegangan geopolitik.
"Indonesia akan terus mendukung setiap upaya diplomasi yang konstruktif, termasuk upaya agar gencatan senjata ini berkembang menjadi penyelesaian yang lebih permanen. Perlindungan warga sipil tetap menjadi fokus utama kita," tegas Yvonne.
Selain isu kemanusiaan, Yvonne juga menggarisbawahi pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional, khususnya mengenai kebebasan navigasi di wilayah perairan strategis seperti Selat Hormuz. Hal ini berkaitan erat dengan keamanan jalur logistik global dan kapal-kapal tanker milik negara, termasuk Pertamina.
"Kita kembali menegaskan pentingnya semua pihak menahan diri secara maksimal, menghormati kedaulatan, serta mengutamakan dialog. Dialog merupakan satu-satunya jalan untuk penyelesaian konflik," tambahnya.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu ke depan. Hal ini disampaikan oleh Presiden AS Donald Trump dan juga Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi di akun media sosial mereka.
Perundingan damai AS dan Iran yang dimediatori oleh Pakistan menunjukkan titik cerah. Setelah Trump mengancam akan menghancurkan Iran dalam satu malam jika negara tersebut tidak segera membuka Selat Hormuz paling lambat Selasa (7/4/2026) malam, keduanya lantas kembali berunding dan sepakat untuk genjatan senjata.
Penulis: Irfan Amin
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id

































