tirto.id - Update perang Iran vs Amerika terbaru pada hari ke-55 sejak pecah Perang Iran pada 28 Februari 2026 lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menyatakan pihaknya akan memperpanjang penundaan serangan ke Iran. Namun, proses perundingan penghentian perang tersebut masih tak pasti.
Situasi penuh ketidakpastian kini terjadi dalam upaya perundingan penghentian perang antara Iran dengan AS-Israel. Masih tak jelas bagaimana kedua negara akan merundingkan kesepakatan penghentian perang.
Para pejabat Iran disebut menyalahkan AS atas situasi ini. Seturut Al Jazeera, Washington telah menghambat proses perundingan dengan menerapkan blokade militer terhadap pelabuhan Iran.
Faksi garis keras Iran, seperti Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), menentang proses perundingan jika blokade tersebut tak kunjung dicabut.
Sikap tersebut turut meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz, seiring IRGC menangkap dua kapal kargo asing di sana dan menembaki satu kapal lainnya. IRGC menyebut ketiga kapal itu diserang karena tidak mengindahkan aturan lintas yang mereka terapkan.
IRGC sebelumnya menyatakan bahwa Selat Hormuz kembali ditutup sebagai respons atas blokade AS. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf belakangan mangatakan bahwa Hormuz tak akan dibuka selama blokade masih berlaku.
Dalam keterangannya itu, Ghalibaf menyebut blokade militer AS atas pelabuhan Iran sebagai "pelanggaran terang-terangan" Washington terhadap kesepakatan gencatan senjata kedua negara.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menggambarkan situasi terkini terkait Perang Iran sebagai situasi yang telah diperumit oleh AS. Ia menyebut bahwa Teheran ingin "dialog dan kesepakatan", namun hal itu jadi rumit untuk dicapai karena "pelanggaran komitmen, blokade, dan ancaman" AS.
Blokade AS Dilakukan dengan Dukungan Militer Besar
Militer AS, di sisi lain, menyatakan telah memukul mundur 31 kapal dalam operasi blokade yang memisahkan jarak pelabuhan Iran dengan perairan internasional. Blokade angkatan laut ini diterapkan dengan skala besar, melibatkan setidaknya 10.000 tentara, 17 kapal perang, dan lebih dari 100 pesawat.
Blokade ini merupakan cara Trump untuk menekan perekonomian Iran. Presiden AS itu percaya bahwa tekanan ekonomi akibat blokade akan mendorong Iran untuk kembali ke meja perundingan.
Meski begitu, masih tak jelas apakah langkah Trump ini akan efektif. Sebelumnya, pada Rabu (22/4), Trump mengumumkan perpanjangan masa penundaan serangan sebagai waktu bagi Iran untuk merumuskan proposal perdamaian. Jeda serangan ini berlaku dalam waktu yang tidak ditentukan.
"Presiden [Trump] belum menetapkan tenggat waktu yang pasti untuk menerima proposal Iran ... Pada akhirnya, tenggat waktu akan ditentukan oleh panglima tertinggi," kata juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt kepada para wartawan di AS.
Sementara itu, Senat AS telah membuat pemungutan suara bagi usulan untuk membatasi wewenang Trump dalam peperangan. Hasil voting menunjukkan usulan tersebut ditolak senat dengan perolehan suara 55-46.
Ketika senat melakukan pengambilan suara, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memecat Sekretaris Angkatan Laut John Phelan. Phelan jadi pejabat senior ke-34 yang dipecat selama pemerintahan Trump.
Jurnalis Lebanon Tewas Akibat Serangan Israel
Ketidakpastian juga menyelimuti Lebanon, salah satu negara yang jadi lokasi eskalasi konflik Perang Iran terjadi. Perundingan antara Israel dan Lebanon berjalan di AS, namun serangan tentara Zionis di Lebanon selatan telah membunuh seorang jurnalis.
Jurnalis yang terbunuh oleh serangan Israel itu adalah Amal Khalil. Ia terbunuh dalam serangan tentara Zionis di Kota al-Tayri, Lebanon selatan pada Rabu. Serangan ini juga melukai rekan Khalil, seorang jurnalis foto bernama Zeinab Faraj.
Dalam insiden itu, sebuah kendaraan di depan mobil yang ditumpangi Khalil dan Faraj diserang oleh Israel. Kedua jurnalis itu selamat dan berupaya untuk mengevakuasi di sebuah rumah dekat lokasi serangan.
Akan tetapi, saat kedua jurnalis itu menyelamatkan diri, serangan susulan Israel menghantam keduanya. Khalil tewas terbunuh, sementara Faraj terluka parah.
Ambulans dari Palang Merah Lebanon dilaporkan sempat berusaha datang ke lokasi serangan untuk mengevakuasi para korban, namun upaya ini dihalangi oleh tentara Zionis dengan melemparkan granat kejut ke arah tim medis itu.
Tentara Zionis telah menyebabkan seorang jurnalis mati terbunuh di Lebanon selatan, namun di luar insiden itu, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar membuat pernyataan bahwa Israel tidak memiliki "perselisihan serius" dengan Lebanon dan menyebut Hizbullah sebagai "penghalang perdamaian dan normalisasi".
Korban terbunuh dari serangan Israel tak hanya tercatat di Lebanon. Serangan udara militer Zionis juga telah menargetkan kelompok warga sipil di dekat Masjid Al-Qassam di Beit Lahiya, Jalur Gaza.
Badan Pertahanan Sipil Gaza menyebut bahwa setidaknya lima warga Palestina terbunuh dalam serangan tersebut. Dari lima korban terbunuh itu, tiga di antaranya adalah anak-anak.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id





























