tirto.id - Belum genap dua bulan menjabat, nama Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa gilang gemilang dalam sejumlah survei persepsi publik. Survei Indonesia Political Opinion misalnya, menempatkan Purbaya menjadi menteri peraih persepsi positif dari publik paling tinggi dibanding pejabat lain di Kabinet Merah Putih.
Survei yang dilakukan pada 9-17 Oktober dengan melibatkan 1.200 responden ini mengungkap bahwa sebanyak 17,5 persen responden mempersepsikan Purbaya sebagai menteri dengan kinerja terbaik. Tertinggi di antara menteri kabinet lain yang rata-rata hanya memperoleh persepsi positif di bawah 15 persen.
Nama Purbaya juga melesat dalam survei elektabilitas calon presiden dan wakil presiden dari lembaga survei IndexPolitica yang dilakukan pada 1-10 Oktober 2025 kepada 1.610 responden. Bendahara negara tersebut berhasil meraih elektabilitas sebesar 22,50 persen atau hanya kalah dari Presiden Prabowo Subianto (40.12 persen).
Dalam survei tersebut, Purbaya bahkan mengungguli sejumlah tokoh politik prominen seperti dua mantan gubernur yang juga kandidat calon presiden pada Pilpres 2024, yaitu Anies Baswedan (13,40 persen) dan Ganjar Pranowo (7,12 persen) dan Wakil Presiden Gibran sebesar 4,80 persen.
Menariknya, nama mantan Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga menjadi top of mind responden dalam survei elektabilitas calon wakil presiden. Purbaya menempati posisi tertinggi dalam survei elektabilitas calon wakil presiden dengan perolehan 28,65 persen. Ia mengungguli sejumlah tokoh politik lainnya seperti Dedi Mulyadi (20,15 persen), Agus Harimurti Yudhoyono (15,75 persen), dan Gibran (12,35 persen).
Sentimen Publik Terhadap Purbaya: Dari Negatif Jadi Positif
Cemerlangnya, nama Purbaya dalam beragam survei persepsi publik beralasan, sentimen terhadap mantan Kepala LPS tersebut dari masyarakat memang sedang positif.
Pantauan Litbang Kompas melalui Kompas Monitoring terhadap aktivitas warganet di lima platform media sosial, seperti Tiktok, Instagram, Facebook, Youtube, dan X. dalam periode 8 September hingga 13 Oktober 2025 menunjukkan sentimen positif terhadap Purbaya mencapai 47 persen, diikuti suara netral 25 persen dan negatif 28 persen.
Temuan Kompas menunjukkan adanya perubahan drastis dalam persepsi publik terhadap Purbaya. Pada tiga hari pertama setelah pelantikannya pada 8 September 2025, ia sempat mendapat sentimen negatif hingga 55 persen. Namun, pandangan tersebut perlahan berubah menjadi positif.

Kompas menilai perubahan sentimen ini menunjukkan adanya keterkaitan antara sikap, pernyataan, dan kebijakan yang disampaikan oleh Menteri Purbaya. Anggapan awal bahwa Purbaya memiliki gaya “koboi” yang sulit dikendalikan kini bergeser. Gaya spontan yang ditunjukkannya justru cenderung mendapat respons positif dari warganet.
Sementara itu, lembaga Drone Emprit juga memetakan sentimen publik terhadap Purbaya Yudhi Sadewa. Analisis dilakukan terhadap isu dan sentimen di enam platform, yaitu X, Facebook, Instagram, YouTube, TikTok, dan media online, dalam periode 7–16 September 2025 menggunakan kata kunci spesifik terkait Menteri Keuangan Purbaya.
Hasilnya menunjukkan bahwa isu tentang Purbaya muncul dalam 10.880 artikel dan 45.428 unggahan, dengan sampel percakapan di media sosial sebanyak 27.403 unggahan. Di media online, sentimen positif terhadap Purbaya mencapai 92 persen, negatif 1 persen, dan netral 7 persen. Sementara di media sosial, sentimen positif sebesar 46 persen, negatif 37 persen, dan netral 18 persen.
Temuan Drone Emprit menunjukkan bahwa sentimen positif terhadap Purbaya dipengaruhi oleh gaya komunikasinya yang humoris dan tegas, dinilai mirip dengan gaya Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Selain itu, komunikasi yang mudah dipahami publik, kebijakan penyaluran likuiditas bank senilai Rp200 triliun, pencairan pinjaman koperasi sesuai aturan, serta dorongan terhadap stabilitas pembiayaan nasional turut memperkuat citra positifnya.
Meski demikian, Drone Emprit menilai gaya komunikasi “koboi” Purbaya bisa menjadi pisau bermata dua. Ucapan yang lugas dan ceplas-ceplos membuat sebagian publik menilainya sebagai sosok jujur, berani, dan tegas. Namun, gaya yang dinilai terlalu percaya diri ini juga dapat memicu reaksi balik, karena sebagian masyarakat menganggap Purbaya kerap meremehkan aspirasi publik.
“Meskipun awalnya diwarnai kontroversi dan ketidakpastian pasar, sentimen publik terhadap purbaya perlahan berbalik menjadi positif, mencerminkan penerimaan terhadap gaya kepemimpinannya yang lugas serta optimisme pada kebijakan ekonomi yang menimbulkan harapan,” tulis Drone Emprit dalam kesimpulan temuannya tersebut.
Lalu, apa faktor yang membuat popularitas dan elektabilitas Purbaya melesat dalam waktu singkat?
Gaya Komunikasi Purbaya Mudah Diterima Masyarakat
Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, menilai terdapat beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan popularitas Menteri Keuangan Purbaya dalam waktu singkat.
“Pertama, kondisi ekonomi yang sedang menghimpit masyarakat membuat sosok Pak Purbaya tampil seperti oase di tengah gurun. Ia mampu menjelaskan isu-isu ekonomi dengan bahasa yang sederhana, menjadi antitesis dari Menteri Keuangan sebelumnya yang dinilai sulit dipahami. Karena itulah, beliau mendapat tempat di hati masyarakat,” ujarnya saat dihubungi Tirto, Jumat (31/10/2025).
Faktor kedua adalah kepribadian Purbaya yang dinilai apa adanya dan otentik, baik dalam berkomunikasi maupun berperilaku.
“Sifat otentik itu sempat menimbulkan polemik pada awal masa jabatannya, terutama ketika beliau salah merespons aksi besar 17 plus 8. Namun, beliau segera memperbaiki diri sehingga muncul rebound citra positif,” tambahnya.
Terpisah, Musfi Romdoni, analis sosio-politik dari Helios Strategic Institute, menilai tingginya popularitas dan elektabilitas Purbaya tidak muncul karena kinerjanya, melainkan lebih disebabkan oleh gaya komunikasinya. Ia menilai, lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut menghadirkan gaya komunikasi yang sangat kontras dengan Menteri Keuangan sebelumnya, yakni Ibu Sri Mulyani.
“Kalau kita perhatikan Sri Mulyani kan menggunakan gaya komunikasi tipikal teknokrat ya. Dia sangat berhati-hati bicara, sangat normatif, dan terkadang dinilai tidak sensitif. Tapi ketika Pak Purbaya hadir, dia berani menggunakan bahasa-bahasa yang menggugah emosi publik,” ujarnya saat dihubungi Tirto, Jumat (31/10/2025).
Dalam situasi ekonomi yang selama setahun terakhir diliputi pesimisme, kehadiran Purbaya dengan gaya komunikasi lugas dan berani justru menghadirkan efek psikologis positif. Gaya yang sering disebut sebagai “koboi” itu mendorong perubahan persepsi publik terhadap ekonomi menjadi lebih optimistis.
“Nah rasa optimisme itu kemudian terkonversi menjadi popularitas dan elektabilitas yang tinggi di survei terbaru kemarin,” ujarnya.
Fenomena tersebut sejalan dengan teori ekonomi perilaku atau behavioral economics, yang menekankan bahwa ekonomi tidak hanya soal angka, tetapi juga persepsi. Ketika persepsi publik terhadap ekonomi membaik, kepercayaan dan optimisme pasar ikut meningkat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat naik pasca-penunjukan Purbaya menjadi salah satu indikasinya.
“Kemarin kan IHSG naik karena persepsi publik menjadi positif. Jadinya, ketika persepsi masyarakat positif maka optomisme ekonomi otomatis naik,” ujarnya.
Purbaya Effect Mirip Jokowi Effect?
Musfi menilai bahwa secara metode, Purbaya Effect memiliki kemiripan dengan Jokowi Effect maupun Dedi Mulyadi Effect. Ia menjelaskan bahwa saat ini politik Indonesia tengah memasuki fase yang disebut sebagai fenomena politik selebritas, di mana politik bekerja layaknya industri hiburan. Dalam konteks ini, sosok yang viral dan populer cenderung secara otomatis meningkatkan daya tarik dan tingkat kesukaan publik terhadap dirinya.
“Ini kemudian dalam terminologi politik atau mungkin dalam bahasa-bahasa kekinian disebut dengan efek-efek yang tadi,” ujarnya.
Meski demikian, Musfi melihat adanya perbedaan signifikan antara Purbaya Effect dengan Jokowi Effect dan KDM Effect. Jokowi Effect terbentuk dalam rentang waktu yang panjang dan organik, sedangkan Purbaya Effect muncul secara cepat dan instan. Dalam waktu dua hingga tiga hari saja, persepsi publik yang semula negatif terhadap Purbaya dapat berbalik menjadi positif secara drastis.
Popularitas Baru Tangga Pertama
Menurut Agung, Purbaya kini hadir sebagai “oase” di tengah renggangnya hubungan antara elite dan publik. Meski demikian, ia menilai popularitas itu baru akan bermakna jika dibuktikan dengan kinerja nyata. Misalnya, apakah ia mampu mencapai target pertumbuhan ekonomi delapan persen di akhir masa pemerintahan.
“Jika tahun 2026 bisa mencapai 5,5 persen, lalu 6 persen pada 2027, 7 persen di 2028, dan delapan persen pada 2029, maka itu akan menunjukkan progres konkret. Begitu pula dalam menghadapi ancaman PHK massal atau menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, hal-hal praktis seperti itu perlu dijawab melalui kerja, bukan sekadar kata-kata,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa ujian lain bagi Purbaya adalah kemampuannya mengorkestrasi tim di internal Kementerian Keuangan agar lebih profesional dan bebas dari praktik korupsi. Selain itu, di eksternal, ia juga harus bisa mengoordinasikan kerja sama antar kementerian agar penyaluran dana publik tepat sasaran, sesuai peruntukan, dan efektif menggerakkan ekonomi.
Agung menilai kepemimpinan Purbaya juga akan diuji saat berhadapan dengan elite politik yang pernah ia kritik. Belum lama ini misalnya, Purbaya sempat terlibat adu argumen dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengenai data dana mengendap Pemprov Jabar berupa deposito di perbankan.
“Ujian soal kinerja dan kepemimpinan ini jika dilalui akan membuktikan bahwa ada sebuah Purbaya Effect yang kokoh dan tidak prematur. Kalau sekarang saya kira masih prematur karena beliau baru kurang dari dua bulan ditunjuk sebagai Menkeu,” ujarnya.
Lebih jauh, Agung menilai fenomena Purbaya Effect jika dikaitkan dengan ranah politik elektoral ke depannya, saat ini masih prematur. Ia menjelaskan bahwa dalam politik, popularitas hanyalah tangga pertama. Setelah itu ada tingkat akseptabilitas, yakni sejauh mana figur tersebut diterima baik oleh elit maupun publik, dan baru kemudian elektabilitas.
“Di level elite, akseptabilitas diukur dari kemampuan memimpin dan merespons situasi politik, sedangkan di level publik, diukur dari kinerja nyata. Jika akseptabilitas sudah terbentuk, barulah elektabilitas bisa muncul,” katanya.

Agung menekankan bahwa popularitas tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan akseptabilitas dan elektabilitas. Misalnya, seorang artis dengan popularitas seratus persen belum tentu dianggap layak menjadi presiden atau wakil presiden. Popularitasnya bisa turun drastis karena masyarakat menilai ketenarannya tidak relevan dengan kebutuhan kepemimpinan dan sistem politik kita.
“Artis X popularitas 100 persen tapi karena dia artis, muncul pertanyaan cocok gak jadi presiden atau wakil presiden? gak cocok, akhirnya anjlok bisa-bisa elektabilitasnya hanya sampai 4-5 persen saja. 95 persen-nya hilang itu karena tidak linear antara popularitas dengan akseptabilitas,” ujarnya.
“Untuk saat ini, popularitas Pak Purbaya sudah baik. Tantangannya terletak pada peningkatan akseptabilitas melalui kinerja nyata. Jika kinerja dan akseptabilitasnya kuat, elektabilitas akan mengikuti. Tapi jika tidak, popularitas itu hanya akan berhenti pada tataran wacana dan janji,” pungkas Agung Baskoro.
Sebelumnya, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa sendiri mengaku tidak tertarik untuk terjun ke dunia politik meskipun elektabilitasnya tercatat tinggi, seiring dengan namanya yang kian populer.
“Saya enggak tertarik politik. Saya mau kerja aja,” kata Purbaya menjawab pertanyaan awak media di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (29/10/2025) dilansir dari Antara.
Saat ditanya lebih lanjut soal elektabilitasnya yang tinggi, Purbaya kembali menjawab normatif soal dirinya yang tidak tertarik bergabung ke politik.
Kecil Kemungkinan Purbaya Gabung Parpol
Sebelumnya, sempat tersiar kabar bahwa salah satu partai politik yaitu Partai Amanat Nasional (PAN) dikabarkan tertarik menggaet Purbaya menjadi kader. Wakil Ketua Umum PAN, Eddy Soeparno, sempat berandai-andai tentang kemungkinan PAN menarik Purbaya untuk bergabung ke partai berlambang matahari itu. Meski demikian, katanya, Purbaya pun belum tentu tertarik dengan ajakan tersebut.
“Apakah kemudian Pak Purbaya itu menjadi salah satu calon besutan dari PAN untuk kita tarik ke PAN? Ya, belum tentu Pak Purbaya-nya juga mau,” ucapnya di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (29/10/2025).
Menanggapi hal tersebut, Musfi dari Helios menilai bahwa ketertarikan PAN terhadap Purbaya sebenarnya mudah dipahami. Menurutnya, PAN saat ini dikenal sebagai partai yang cenderung tertarik pada figur-figur viral dan populer yang dinilai mampu mendongkrak citra serta elektabilitas partai.
“Politik ini kan seperti semut dan gula. Popularitas dalam politik itu seperti gula, yang kemudian menarik semut-semut yang tadi,” ujarnya.
Namun, jika dilihat dari kalkulasi politik, Musfi menilai kecil kemungkinan Purbaya bergabung dengan partai politik. Ia menyebut, sepanjang sejarah pemerintahan Indonesia, posisi Menteri Keuangan umumnya selalu diisi oleh kalangan profesional, bukan kader partai.
Hal ini dilakukan untuk menjaga independensi kebijakan ekonomi agar tidak dianggap sebagai titipan atau kepentingan politik tertentu.
Selain itu, karakter dan gaya komunikasi Purbaya juga menunjukkan kecenderungan untuk tetap independen. Ia pernah menegaskan bahwa dirinya hanya mendengarkan Presiden dan tidak terlalu memedulikan pihak lain di luar itu.
“Jadi kalau misalkan Purbaya gabung ke partai politik, otomatis kan berarti dia kemudian mendengar arahan dari ketua umum partai politik. Dalam pandangan saya sangat kecil dan mungkin hampir mustahil untuk saat ini Pak Purbaya akan bergabung ke partai politik tertentu,” pungkasnya.
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Rina Nurjanah
Masuk tirto.id
































