Menuju konten utama

Purbaya Cemaskan Pergantian Rezim Jika Ekonomi 2026 Tak Membaik

Menurut Purbaya, di balik pergantian kekuasaan, ada biaya tidak murah yang harus dirogoh dari kocek negara.

Purbaya Cemaskan Pergantian Rezim Jika Ekonomi 2026 Tak Membaik
Purbaya Yudhi Sadewa dalam Pembukaan Rapimnas Kadin 2025. Doc; Tangkapan layar YouTube Kadin Indonesia.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, menilai ekonomi Indonesia sudah mengalami pelambatan sejak bertahun-tahun lalu. Bahkan, menurutnya pemerintah berulang kali melakukan kesalahan yang sama, sehingga membuat pertumbuhan uang beredar di pasar hampir nol.

“Pada tahun 1998, bunga kita naik, kita pikirkan kebijakan ketat untuk menjaga nilai tukar. Tapi pada saat yang bersamaan, Bank Sentral (Bank Indonesia) inject uang ke sistem besar-besaran, akibatnya apa? Bunga tinggi, privat sektor hancur. Uang banyak, rupiah hancur," ujarnya dalam Pembukaan Rapimnas Kadin Indonesia, di Hotel Park Hyatt, Jakarta Pusat, Senin (1/12/2025).

"Jadi, tahun 1998 itu, kita membiayai kehancuran ekonomi kita. Itu pelajaran yang saya dapet dari krisis 1998,” imbuhnya.

Pasca krisis ekonomi 1998, ekonomi Indonesia dinilainya tidak pernah benar-benar pulih karena pertumbuhan uang di sistem dibuat menjadi nol. Akibatnya, ekonomi Indonesia hanya bisa berada di level itu-itu saja, stagnan.

“Jadi, hampir pasti, oh nggak dibetulin. Kita sudah krisis, terus akan hancur. Jadi, lengkap,” sambung Purbaya.

Jika perbaikan tak segera dilakukan, menurutnya, uang terus-menerus menumpuk di Bank Indonesia (BI) dan ekonomi tidak juga kunjung menggeliat. Kondisi ini membawa kekhawatiran bahwa pergantian kekuasaan berpotensi terjadi di tahun depan.

Hal itulah yang kemudian membuatnya memutuskan untuk memindahkan dana Sisa Anggaran Lebih (SAL) yang selama ini hanya mengendap di Bank Sentral ke rekening pemerintah di bank-bank pelat merah.

“Ekonomi tu terlihat, ketika ekonomi melambat, saya juga ngga tahu kenapa melambat, tapi saya lihat, orang-orang turun ke jalan, demo besar-besaran. Kita lihat, apakah yang demikian akan hilang atau tidak? Kita nalisa, kemungkinan besar nggak hilang. Kalau ekonominya diperbaiki dan mungkin kita akan masuk resesi dan awal tahun depan, kita mungkin mengalami pergantian kekuasaan,” kata Purbaya.

Padahal, di balik pergantian kekuasaan, ada biaya tidak murah yang harus dirogoh dari kocek negara. Pada akhirnya, besarnya biaya itu akan semakin membebani masyarakat.

“Kalau Anda mau lihat kebijakan moneter longgar atau ketat, Anda tidak hanya harus melihat dari bunga, tapi Anda lihat laju pertumbuhan uang beredar, based money, M0,” pungkas Purbaya.

Baca juga artikel terkait PURBAYA YUDHI SADEWA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana