Menuju konten utama

Puncak Tertinggi Layanan Menginap Para VIP

Presidential suite room di hotel bintang lima memang bukan sebagai sumber uang. Namun, para pemilik hotel memiliki semacam keharusan untuk menyediakan layanan paling mewah ini.

Puncak Tertinggi Layanan Menginap Para VIP
Ilustrasi pelayanan hotel di President Suite. Foto/Istimewa

tirto.id - Ornamen harimau loreng yang masih utuh menghiasi dining room di lantai satu di salah satu ruangan megah. Keberadaannya menambah mewah ruangan temaram dengan pelbagai furnitur yang serba mengkilap dan tertata apik. Ruangan berlantai tiga ini dilengkapi empat kamar tidur, tempat makan, balkon, ruang tamu, ruang kerja, ruang ganti pakaian, toilet mewah dan sebagainya.

Seorang bisa bersantai dan berendam di Jacuzzi, atau sekadar membaca satu dua buku di perpustakaan dengan buku-buku yang berjejer rapi. Di lantai teratas, ada pemandangan birunya laut menyejukkan mata dan hembusan angin mengusap kulit saat Anda duduk di kursi malas.

Ini bukan kamar hotel biasa, ini adalah presidential suite room milik The Stones Hotel, Legian, Bali yang dibuka 2012 lalu. Masing-masing lantai luasnya sedikitnya 600 meter persegi dengan total luas ruangan kurang lebih 1.800 meter persegi. Hotel milik pengusaha Oesman Sapta Odang--pemiliki jejaring bisnis OSO Group ini disebut-sebut salah satu presidential suite room terbesar.

Fasilitas presidential suite sebuah hotel berbintang lima belakangan ini menjadi pembahasan ihwal kedatangan Raja Salman ke Indonesia. Selama di Indonesia, pemimpin Arab Saudi ini beristirahat di presidential suite room Hotel Raffles Mega Kuningan Jakarta, dan presidential suite room St. Regis Nusa Dua, Bali.

Hotel Raffles Jakarta tak terlepas dari sosok Pangeran Alwaleed Bin Talal Bin Abdulaziz Alsaud sebagai pemilik Kingdom Holding Company (KHC). Menurut kingdom.com, KHC berinvestasi di Indonesia melalui bisnis Hotel Four Seasons Resort Bali di Sayan, Four Seasons Resort Bali di Jimbaran, Raffles Hotel Bali di Jimbaran, termasuk di Raffles Hotel Jakarta. Sementara itu, St. Regis seperti dipacak dari laman hotelnewsnow.com, merupakan milik PT Pacific Resorts Buana Indonesia, anak usaha dari Rajawali Corpora, yang merupakan perusahaan konglomerat Peter Sondakh.

Kedua hotel ini memiliki presidential suite room yang cukup megah, masing-masing punya luas 390 meter persegi dan 374 meter persegi. Luas kamar pamungkas dua hotel ini memang tak berbeda jauh, tapi tarifnya lumayan terpaut jauh, masing-masing Rp150 juta dan Rp20 juta. Tarif dua presidential suite dua hotel ini memang tak seberapa dengan kamar-kamar khusus hotel papan atas di dunia, misalnya Royal Suite di St. Regis Hotel di Saadiyat Island Uni Emirat Arab (UEA), tercatat sebagai kamar hotel terbesar di UEA—ruangan dua lantai dengan teater pribadi dan fasilitas yang memanjakan tamu harus ditebus dengan biaya sewa US$ 35.000 per malam.

Di atas langit ada langit--biaya menginap per malam itu belum seberapa bila disandingkan dengan presidential suite yang ditawarkan oleh Hotel President Wilson di Geneva, seorang tamu harus merogoh $59.000 per malam atau setara dengan 360 kali lipat dari tarif rata-rata kamar hotel di dunia yang hanya $162 per kamar (Statista 2011).

Infografik Hotel Raja Arab

Presidential suite merupakan puncak dari jenis fasilitas kamar di sebuah hotel antara lain standard, superior, deluxe, junior suite, suite dan presidential suite room. Dalam laporan World Tourism Organization (UNWTO) yang berjudul Hotel Classification Systems: Recurrence of criteria in 4 and 5 stars hotels, memang hanya mencantumkan keberadaan jumlah kamar kategori suite untuk hotel bintang 4 dan 5 masing-masing minimal 1 dan 2 kamar dalam satu hotel.

Ruang megah dan maha mewah presidential suite memang terbatas, karena keberadaannya tak selaris ruang hotel standard, hanya tamu-tamu khusus atau VIP yang bisa menikmati pelbagai fasilitas khusus ini terutama di hotel-hotel besar yang biasanya tersedia pada hotel dalam jaringan grup global. Jumlah pasti keberadaan presidential suite secara global memang sulit melacaknya—tapi setidaknya bisa tergambar dari jumlah hotel bintang papan atas yang dimiliki pelbagai grup hotel skala internasional.

Statista dalam laporan yang berjudul International Hotel Groups by Number of Hotels Worldwide as of January 2015, mencatat sedikitnya ada 10 grup besar pemilik jaringan hotel berbintang di seluruh dunia, antara lain Wyndham Hotel, Choice Hotels International, InterContinental Hotels, Hilton Worldwide, Marriott International, Best Western, Accor, Home Inns, Jin Jiang, Starwood Hotel dan lainnya. Dari sepuluh grup besar ini saja sedikitnya ada 40.000 hotel bintang tersebar di seluruh dunia, dan tentunya memiliki presidential suite room.

“Yang namanya hotel bintang lima selalu ada presidential suite, selalu hanya satu presidential suite di setiap hotel, tidak ada yang dua,” kata Wakil Ketua Umum Bidang Destinasi Wisata Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Johnnie Sugiarto kepada Tirto.

Johnnie yang juga wakil ketua umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) ini mengungkapkan luas presidential suite room hotel tergantung kebijakan masing-masing pemilik hotel. Namun, rata-rata kamar khusus ini setara dengan 8-10 kamar standard, bahkan untuk presidential suite tertentu luasnya bisa setara 20 kamar standard atau lebih.

Sebagai sebuah ruang khusus yang banyak memakan lahan, presidential suite justru bukan ditargetkan untuk mendulang uang bagi pemilik hotel. Tarif yang super mahal, tak semua tamu bisa mencicipi kamar spesial ini, sehingga intensitas pemakaiannya atau komersialisasinya sangat minim dalam setiap tahunnya.

“Kalau kamar tidak dipakai, biasanya dipakai oleh owner dan keluarganya, ini membuat presidential suite tidak making money banget,” kata Johnnie.

Namun, di balik itu, keberadaan presidential suite yang representatif akan menjadi pilihan bagi orang-orang yang berkategori VIP atau VVIP seperti raja, kepala negara dan lainnya. Ambil contoh menginapnya Raja Salman di sebuah presidential suite, setidaknya para rombongan lain akan memesan kamar di hotel yang sama, tentu bisa mendongkrak tingkat isian kamar yang lainnya.

“Kalau raja menginap di situ maka menteri-menteri dan rombongan pun ikut. Presidential suite sebenarnya tidak rugi, tapi tidak untung, lebih untuk menarik gerbong tamu lainnya sebenarnya,” tambah Johnnie.

Raja Salman telah membuktikannya saat rombongannya menginap di Hotel Raffles Jakarta. Semenjak 26 Februari sampai 4 Maret 2017, pemesanan kamar di hotel ini memang sudah penuh, karena ada delegasi Arab Saudi yang menyertai Raja Salman.

Baca juga artikel terkait KUNJUNGAN RAJA SALMAN atau tulisan lainnya dari Suhendra

tirto.id - Bisnis
Reporter: Suhendra
Penulis: Suhendra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti