PSI: MotoGP Pakai Pawang Hujan, Formula E Perlu Pawang Anggaran

Reporter: Riyan Setiawan - 21 Mar 2022 08:28 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Juru bicara DPP PSI Sigit Widodo mengatakan warga Jakarta memerlukan pawang anggaran untuk mengusir tuyul-tuyul yang mengganggu uang rakyat.
tirto.id - Juru bicara Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Sigit Widodo menilai terdapat persamaan antara perhelatan MotoGP di Sirkuit Mandalika dan Formula E yang rencananya akan digelar di Ancol, Jakarta Utara.

Sigit mengatakan keduanya sama-sama perlu pawang. Bedanya, kata dia, MotoGP memerlukan pawang hujan, sedangkan Formula E butuh pawang anggaran.

Hal itu disampaikan Sigit mengomentari aksi pawang hujan Rara Isti Wulandari yang viral saat balapan MotoGP Mandalika 2022 kemarin.

“Warga Jakarta perlu pawang anggaran untuk mengusir tuyul-tuyul yang mengganggu uang rakyat,” kata Sigit melalui keterangan tertulis, Senin (21/3/2022).

Sigit menuding sejak awal perencanaan Formula E terdapat sejumlah pihak yang mengganggu uang rakyat. Ia mengatakan anggaran itu seharusnya digunakan untuk kegiatan yang lebih berguna untuk warga Jakarta di masa pandemi COVID-19.

Apalagi, kata dia, balapan Formula E tidak pernah masuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), namun tiba-tiba bisa masuk APBD-P 2019.

"Ajaibnya lagi, Gubernur Anies sudah memutuskan untuk berutang Rp180 miliar [Dari Bank DKI] dan membayar commitment fee sebesar Rp560 miliar sebelum APBD-P itu disahkan," ucapnya.

Sigit menilai leanehan anggaran terus berlanjut sepanjang perencanaan Formula E. DPRD DKI Jakarta menolak membiayai lagi Formula E, namun Pemprov DKI yang tadinya meminta Rp2,3 triliun untuk commitment fee selama lima tahun, tiba-tiba menurunkan jadi Rp560 miliar. Hal itu sama dengan jumlah yang diakui sudah ditransfer untuk commitment fee.

Saat Sirkuit Formula E akan dibangun, Sigit mengatakan keanehan kembali muncul. Tiba-tiba Jakpro mengaku sudah melaksanakan tender untuk pembangunan sirkuit.

“Seketika muncul nama PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama sebagai pemenang tender. Padahal di web e-procurement Jakpro hanya disebutkan terjadinya gagal tender,” ucapnya.

Keanehan terakhir, lanjut Sigit, terjadi saat pelaksanaan pembangunan sirkuit. Biaya yang sebelumnya hanya Rp50 miliar untuk pembuatan lintasan sirkuit, tiba-tiba dinaikkan menjadi Rp60 miliar.

"Padahal kontraktor sudah menghemat biaya dengan mengganti bahan lapisan bawah lintasan dari besi menjadi bambu,” ujarnya.

Dengan banyaknya keanehan ini, Sigit berharap warga Jakarta bisa punya pawang sehandal Rara.

“Mbak Rara datang, hujan menyingkir. Warga Jakarta butuh pawang anggaran yang begitu datang, tuyul-tuyul anggaran langsung menyingkir,” pungkasnya.

Terkait kenaikan anggaran pembangunan sirkuit Formula E di Ancol, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan hal itu terjadi lantaran lintasan akan dibuat permanen.

"Terkait Formula E seperti yang sudah disampaikan Pak Dirut Jakpro, memang ada penambahan anggaran dari Rp50 ke Rp60 [miliar]," kata Riza di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (7/3/2022).

Ketua DPD Jakarta Partai Gerindra itu menuturkan sirkuit akan dibuat sebaik mungkin sehingga bisa digunakan untuk balapan lainnya.

Sementara terkait proses tender, PT Jakarta Propertindo (Jakpro) mengklaim proses pengadaan dan pembangunan sirkuit Jakarta E-Prix 2022 sesuai prinsip pengadaan barang dan jasa.

"Tidak ada pemenangan tender terencana. Tim adhoc tender, beserta dengan konsultan telah bekerja secara profesional dan menjalankan prinsip GCG,” kata Vice Managing Director Formula E, Gunung Kartiko melalui keterangan tertulis, Kamis (10/2/2022) malam.


Baca juga artikel terkait FORMULA E JAKARTA atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Politik)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Gilang Ramadhan

DarkLight