tirto.id - Raditya Zhibran Setiawan (14) harus menghadapi hidup penuh tantangan di usia remaja. Akibat mengidap hepatitis autoimun, murid kelas VII di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 27 Banjarnegara ini tak bisa leluasa bermain dan belajar seperti kawan-kawannya.
Meski demikian, remaja yang akrab dipanggil Gibran ini tak menyerah. Sembari menjalani perawatan intensif, ia masih aktif belajar di Sekolah Rakyat demi mengejar cita-cita.
Menurut Gibran, semula gejala awal penyakitnya berupa tubuh mudah lelah dan kehilangan stamina. Kondisi itu terus berkembang hingga mengganggu aktivitas belajarnya di sekolah. Ia menjadi kerap sulit berkonsentrasi saat kesehatannya menurun.
“Waktu itu saya sering merasa lemas dan cepat capek. Saat belajar di sekolah juga rasanya tidak nyaman karena badan sering tidak fit,” kata Gibran.
Mengetahui Gibran kerap lesu dan kesulitan belajar, pengelola SRMP 27 Banjarnegara lantas memeriksakan kondisinya ke fasilitas kesehatan.
Karena Gibran sudah menjadi peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI), ia bisa memperoleh layanan kesehatan gratis.
Pemeriksaan awal berlangsung di Puskesmas Banjarnegara II untuk mengetahui penyebab gangguan yang dialaminya. Dari hasil pemeriksaan itu, dokter merujuk Gibran ke RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara untuk menjalani penanganan lanjutan.
Setelah itu, ia sempat menjalani rawat inap selama beberapa hari guna menjalani observasi dan pemeriksaan medis lebih lanjut.
Berdasarkan hasil pemeriksaan mendalam, dokter mendiagnosis Gibran menderita hepatitis autoimun. Penyakit akibat sistem kekebalan tubuh keliru menyerang sel-sel hati sendiri ini memerlukan penanganan intensif.
Untuk mendapatkan penanganan lebih komprehensif, ia kemudian dirujuk ke RS dr. Sardjito Yogyakarta. Di rumah sakit ini, Gibran menjalani operasi hati sebagai bagian dari pemulihan kondisi kesehatannya.
Menjalani pengobatan intensif saat usia masih remaja tentu bukan hal mudah. Selain harus beradaptasi dengan berbagai prosedur medis, Gibran terpaksa meninggalkan sementara aktivitas belajar dan kebersamaan dengan teman-temannya di Sekolah Rakyat.
“Saya takut tertinggal pelajaran karena harus sering kontrol dan menjalani perawatan. Tapi guru dan teman-teman memberi dukungan sehingga saya tetap semangat untuk sembuh,” ujarnya.
Di tengah proses pengobatan yang panjang, Gibran merasakan dukungan yang besar dari lingkungan sekolah. Meski tinggal di asrama dan jauh dari orang tua, perhatian para guru dan teman-temannya menjadi sumber motivasi, membantunya melewati masa-masa sulit.
Ia juga bersyukur karena seluruh layanan kesehatan yang dibutuhkan dapat diakses tanpa harus terbebani biaya berkat perlindungan dari Program JKN.
Saat ini kondisi Gibran mulai berangsur membaik dan ia masih menjalani kontrol kesehatan secara rutin. Ia pun berharap dapat segera pulih sepenuhnya agar dapat kembali mengikuti kegiatan belajar secara optimal dan mewujudkan cita-citanya.
“Saya ingin cepat sembuh supaya bisa belajar dengan semangat lagi dan tidak sering izin sekolah. Saya mengucapkan terima kasih kepada tenaga kesehatan yang sudah merawat saya dan Program JKN yang membantu pengobatan saya,” kata Gibran.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Kebumen, Dina Diana Permata, mengatakan perlindungan kesehatan bagi anak usia sekolah penting untuk mendukung tumbuh kembang generasi muda. Kondisi kesehatan yang baik akan membantu anak-anak menjalani pendidikan dan mengembangkan potensinya secara maksimal.
“Anak-anak merupakan generasi penerus bangsa yang perlu mendapatkan perlindungan kesehatan yang memadai," ujarnya.
“Melalui Program JKN, peserta dapat memperoleh akses pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan medisnya tanpa terkendala biaya, sehingga mereka dapat fokus pada proses pemulihan dan kembali melanjutkan aktivitas belajar,” lanjut Dina.
Kisah Gibran menjadi contoh nyata manfaat dari kehadiran negara dalam menjamin akses layanan kesehatan bagi masyarakat.
Melalui Program JKN, seluruh peserta memiliki kesempatan yang serupa untuk mengakses pelayanan kesehatan yang dibutuhkan. Masyarakat kurang mampu yang menjadi peserta PBI pun tetap bisa memperoleh layanan kesehatan maksimal.
“Kami berharap Gibran segera pulih dan dapat mengikuti seluruh aktivitas pembelajaran di sekolah dengan baik. Semoga pengalaman yang dialaminya dapat menjadi pengingat bagi masyarakat akan pentingnya memiliki perlindungan kesehatan melalui Program JKN,” ujar Dina.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id




























