tirto.id - Bagi banyak pesepakbola, jalan menuju Piala Dunia biasanya dimulai dari akademi, kompetisi kelompok umur, lalu secara bertahap merangkak sampai ke level profesional. Jalur tersebut memang tidak gampang, tapi arahnya jelas karena para pemain sudah dibina sejak usia dini.
Pemain Timnas Swedia, Taha Ali, menempuh perjalanan berbeda, bahkan bisa dibilang jauh dari pola lazim sepakbola modern. Ia bukan berasal dari keluarga mapan, bukan orang asli Swedia pula. Ali tidak lulus SMA, sempat kecanduan main gim, dan pernah kerja sebagai satpam. Ia juga sempat meniti karier di ranah futsal.
Pikiran macam apa yang bikin Graham Potter sampai memasukkan Taha Ali ke daftar skuad untuk Piala Dunia 2026? Alasan apa yang membuat pelatih Timnas Swedia itu "berani" menyandingkan Ali dengan nama-nama top The Blagult macam Anthony Elanga, Viktor Gyokeres, atau Alexander Isak?
Anak Pencari Suaka dari Somalia
Nama lengkapnya Taha Abdi Ali, lahir tanggal 1 Juli 1998 di Spanga, Stockholm, Swedia. Tempat lahirnya memang di Swedia, namun ia bukan orang asli Eropa. Orang tua Ali adalah pengungsi dari Somalia, pergi dari kampung halaman mereka karena ada perang saudara yang dipicu kekeringan dan kelaparan.
Setiba di Swedia, keluarga Taha Ali menetap di Tensta, kawasan di barat laut Stockholm, rumah bagi banyak komunitas imigran.
"Mereka datang ke sini untuk memberi kami kesempatan sukses dalam hidup, untuk menjadi orang baik, dan untuk kehidupan yang layak. Saya sangat bersyukur. Mereka tidak ingin anak-anaknya mengalami apa yang mereka alami," kata Taha Ali, dikutip dari laman UEFA.
Di Tensta, sepakbola hadir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Anak-anak bermain bola di lapangan kecil di antara gang-gang kampung imigran, memanfaatkan ruang kosong di sekitar. Taha Ali tumbuh dalam kultur itu, menghabiskan banyak waktu bersama bola sejak usia dini.
Taha Ali mulai bermain secara terorganisasi bersama Spanga IS pada usia 8 tahun. Namun, sebagian besar skill-nya lahir dari jalanan Tensta. Ia belajar menggiring bola dalam ruang sempit, menghadapi tekanan dari pemain bertubuh lebih besar, dan mencari solusi dalam situasi sulit tanpa menerima arahan dari pelatih.
Dalam wawancara dengan majalah Offside pada Maret 2024, Taha Ali mengingat fase ketika ia mulai mencoba masuk ke level lebih serius. Ia pernah mengirim surel kepada pelatih tim junior klub Alvsjo AIK, lalu datang ke tempat latihan dengan penuh rasa percaya diri.
"Saya mengirim email kepada pelatih dan bertanya apakah saya boleh datang. Saya pikir saya akan masuk, menggiring bola, mencetak gol," kata Taha Ali.
Namun, pengalaman itu berubah jadi titik awal keraguan. Taha Ali langsung melihat kesenjangan antara dirinya dan pemain lain yang lebih dulu menjalani pembinaan sejak usia muda. Ia menilai lawan-lawan seangkatannya lebih matang soal pemahaman sepakbola.
"Saya lebih lemah ketimbang pemain lain, mungkin lebih secara teknis, tetapi tidak lebih cepat. Pendidikan sepakbola saya lebih buruk. Pemain lain memahami sepakbola dengan cara berbeda," ujarnya.
Pengalaman tersebut meninggalkan dampak besar. Taha Ali mulai meragukan masa depannya di sepakbola dan merasa jalan menuju level pro begitu jauh. "Saat berada di Alvsjo, saya merasa mungkin jalan ini tidak akan pernah berhasil," ujarnya.
Masa Gelap, Futsal, dan Jalan Bertahan Hidup
Rasa ragu itu berkembang menjadi periode sulit dalam hidup. Di wawancara yang sama dengan Offside, ia mengaku sempat mengalami kecanduan gim komputer. Aktivitas itu mengisi sebagian besar waktunya pada masa remaja.
"Saya benar-benar kecanduan komputer. Saya bermain gim, mungkin delapan atau sembilan jam setiap hari," kata Taha Ali.
Kebiasaan tersebut membawanya menjauh dari lingkungan sosial. Dia mulai mengurung diri dan mengurangi interaksi dengan teman-teman di sekitar. Ia juga mulai berbohong agar bisa terus main gim tanpa diganggu.
"Saya mengurung diri, bahkan menjauh dari teman-teman. Dan saya mulai berbohong agar bisa bermain lebih banyak gim lagi," ujarnya.
Pada periode yang sama, Taha Ali tidak menyelesaikan sekolah menengah atas. Ia juga belum menemukan jalur jelas dalam karier sepakbolanya. Sementara itu, teman-teman seusianya mulai melanjutkan pendidikan atau masuk ke dunia kerja.
Untuk bertahan hidup, Taha Ali mengambil berbagai pekerjaan. Ia pernah kerja jadi pendamping siswa berkebutuhan khusus, juga sebagai satpam kereta bawah tanah dan kereta komuter di Stockholm. Pada fase itulah, mimpi sebagai pesepakbola pro terlihat sangat jauh untuk dijangkau.
Kendati begitu, Taha Ali tetap menjaga hubungan dengan sepakbola. Ia terus bermain di level bawah dan datang ke tempat latihan di sela-sela kesibukan kerjanya. Dalam fase ini, ia juga mulai menekuni futsal.
Taha Ali memperkuat Nacka Juniors FF dan Hammarby Futsal di Liga Futsal Swedia. Olahraga itu membantunya mengasah kemampuan kontrol bola dan kecepatan berpikir di ruang sempit, gaya mainnya juga sesuai dengan kebiasaan yang dibentuk sejak kecil di Tensta.
Performa di klub futsal tersebut membawa Taha Ali ke level internasional. Antara 2018 hingga 2019, ia mencatat enam penampilan dan mencetak satu gol untuk Timnas futsal Swedia.
Di sisi lain, meski sempat memperkuat timnas futsal, Taha Ali tetap mengejar karier sepakbola. Ia sempat bermain untuk IFK Stocksund di Divisi 2 Swedia, lalu melanjutkan ke Sollentuna FK di Divisi 1. Kariernya berjalan tanpa sorotan, tapi performanya mulai berkembang secara konsisten.
Orebro SK kemudian memberinya kesempatan pada Februari 2021 dengan kontrak profesional, tepatnya saat Taha Ali berusia 22 tahun.
Dalam wawancara siniar Lundh, ia menyebut momen itu sebagai hasil dari proses panjang penuh asam garam. "Kerja keras membuahkan hasil. Saya pernah meragukan diri sendiri ketika hari-hari berjalan buruk," kata Taha Ali.
Taha Ali juga mengingat berbagai kesulitan, mengatakan bahwa, "Saya mengalami cedera lutut, bekerja sambil bermain bola, keluar dari sekolah, dan mengalami kecanduan gim."
Menuju Panggung Piala Dunia
Kesempatan di Orebro SK belum berjalan mulus. Taha Ali kesulitan mendapat menit bermain secara konsisten sehingga klub meminjamkannya ke Vasteras SK. Keputusan itu menjadi titik balik penting dalam kariernya.
Di Vasteras lah, Taha Ali akhirnya mendapat kepercayaan bermain reguler. Ia memanfaatkan kans ini untuk unjuk skill satu lawan satu, kecepatan, dan kreativitas dalam menyerang. Penampilannya mulai menarik perhatian publik sepakbola Swedia.
Eks kiper Manchester United, Anders Lindegaard, dalam satu waktu memujinya usai menghadapi Taha Ali di kompetisi. Lindegaard menilai kemampuan Taha Ali berada di atas rata-rata pemain liga.
"Mereka mungkin memiliki pemain terbaik di liga, jika bukan pemain terbaik di sepakbola Swedia," kata Lindegaard kepada Expressen.
Performanya di Vasteras membuka jalan karier Taha Ali ke level lebih tinggi. Ia lalu hijrah ke klub Helsingborgs IF, sebelum direkrut raksasa Swedia Malmo FF pada Januari 2023.
Di sana, Taha Ali menghadapi tekanan lebih besar tapi tetap mampu tampil konsisten.
Pada musim pertamanya bersama Malmo, Taha Ali mencetak 6 gol dan 7 assist, membantu timnya meraih gelar juara Liga Swedia. Performa itu juga membuat namanya masuk radar Timnas.
Ali akhirnya debut bersama Timnas Swedia pada Januari 2024 dalam laga melawan Estonia, langsung bikin satu assist dalam kemenangan 2-1. Penampilan itu sekaligus memperkuat posisinya sebagai opsi baru di sektor sayap Swedia.
"Dia sangat bagus satu lawan satu. Saya pikir dia bisa menyumbangkan sesuatu yang berbeda untuk tim," kata sang pelatih Graham Potter setelah Taha Ali ditunjuk membela skuad Timnas Swedia pertama kali pada November 2025, merujuk laporan SVT SPORT.

Jelang Piala Dunia 2026, Taha Ali kembali berkontribusi dalam laga pemanasan kontra Yunani dengan menyumbang assist. Setelah pertandingan berhasil imbang 2-2 itu kelar, Potter lagi-lagi melontarkan pujian untuk Taha Ali.
"Anda tidak bisa menunjuk banyak pemain di sepakbola dunia yang mampu melakukan apa yang bisa dilakukan Taha Ali malam ini," sebut sosok asal Inggris yang pernah membesut Chelsea ini.
Sekarang Taha Ali berdiri di panggung Piala Dunia sebagai pemain Timnas Swedia. Ia membawa perjalanan panjang dari Tensta, pekerjaan sebagai satpam kereta, sampai futsal, sebelum akhirnya melenggang ke panggung tertinggi sepakbola dunia.
"Saya bangga jadi orang Swedia-Somalia," ujarnya. "Orang-orang di Somalia mengikuti karier saya. Itu membuat mereka bangga dan menunjukkan kepada mereka bahwa mereka juga bisa mencapai sesuatu yang positif."
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id































