Menuju konten utama

Profil Erdogan, Presiden Turki: Hadir di G20 usai Bom Istanbul

Berikut adalah biografi dan profil Erdogan, Presiden Turki yang juga hadir di KTT G20 Indonesia, usai bom Istanbul.

Profil Erdogan, Presiden Turki: Hadir di G20 usai Bom Istanbul
Presiden Erdogan

tirto.id - Profil Erdogan, Presiden Turki yang juga hadir di KTT G20 Indonesia. Recep Tayyip Erdogan menjabat sebagai Presiden Republik Turki sejak 2014.

Sebelumnya, ia pernah menduduki posisi Perdana Menteri Turki sejak 14 Maret 2003 hingga 28 Agustus 2014. Pada tahun 2010, Erdogan terpilih sebagai Muslim Nomor 2 Paling Berpengaruh di Dunia. Hingga saat ini, pria kelahiran 26 Februari 1954 ini masih mempimpin Adalet ve Kalkınma Partisi (AKP, atau Partai Keadilan dan Pembangunan).

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tiba di Apurva, Kempinski Hotel, Nusa Dua, Bali untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tiba sekitar pukul 09.00 Senin (14/11/2022) sehari setelah ledakan mengguncang Istanbul.

Dalam agenda tersebut, Presiden Jokowi pada pertemuan bilateral dengan Turki, Senin (14/11/2022), di sela-sela KTT G20, menyampaikan duka cita kepada Erdogan atas serangan bom di Istanbul, yang menewaskan beberapa orang.

Profil Erdogan Presiden Turki

Tayyip Erdogan

Presiden Turki Tayyip Erdogan. FOTO/REUTERS

Erdogan lahir di Istanbul. Ia dibesarkan di sebuah kota kecil dekat pesisir Laut Hitam bernama Rize. Ia pun kembali ke Istanbul pada usia sekitar 13 tahun dan hidup dalam sebuah keluarga kelas menengah. Ayahnya adalah seorang pelaut yang bertugas sebagai penjaga pantai di Angkatan Laut dan berasal dari Rize.

Pria yang pernah menjadi pemain sepak bola profesional pada usia 16 tahun ini menjalani pendidikan dasarnya di sekolah agama bernama Sekolah Imam Hatip. Erdogan kemudian melanjutkan studinya ke Istanbul Marmara University untuk belajar ekonomi dan bisnis.

Ketika masih aktif menjadi mahasiswa, ia bergabung dengan gerakan politik yang berkembang di Negara Islam tersebut bersama Partai Keselamatan Nasional. Akan tetapi, setelah kudeta militer pada 1980 yang menyebabkan semua partai politik dibubarkan, ia pun lantas bekerja di sektor swasta. Pada 1982 menjalani wajib militer sebagai seorang perwira dengan tugas khusus.

Bekal ketika menjadi aktivis kemahasiswaan itulah yang kemudian membantu perjalanan kariernya sebagai politikus. Setelah demokrasi dipulihkan pada 1983, Erdogan diangkat menjadi ketua Partai Kesejahteraan di Provinsi Istanbul di tahun 1985.

Dari situ, Erdogan ikut serta dalam pemilihan wali kota untuk wilayah kosmopolitan Beyoglu di Istanbul tengah. Tak hanya itu, Erdogan juga mengajukan diri untuk maju sebagai calon anggota Dewan Nasional Agung Turki beberapa kali pada akhir 1980-an.

Baru pada 1991, Partai Kesejahteraan dapat melampaui ambang 10% yang dibutuhkan untuk memperoleh kursi untuk pertama kalinya di Dewan Nasional Agung. Dengan begitu, Erdogan pun terpilih sebagai anggota parlemen dari Provinsi Istanbul. Dalam pemilu lokal 1994, Partai Kesejahteraan akhirnya menjadi partai terbesar di Turki untuk pertama kalinya.

Di tahun itu pula, Erdogan mulai aktif dalam dunia politik dengan mengikuti pemilihan wali kota Istanbul, kota terbesar di Turki.

Berkat kemampuannya dalam berpidato dan strategi-strategi kampanyenya, ia berhasil menduduki kursi wali kota Istanbul dengan dukungan sebagian besar warga ibu kota Turki tersebut. Selaku wali kota Istanbul, ia terkenal sebagai administratur yang efektif dan populis. Erdogan tak hanya membangun prasarana dan jalur-jalur transportasi Istanbul, pada saat yang sama ia juga memperindah kota itu.

Pada Januari 1998, pengadilan tertinggi Turki menutup partai yang ia pimpin dan melarang anggotanya untuk melakukan kegiatan politik. Ia kemudian ditahan karena dianggap berusaha untuk melemahkan dasar-dasar sekularitas negara tersebut. Erdogan lantas mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan pada tahun 2001.

Partai Keadilan dan Pembangunan kemudian mampu menang telak dalam pemilihan umum tahun 2002 sehingga mampu menguasai hampir dua pertiga kursi parlemen. Namun, karena masih dalam masa hukuman, Erdogan tidak bisa menjadi perdana menteri saat itu sehingga Abdullah Gul, rivalnya, kemudian diangkat menjadi perdana menteri.

Akan tetapi, pada bulan Desember 2002, Dewan Pemilihan Agung membatalkan hasil pemilihan umum 2001. Sebab, disinyalir terjadi ketidakberesan pemilihan terhadap hasilnya. Maka dari itu, dilakukan pemilihan baru yang dihelat pada 9 Februari 2003. Dalam pemilihan umum ulang inilah Erdogan kemudian mampu mengungguli Abdullah Gul. Erdogan pun diangkat menjadi Perdana Menteri Turki hingga 2014.

Turki menggelar pemilihan presiden (pilpres) secara langsung untuk pertama kalinya setelah 91 tahun pada 10 Agustus 2014.

Perdana Menteri Turki Erdogan turut maju dalam pilpres tersebut. Dari pilpres itu, Erdogan terpilih menjadi Presiden Turki ke-12 dengan perolehan suara 52 persen mengalahkan dua pesaingnya. Pada 28 Agustus 2014, Erdogan resmi dilantik di kantor kepresidenan di Ankara. Pelantikannya itu akan mengantarkan Turki pada era baru karena dia diperkirakan akan mendesak dibuatnya konstitusi baru yang bisa menstransformasi negeri itu.

Respons Erdogan Soal Bom Turki

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Minggu mengatakan "serangan keji" dengan menggunakan bom di sebuah jalanan penuh kesibukan di Istanbul menewaskan sedikitnya enam orang dan melukai 50 lainnya.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Minggu (13/11/2022) mengatakan upaya-upaya untuk mengambil alih Turki melalui terorisme tidak akan berhasil.

Pernyataan itu dikemukakan menyusul terjadinya "serangan bom" di Istanbul yang mengakibatkan sedikitnya enam orang tewas, dan 53 lainnya mengalami luka-luka.

"Segera setelah serangan berbahaya itu, unit keamanan dan kesehatan dikirim ke lokasi kejadian, dan korban yang terluka dengan cepat dilarikan ke rumah sakit terdekat," kata sang presiden seperti dikutip Kantor Berita Ihlas.

Erdogan menyampaikan pernyataan tersebut di Bandar Udara Ataturk di Istanbul sebelum bertolak ke Indonesia untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok 20 (Group of 20/G20).

Ledakan itu menghantam jalur pejalan kaki Istiklal yang sibuk di sisi Eropa kota tersebut pada pukul 16.20 waktu setempat atau pukul 20.20 WIB.

Suara ledakan itu terdengar di seluruh Distrik Beyoglu yang bersejarah dan menyebabkan kepanikan parah, lapor media lokal.

Baca juga artikel terkait LAPSUS G20 atau tulisan lainnya dari Yulaika Ramadhani

tirto.id - Pendidikan
Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Iswara N Raditya