Menuju konten utama

Profil Ashari S, Kapten Kapal Asal Gowa Disandera di Somalia

Kapten Ashari Samadikun, masih disandera perompak Somalia bersama para anak buah kapal. Berikut profil kapten kapal asal Gowa, Sulawesi Selatan, itu.

Profil Ashari S, Kapten Kapal Asal Gowa Disandera di Somalia
kapten MT Honour 25 Ashari Samadikun. foto/MN Abdurrahman
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ashari Samadikun (33), seorang kapten kapal berkebangsaan Indonesia, disandera perompak Somalia selama hampir 4 bulan terakhir. Proses negosiasi telah berlangsung namun ia dan 16 anak buah kapal (ABK) lainnya belum kunjung dibebaskan.

Sebelumnya, Ashari disandera perompak Somalia ketika berlayar dengan kapal MT Honour-25 pada 21 April 2026 lalu. Semula, kapal yang dikemudikan Ashari sedang berlayar dari Oman untuk mengangkut minyak.

Akan tetapi, begitu tiba di perairan Somalia, kapal tersebut dihadang perompak. Ashari dan 16 ABK kemudian disandera. Selain Ashari, terdapat tiga WNI lain yang juga turut disandera.

Mengutip BBC, kapal tanker MT Honour 25 memuat 17 pelaut. Empat WNI yang ikut terdiri dari Ashari Samadikun sebagai kapten kapal asal Kabupaten Gowa, Adi Faizal adalah 2nd Officer dari Kabupaten Bulukumba, Wahudinanto selaku Chief Officer asal Pemalang, dan Fiki Mutakin dari Bogor.

Pada Rabu (19/8), pihak keluarga Ashari menyebut bahwa kapten kapal asal Gowa tersebut baru saja menghubungi mereka via telepon. Saat itu, Ashari bercerita bahwa sejumlah rekannya dari Pakistan sudah akan dibebaskan.

Sebaliknya, Ashari menyebut nasibnya masih belum jelas hingga kini. Ia juga mulai khawatir ketika rekan-rekannya mulai dibebaskan, sementara ia dan tiga WNI lainnya tak kunjung menerima kabar baik yang sama.

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Sulawesi Selatan sebelumnya menyatakan upaya pembebasan Ashari dan WNI lainnya telah dimulai. Kementerian Luar Negeri Indonesia dan Kementerian P2MI disebut telah diberitahu tentang indisen ini.

Akan tetapi, proses negosiasi masih terkendala oleh ketidaksepahaman antara Pemerintah Indonesia dengan para perompak. Selagi pihak Indonesia ingin negosiasi segera dimulai, para perompak bersikeras ingin bernegosiasi dengan penyewa kapal MT Honour-25 dan bukan pemerintah negara para sandera.

Kini, semua pihak tengah dipacu oleh waktu seiring kondisi kesehatan para sandera yang terus memburuk. Direktorat Layanan Pengaduan, Mediasi, dan Advokasi Pekerja Migran Indonesia (LPMA PMI) telah menginformasikan sejumlah ABK yang jadi sandera kini mengalami gangguan kesehatan di Somalia.

Sosok Ashari Samadikun, Kapten Kapal MT Honour-25 yang Disandera Perompak Somalia

Ashari Samadikun merupakan seorang pelaut yang berasal dari Gowa, Sulawesi Selatan. Selama ini, ia dikenal sebagai pelaut dengan rekam jejak pelayaran niaga. Selama bertahun-tahun, ia bekerja untuk perusahaan penyedia jasa distribusi komoditas via laut.

Seturut laman LinkedIn milik Ashari, ia merupakan lulusan Politeknik Ilmu Pelayaran Makassar. Ia lulus dari sana pada 2015 lalu.

Karier profesional Ashari bermula dari PT Usda Seroja Jaya, sebuah perusahaan pelayaran dan galangan kapal yang berbasis di Batam, Kepulauan Riau. Di sana, ia bekerja sebagai salah satu wakil kapten kapal pada 2016.

Dari sana, Ashari kemudian mengembangkan karier di bidang pelayaran niaga di luar negeri. Ia semula bekerja untuk Shin Yang Shipping SDN. BHD. yang berbasis di Malaysia pada 2017.

Dari Shin Yang, Ashari lantas pindah ke Fultonn Petroleum SDN. BHD. yang juga berbasis di Malaysia pada 2019. Karier ini kemudian membawanya menjadi perwira kapal untuk Global Tankers Private Limited.

Global Tankers Private Limited merupakan perusahaan pelayaran niaga asal India. Namun, Ashari bekerja di sana untuk melakukan pekerjaan dengan basis operasi di Uni Emirat Arab (UEA).

Pada April 2026, ia ditugaskan untuk menjadi kapten kapal MT Honour-25. Ia mengoperasikan kapal tersebut untuk membawa komoditas energi berupa minyak bumi dari kawasan Teluk Persia yang sedang memanas karena perang.

Ashari berhasil membawa MT Honour-25 keluar dari wilayah konflik. Namun, begitu sampai di Somalia pada April, kapalnya dicegat kelompok perompak. Ia dan 16 ABK lainnya disandera sejak saat itu.

Proses negosiasi pembebasan Ashari dan para ABK lainnya hingga kini belum berhasil dilakukan. Kelompok perompak menghendaki proses negosiasi dengan penyewa kapal MT Honour-25.

Akan tetapi, menurut keterangan Disnakertrans Sulsel, MT Honour-25 kini berstatus shadow fleet. Dalam industri pelayaran niaga, shadow fleet merupakan istilah untuk kapal tanker tua yang beroperasi di luar sistem pelayaran resmi, sehingga alur pertanggungjawaban pelayaran kapal tidak sepenuhnya tercatat.

Hal ini kemudian membuat proses negosiasi menjadi lebih kompleks. Baik pihak pemerintah negara para ABK maupun perompak, kini belum mencapai kesepahaman tentang siapa yang patut bertanggung jawab untuk memimpin negosiasi dan memenuhi tuntutan para perompak.

Situasi kemudian makin rumit seiring kondisi para sandera yang dilaporkan terus memburuk. Mereka kini telah disandera selama kurang lebih 4 bulan dan beberapa di antaranya berada dalam kondisi sakit.

Informasi dari Direktorat LPMA PMI menyatakan tujuh ABK yang disandera menderita sakit dan dua di antaranya mengalami infeksi saluran kemih. Kondisi ini diduga terjadi karena keterbatasan logistik dan minimnya layanan kesehatan yang bisa diakses para sandera selama ini.

Baca juga artikel terkait PROFIL TOKOH atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar