Menuju konten utama

Prinsip "You Complete Me" dalam Relasi, Masihkah Relevan?

Gagasan bahwa hidup akan jadi lebih baik dengan kehadiran pasangan sebagai pelengkap belum tentu tepat. Kodependensi bisa jadi salah satu risikonya.

Prinsip
Header Diajeng You Complete Me. tirto.id/Quita

tirto.id - Apa yang jadi harapanmu saat membuka tahun 2024?

Tentu bermacam niatan bisa muncul dalam benak. Ada yang punya keinginan mengubah penampilan supaya lebih fresh, bisa berkarier di tempat baru, atau lebih rajin untuk berolahraga—resolusi favorit tahun baru bagi kebanyakan orang.

Sebagian lain dari kamu mungkin punya harapan yang lebih deep, dalam hal asmara misalnya, ingin berjumpa dengan orang yang tepat dan menjalin relasi yang langgeng dengan si dia.

Tentu tak ada yang keliru dengan harapan itu. Namun, sebelum jauh melangkah, apa kamu sudah sempat berangan-angan kira-kira orang seperti apa yang akan jadi pendampingmu kelak?

Pandangan umum selama ini sering memposisikan pasangan yang ideal dan romantis sebagai “kepingan” yang dapat melengkapi diri kita, atau populer dibingkai dalam kalimat puitis “you complete me”.

Tak mengherankan gambaran hubungan berbasis idealisme “you complete me” kemudian sering dikutip dalam berbagai konteks relasi, termasuk pernah digaungkan oleh Hollywood lewat komedi romantis lawas yang diperankan Tom Cruise, Jerry Maguire (1996).

Header Diajeng You Complete Me

Header Diajeng You Complete Me. Foto/istockphoto

Meski terdengar romantis, berpatok pada gagasan bahwa hidup akan menjadi lebih baik jika bertemu dengan orang yang bisa jadi pelengkap ternyata belum tentu tepat.

Alasannya, pandangan tersebut menimbulkan anggapan bahwa kita membutuhkan pasangan agar merasa utuh dan sempurna.

Di sisi lain, konsep itu seakan melemahkan kemampuan diri sendiri untuk mandiri sepenuhnya serta tidak memberi kesempatan untuk percaya bahwa kamu adalah individu hebat yang tidak perlu bergantung untuk menikmati hidup.

Akhirnya, bukan tidak mungkin gagasan tersebut menyebabkan kodependensi dalam hubungan. Ujung-ujungnya malah relasi jadi tidak sehat dan berdampak buruk pada kesehatan mental kedua orang yang terlibat. Dan sayangnya, banyak pasangan yang memiliki hubungan kodependensi tanpa menyadarinya.

Hubungan kodependensi menandakan tingkat keterikatan yang tidak sehat, di mana salah satu atau kedua belah pihak tidak memiliki kemandirian atau otonomi dan saling bergantung untuk pemenuhannya.

Misalnya, ingin tahu apa yang dipikirkan pasangan sebelum kamu sendiri mengungkapkan pendapat, atau sesedehana kamu perlu mendapat izin pasangan sebelum membuat rencana dengan teman.

Berada dalam hubungan ini malah berpotensi membuat salah satu pihak merencanakan seluruh hidupnya sekadar untuk menyenangkan pasangannya. Sebab, orang yang kodependen merasa tidak berharga kecuali mereka dibutuhkan dan melakukan pengorbanan drastis pada pasangan. Jika merasa tidak dibutuhkan, orang kodependen cenderung tidak mempunyai tujuan apa pun.

Meski begitu, Lucia Peppy Novianti, M.Psi., Psikolog punya pendapat lain.

Persepsi “pasangan yang ideal adalah pasangan yang saling melengkapi” sebenarnya tepat-tepat saja, tapi perlu dilihat secara proporsional.

Psikolog yang akrab disapa Peppy ini menuturkan, ketika memulai berelasi, yang perlu disadari adalah ada keterlibatan dua orang yang berbeda. Saat masing-masing sudah menyadari terkait indvidualitasnya, maka sebenarnya konteks melengkapi bisa terjadi.

Peppy yang juga CEO Wiloka Workshop Yogyakarta memberikan ilustrasinya seperti berikut. Sosok A memiliki karakter yang lebih berenergi dan cheerful. Ia punya pasangan sosok B yang cenderung sebagai tipikal follower, tidak mengharuskannya untuk memulai atau punya insitiatif terlebih dahulu.

Dalam ilustrasi itu, pasangan dapat melengkapi dan merasa nyaman karena menempatkan sisi melengkapinya sesuai porsi sehingga terjadi timbal baik: masing-masing dapat menerima benefit dan saling “mengisi”.

“Jadi itu [relasi dengan persepsi “you complete me”] tidak sepenuhnya salah tetapi perlu melihat secara proporsional,” kata Peppy.

Alih-alih mempermasalahkan soal kiblat konsep yang akan diterapkan dalam berpasangan, Peppy lebih mengutamakan relasi yang sebaiknya akan dibangun. Kenapa? Sesederhana karena sebuah hubungan nantinya bertumbuh. Misalnya, bagaimana seharusnya relasi menjadi lebih kuat atau bertahan lama.

“Maka relasi yang perlu diterapkan adalah relasi yang tahu apa yang dimau dari hubungan itu dan dibutuhkan diri sendiri dalam berelasi sehingga bisa menempatkan porsi sesuai dengan kebutuhan dua pihak yang berpasangan itu,” terang Peppy.

Bagaimana kemudian hal tersebut bisa berjalan tentunya perlu dikomunikasikan karena, ingat, dasar sebuah hubungan adalah kerjasama kedua belah pihak. Kalau hanya salah satu pihak saja yang aktif, menurut Peppy nantinya cenderung sulit terbangun hubungan yang langgeng dan nyaman.

“Tanpa komunikasi, pihak lain akan penuh dengan dugaan, pertanyaan, kecurigaan dan menjadi tidak nyaman,” paparnya.

Header Diajeng You Complete Me

Header Diajeng You Complete Me. foto/IStockphoto

Meski saat ini kamu sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan si dia, ingat pula jangan sampai berelasi karena orang lain, ya! Contohnya, ikut-ikutan berelasi gara-gara teman sekitar sudah berpasangan sementara kamu belum.

Jadi, berelasilah karena memang kamu siap dan membutuhkannya! Dengan menyadari kesiapan dan kebutuhan tersebut, kamu akan menganggap relasi tersebut worthy sehingga ada keterlibatan dan upaya proaktif untuk menjaganya dengan baik.

“Dengan mengetahui apakah kita butuh berelasi atau tidak maka bentuk relasi yang ingin dibangun juga akan lebih jelas,” tambah Peppy.

Ada banyak indikasi bahwa kamu sudah siap membuka hati untuk orang baru, tapi Elena Murzello, relationship expert dan penulis The Love List: A Guide to Getting Who You Want (2013) mengatakan salah satunya adalah kemampuan untuk berkompromi.

Dengan berkompromi, itu tandanya kamu menghargai pemikiran dan perasaan orang lain yang cukup untuk membuat hubungan berjalan baik.

Tanda utama lain bahwa kamu siap secara emosional untuk bersama orang lain adalah keinginan untuk berbagi.

Memiliki satu orang istimewa untuk dihubungi adalah pengalaman indah sekaligus menggembirakan, entah sekedar memberi kabar mendapat promosi di tempat kerja, bisnis baru, atau hal remeh-temeh lainnya.

Apabila gagasan untuk menjalani itu semua bersama pasangan terdengar ideal dan membuatmu antusias, bisa jadi tahun inilah saatnya. Jadi, sudah siapkah menyambut orang baru dalam hidupmu?

Baca juga artikel terkait LYFE atau tulisan lainnya dari MN Yunita

tirto.id - Diajeng
Kontributor: MN Yunita
Penulis: MN Yunita
Editor: Sekar Kinasih