Prediksi BI Soal Nilai Tukar Rupiah Jika Impor Berhasil Ditekan

Oleh: Damianus Andreas - 5 September 2018
Dibaca Normal 1 menit
Gubernur BI Perry Warjiyo meyakini nilai tukar rupiah bisa menguat dan defisit transaksi berjalan akan berkurang pada tahun 2019.
tirto.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis sejumlah upaya pemerintah untuk menekan laju impor akan mendorong penguatan nilai rupiah pada tahun 2019.

Salah satu upaya pemerintah yang menurut Perry bisa berdampak signifikan ke pengurangan impor adalah pemberlakuan mandatori B20 ke semua sektor. Kebijakan ini mulai berlaku pada 1 September 2018.

Mandatori B20 yang mewajibkan pencampuran 20 persen Biodiesel dengan 80 persen bahan bakar jenis Solar, menurut Perry, bisa menekan angka impor minyak. Selain mengurangi tekanan ke rupiah, menurut dia, program tersebut juga berpotensi mengurangi defisit transaksi berjalan.

“Misalkan untuk [kebijakan] B20, bisa menurunkan impor 2,2 miliar dolar AS. Tahun depan bisa mengurangi impor minyak 6 miliar dolar AS. Belum lagi tambahan ekspor CPO, kurang lebih itu bisa menurunkan total defisit transaksi berjalan 9-10 miliar dolar AS,” kata Perry di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Selasa (4/9/2018).

Perry memperkirakan dengan pengurangan impor minyak dan defisit transaksi berjalan, nilai tukar rupiah pada tahun 2019 bisa bergerak pada kisaran Rp14.300-Rp14.700 per dolar AS.

Menurut Perry, dampak pertumbuhan dari sektor pariwisata juga kemungkinan akan terasa di tahun depan. Dengan menggenjot sektor pariwisata, kata Perry, bisa ada pemasukan devisa 3 miliar dolar AS.

Berdasar perhitungan Perry, penerapan mandatori B20 ke semua sektor dan pengembangan pariwisata akan menyumbangkan devisa untuk negara senilai 12-13 miliar dolar AS, pada 2019.


Posisi nilai tukar rupiah saat ini terpantau terus melemah. Nilai tukar rupiah tercatat mencapai level Rp14.935 per dolar AS pada pukul 19.55 WIB, pada hari ini. Kondisi tersebut membuat pemerintah mengeluarkan sejumlah keputusan untuk menekan laju impor.

Selain penerapan mandatori B20 ke semua sektor, pemerintah hari ini juga resmi menunda pelaksanaan proyek-proyek pembangkit listrik dengan total kapasitas 15.200 MW. Pada Rabu besok, peraturan soal pengendalian impor 900 item komoditas juga akan diterbitkan.

Perry Warjiyo menilai langkah pemerintah membatasi impor 900 komoditas dan mengkaji ulang target sejumlah proyek infrastruktur bisa berdampak pada pengurangan defisit transaksi berjalan.

Meski tak menyebutkan detail dampaknya, Perry menilai pengenaan PPh (Pajak Penghasilan) impor dan pengkajian sejumlah proyek infrastruktur akan membuat defisit transaksi berjalan menjadi lebih rendah pada 2019.

“Karena defisit transaksi berjalan lebih rendah, maka tekanan terhadap mata uang rupiah juga lebih rendah,” ucap Perry.

“Untuk tahun ini sendiri, kami perkirakan defisit transaksi berjalan berkisar pada 2,5 persen terhadap PDB (Produk Domestik Bruto),” dia menambahkan.

Tekanan Faktor Eksternal Diprediksi Berkurang pada 2019

Sementara itu dari faktor eksternal, Perry memperkirakan kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) pada 2019 tak akan seagresif tahun ini.

Sejak awal 2018, The Fed telah dua kali menaikkan suku bunga. Besar kemungkinan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga sebanyak dua kali pada September dan Desember mendatang.

Perry memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed pada tahun depan maksimal hanya akan terjadi sebanyak 2-3 kali. Angka kenaikannya juga kemungkinan tidak siginifikan.

“Memang masih naik, tapi kenaikannya lebih kecil. Sehingga tekanan dari kenaikan suku bunga itu tidak akan setinggi tahun ini,” ujar Perry.

Di sisi lain, Perry mengakui dampak dari aksi perang dagang cenderung lebih sulit diprediksi. Ia pun berharap ketegangan yang berlangsung di perekonomian global akibat perang dagang bisa segera mereda.


Baca juga artikel terkait NILAI RUPIAH atau tulisan menarik lainnya Damianus Andreas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Damianus Andreas
Penulis: Damianus Andreas
Editor: Addi M Idhom
DarkLight