Menuju konten utama

Kurs Diprediksi Tembus Rp17.050 per US$ Imbas Perang Tarif Trump

Pada pembukaan perdagangan Senin (7/4/2025) depan, nilai tukar rupiah diproyeksikan tembus hingga Rp17.050 per dolar AS.

Kurs Diprediksi Tembus Rp17.050 per US$ Imbas Perang Tarif Trump
Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Bank Mandiri, Jakarta, Jumat (11/10/2024).

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih akan terus mengalami pelemahan seiring dengan dinamika terjadi di global. Pada pembukaan perdagangan Senin (7/4/2025) depan Rupiah bahkan diproyeksikan tembus hingga Rp17.050 per dolar AS.

"Ada kemungkinan pada saat pembukaan pasar hari Senin rupiah akan tembus di level Rp17.050," ujar Pengamat Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, dalam pernyataannya, Sabtu (5/4/2025).

Ibrahim mengatakan kontrak rupiah Non-Deliverable Forward (NDF) yang diperdagangkan di pasar luar negeri sudah melemah ke level Rp17.006 per dolar AS atau mengalami penurunan 1,58 persen pada Jumat (4/4/2025) hingga pukul 20.53 WIB. Pelemahan ini terjadi lantaran banyak data fundamental yang mempengaruhi pelemahan mata uang Garuda.

"Salah satunya adalah rilis data tenaga kerja di Amerika Serikat di luar ekspektasi lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya," kata dia.

Pelemahan mata uang Garuda juga disinyalir karena The Fed memberikan testimoni pada Jumat malam. Di mana, The Fed mengatakan bahwa terlalu dini untuk menurunkan suku bunga saat ini dalam kondisi ekonomi global sedang bermasalah dan inflasi masih tetap tinggi.

Penurunan suku bunga, kata Ibrahim, masih akan menunggu dampak dari perang dagang, sehingga yang tadinya The Fed akan menurunkan suku bunga pada 2025 sebesar tiga kali atau 75 basis poin, ada kemungkinan besar hanya tinggal mimpi. Ini membuat indeks dolar kembali lagi alami penguatan signifikan.

Faktor lainnya yakni masalah perang dagang akibat kebijakan Presiden AS, Donald Trump yang memberlakukan tarif dasar impor baru ke beberapa negara. Di mana salah satunya Indonesia terkena dampak bea impor sebesar 32 persen.

"Kita melihat negara lain melakukan perlawanan apa dilakukan oleh AS Indonesia melakukan negosiasi. Seharusnya Indonesia melakukan perlawanan juga dengan mengenakan bea impor terhadap produk produk dari AS, tetapi kenyataannya tidak melakukan," jelas dia.

Dinamika terjadi secara global tersebut secara tidak langsung, kata Ibrahim, membuat mata uang rupiah kembali lagi alami pelemahan cukup signifikan. Maka tidak menutup kemungkinan perdagangan Senin depan, rupiah akan kembali melemah di Rp17.050.

"Walaupun Indonesia di hari Senin akan melakukan intervensi di pasar valuta asing obligasi perdagangan NDF tetapi kemungkinan besar intervensi tersebut tidak akan terlalu besar," pungkas dia.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memastikan akan menjaga kestabilan nilai tukar rupiah di tengah ancaman kenaikan tarif impor yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. BI juga akan terus memonitor perkembangan pasar keuangan global.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan BI akan berupaya melakukan penguatan rupiah melalui optimalisasi instrumen triple intervention. Triple intervention adalah intervensi di pasar valas pada transaksi spot dan DNDF, serta SBN di pasar sekunder.

Langkah ini dilakukan dalam rangka memastikan kecukupan likuiditas valas untuk kebutuhan perbankan dan dunia usaha serta menjaga keyakinan pelaku pasar.

"BI tetap berkomitmen untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah," ujar Ramdan dalam keterangannya, Sabtu (5/4/2025).

Baca juga artikel terkait TARIF IMPOR atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Anggun P Situmorang