tirto.id - Drama religi Islam bukanlah hal baru di Indonesia. Sejak Ayat-Ayat Cinta (2008) pertama tayang dan meraih lebih dari 3,6 juta penonton, banyak produser menyadari bahwa, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia seharusnya menjadi target pasar utama untuk film religi Islam. Sejak itulah genre tersebut menjadi produk film komersial yang menggiurkan.
Namun, sebenarnya tidak selalu demikian. Film Indonesia sebelum era pra-reformasi justru kerap menggunakan tema Islam sebagai bentuk kritik. Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982) arahan Chaerul Umam adalah salah satu film yang tidak mengambil posisi populis. Pemuka agama dalam film itu ditolak oleh masyarakat desa yang memiliki tradisi tersendiri—tidak sedikit unsur maksiatnya. Naskah yang ditulis Asrul Sani memang sangat cerdas dalam mengkritik fenomena sosial pada zamannya. Namun, film tersebut masih dianggap terlalu serius dan bukan bagian dari arus utama perfilman.
Ketika bioskop kini makin memosisikan film sebagai komoditas dagang, banyak pembuat film terjebak dalam penggambaran film religi Islam sebagai melodrama, tanpa menangkap fenomena yang sebenarnya layak ditampilkan di layar lebar. Namun, tidak sedikit pula pembuat film yang berupaya mencari sweet spot—menciptakan film religi Islam yang tetap mainstream, tetapi juga memotret budaya Islam secara otentik dan sinematik.
Assalamualaikum Baitullah (berikutnya ditulis ASBA) bisa dibilang sebagai salah satu film yang mencoba bertemu di garis tengah. Sinema garapan sutradara Hadrah Daeng Ratu yang diproduksi oleh VMS Studio itu tampaknya dirancang untuk menjangkau penonton drama Indonesia, tetapi di sisi lain juga berhasil menangkap kehidupan muslim urban di Jakarta.
Muslim Jakarta di Tengah Kota Penggerak Ekonomi
Ada banyak film berlatar Jakarta, tetapi tidak semua berhasil menangkap kompleksitasnya. Sebagai pusat perekonomian Indonesia, Jakarta kerap dipotret sebagai kota yang bukan hanya sibuk, tetapi juga penuh harapan dan motivasi ekonomi bagi para penduduknya. Gagasan ini sudah lazim muncul dalam film sejak sebelum era reformasi.
Ramadhan dan Ramona (1992) berhasil menangkap gambaran lapangan kerja melimpah di Jakarta melalui karakter Ramona, yang setiap hari berganti-ganti pekerjaan—sebuah ironi yang sudah sulit ditemukan hari ini. Home Sweet Loan (2024) arahan Sabrina Rochelle Kalangie juga mengangkat isu sulitnya generasi muda membeli rumah di kota besar.
Bisa dibilang, film yang benar-benar "Jakarta" adalah film yang tidak hanya menampilkan lokasi-lokasi ikonik, tetapi juga dinamika penduduk di dalamnya.
ASBA berhasil menunjukkan dinamika muslim modern di Jakarta. Hadrah Daeng Ratu berhasil memperlihatkan bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan masyarakat yang lebih modern.
Protagonis film tersebut adalah Amira (Michelle Ziudith) yang, setelah mengalami trauma dan kehilangan besar, berhasil menemukan ruang aman dan komunitas pengajian. Dari situ, ia memutuskan membuat festival pengajian selama beberapa hari, yang juga mengundang para pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) untuk membuka stan sepanjang acara berlangsung.
Rasanya, ini kali pertama saya melihat gambaran fenomena pemanfaatan masjid dan acara pengajian sebagai penggerak roda ekonomi di kota besar. Dalam film-film sebelumnya, karakter muslim kerap dicitrakan sebagai cendekiawan dan intelektual (Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta, yang pertama maupun kedua, serta Azam dalam Ketika Cinta Bertasbih). Label "cendekiawan" seolah menjadi identitas tetap karakter muslim dalam sinema Indonesia.
Label tersebut bahkan terbawa dalam film horor. Tokoh muslim sering kali digambarkan sebagai penyelamat atau korban setan, tetapi tetap berperan sebagai pemuka agama yang bijak dan berwibawa—citra cendekiawan yang konsisten.
Dalam ASBA, Amira ditampilkan tidak hanya sebagai muslimah, tetapi juga pelopor festival pengajian yang memberikan peluang ekonomi bagi pelaku UMKM di sekitar masjid. Tidak sedikit adegan transaksi ditampilkan, yang menandakan betapa signifikan peran festival sebagai penggerak ekonomi komunitas muslim urban di Jakarta. Penggambaran tersebut jadi penting dan menciptakan diskursus baru: kenapa film drama religi tidak lebih banyak menampilkan ini?
Kisah Cinta dalam Bingkai Islami
ASBA sejatinya adalah romansa. Ketika Amira kehilangan banyak hal di awal film, ia sempat menjadi karakter yang nyaris menyerah. Namun, ia “diselamatkan” oleh kehadiran pemuda bernama Barra (Arbani Yasiz). Amira jatuh cinta, tetapi Barra ternyata sudah dijodohkan dengan Amel (Tissa Biani). Dinamika klise itulah yang kemudian menjadi konflik utama dalam babak kedua dan ketiga film.
Amira menempati posisi yang cukup unik dalam relasi tersebut. Ia tampak lebih mapan dan dewasa dibandingkan Barra. Meskipun tidak dijelaskan secara eksplisit lewat dialog maupun visual, posisi Amira sebagai penggagas festival pengajian mengisyaratkan adanya dinamika relasi antara perempuan kuat dan pria yang "biasa-biasa saja". Amira juga tidak digambarkan mengalami kesulitan pergi ke Baitullah. Justru Barra yang akhirnya bisa ke sana berkat "bantuan" Amel.
Keberadaan sutradara, produser, dan penulis perempuan, dalam film ini berperan besar membentuk representasi perempuan berdaya. ASBA tidak menjadikan perempuan sekadar sebagai objek religius atau emosional, tetapi juga inisiator, penggerak, dan pemilik agensi.
Itu sebenarnya bukan hal baru dalam narasi Islam. Khadijah, misalnya, digambarkan dalam khazanah Islam sebagai sosok perempuan mandiri dan lebih mapan secara ekonomi dibandingkan Nabi Muhammad, suaminya. Namun, gambaran tersebut masih jarang diangkat dalam drama religi Indonesia—Aisyah dalam Ayat-Ayat Cinta mungkin salah satu pengecualian karena ia memiliki kekuatan ekonomi lebih tinggi dari suaminya.
Meski mengamini pakem kisah klise cinta segitiga, ASBA tidak melupakan target audiens dan bentuk asli karyanya (buku karangan Asma Nadia), yang menggambarkan proses jatuh cinta sesuai kaidah islami.
Sang sutradara, Hadrah, berhasil menangkap hal itu. Salah satunya ia ejawantahkan dalam sebuah adegan ketika Amira jatuh cinta kepada Barra. Mereka berdiri berdampingan, saling senyum, tapi ada dinding pemisah di antaranya. Kamera membingkai kebersamaan itu, tapi ada hijab di tengah-tengah mereka.
Selama pendekatan, mereka tidak pernah benar-benar ditampilkan berduaan. Dalam suatu adegan, misalnya, ada momen ketika Amira ditinggalkan oleh sahabatnya agar dapat berdua dengan Barra. Namun, alih-alih demikian, si pembuat film memilih untuk memasukkan sosok abang-abang nasi goreng dalam bingkai adegan mereka.
Ketika sudah beranjak ke arah hubungan lebih serius, Barra mengenalkan Amira kepada ibunya. Ada sebuah shot close up ketika Ibu Barra menyambut Amira dengan sentuhan tangan. Sentuhan fisik sepasang kekasih, yang biasanya digambarkan secara langsung, oleh Hadrah diwujudkan melalui keterwakilan jabat tangan Ibu dari salah satu pihak.
ASBA tidak hanya berhasil menjadikan dirinya film islami urban yang lebih modern, tapi juga setia pada genre dan audiensnya. Upaya menggambarkan dimensi karakter muslim yang tidak hanya cendekiawan, tapi pekerja keras di kota besar, patut dihargai di tengah tren drama religi kebanyakan. Ia juga membuka kemungkinan baru bahwa spiritualitas, cinta, dan modernitas, bisa berjalan berdampingan tanpa harus kehilangan kedalaman maupun relevansi.
Penulis: Reza Mardian
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id


































