Menuju konten utama

Potensi Komersial Teknologi Stratospace yang Dijajaki Mitratel

Mitratel menjajaki potensi komersial teknologi HAPS untuk memperluas konektivitas dan menutup blank spot melalui sinergi dengan AALTO di Indonesia luas.

Potensi Komersial Teknologi Stratospace yang Dijajaki Mitratel
Salah satu tower milik Mitratel. FOTO/Mitratel
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Teknologi konektivitas di ruang stratosfer mulai dilirik sebagai lokasi baru untuk membangun jaringan telekomunikasi. High Altitude Platform Station (HAPS), platform yang beroperasi di ketinggian stratosfer dan dapat membawa perangkat komunikasi untuk melayani pengguna di permukaan bumi, dinilai dapat membantu mengatasi persoalan blank spot hingga wilayah dengan kualitas sinyal lemah di Indonesia.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sebelumnya menyebut masih terdapat ribuan wilayah yang menghadapi persoalan konektivitas. Pemerintah juga tengah memadukan pembangunan BTS, fiber optik, dan satelit untuk menutup wilayah blank spot, terutama di daerah yang sulit dijangkau infrastruktur terrestrial.

Kondisi tersebut membuka peluang bagi teknologi alternatif seperti HAPS. Salah satu yang dikembangkan adalah Zephyr milik AALTO HAPS Limited (AALTO), pesawat tanpa awak bertenaga surya yang dirancang beroperasi di stratosfer dan membawa perangkat untuk kebutuhan konektivitas.

Apa potensi komersialnya?

Potensi bisnis HAPS terutama muncul ketika pembangunan jaringan terrestrial menjadi mahal atau sulit dilakukan. Studi Laurent Reynaud, Salim Zaïmi, dan Yvon Gourhant yang dipresentasikan dalam konferensi IEEE ICIN 2011 mengkaji penggunaan HAPS untuk layanan seluler di wilayah rural negara berkembang.

Studi tersebut membandingkan model jaringan berbasis terrestrial, HAPS, dan satelit. Kesimpulannya, HAPS tidak selalu menjadi pengganti jaringan yang sudah ada. Teknologi ini lebih masuk akal sebagai bagian dari jaringan multi-teknologi, terutama ketika operator harus menjangkau wilayah dengan kepadatan penduduk rendah dan biaya pembangunan jaringan terrestrial tinggi.

Dengan model tersebut, HAPS berpotensi menjadi alternatif untuk memperluas cakupan tanpa harus membangun seluruh infrastruktur jaringan dari permukaan. Potensi pasarnya tidak hanya konektivitas seluler, tetapi juga layanan untuk wilayah terpencil, kebutuhan sementara, hingga pemulihan jaringan ketika terjadi bencana.

Bagaimana Mitratel menjajakinya?

Peluang tersebut kini sedang diuji Mitratel bersama AALTO. Keduanya menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada Mobile World Congress Barcelona pada Maret 2026 untuk mengevaluasi integrasi teknologi HAPS dengan infrastruktur telekomunikasi Mitratel.

Dalam kerja sama tersebut, AALTO berperan sebagai penyedia layanan konektivitas Stratospace dan pengoperasian platform, sedangkan Mitratel membawa pengalaman serta infrastruktur menara telekomunikasi. MoU tersebut kemudian diperpanjang hingga Oktober 2027 untuk memberikan waktu bagi kedua perusahaan mengevaluasi dan mematangkan potensi integrasi teknologi tersebut.

Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko mengatakan kerja sama tersebut diarahkan untuk mengembangkan sinergi antara infrastruktur menara dan teknologi HAPS guna meningkatkan kualitas, cakupan, dan ketahanan layanan telekomunikasi di Indonesia.

“Melalui kerja sama strategis dengan AALTO ini, kami bertujuan mengembangkan model sinergi terintegrasi antara infrastruktur menara dan teknologi HAPS untuk meningkatkan kualitas, cakupan, dan ketahanan layanan telekomunikasi di Indonesia,” kata Theodorus.

AALTO sendiri menyebut Zephyr dapat berfungsi sebagai “tower in the sky” dengan kemampuan menyediakan konektivitas langsung ke perangkat. Dalam rilis perusahaan, demonstrasi awal di Indonesia ditargetkan mulai 2027, sedangkan masuk ke tahap komersial ditargetkan mulai 2028.

Baca juga artikel terkait TELKOM atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana