tirto.id - Kementerian Pertahanan (Kemhan) melakukan tracing dan isolasi terhadap sejumlah peserta Latihan Bela Negara (Latsarmil) Program SPPI calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes) setelah ditemukan kasus infeksi paru-paru atau pneumonia.
Kepala BPSDM Kemhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, menjelaskan pihaknya telah melaksanakan klasterisasi dan tindakan medis bagi peserta yang terindikasi terkena infeksi gangguan pernafasan. Kemhan juga menggandeng Kementerian Kesehatan untuk penanganan lebih lanjut.
"Pasca kejadian yang saudari kita Sihotang, dari satlat setempat yaitu dari Halim Perdanakusuma langsung melaksanakan tracing kepada seluruhnya, pada lingkungan, termasuk kepada penyelenggara sendiri. Kemudian dilaksanakan klasterisasi dan tindakan kedokteran lebih lanjut," ujar Ketut dalam konferensi pers di Kantor Kemhan, Jakarta, Sabtu (27/6/2026).
Tim Kesehatan Kemhan, dr Ichsan, memaparkan sejumlah penyakit yang ditemukan terhadap lima peserta yang dinyatakan meninggal dunia.
Mulai dari pneumonia, hipertensi, obesitas, hingga infeksi paru akibat virus. Dari kelima korban, terdapat dua peserta meninggal karena indikasi infeksi paru akibat virus.
Kronologinya, peserta atas nama Novia Rahmadhani Sihotang, pada 22 Juni 2026 datang ke UKS dengan keluhan batuk berdahak, sesak napas, dan demam.
Keesokan harinya, ia dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa dengan temuan TB paru aktif dan dirawat di ruang ICU isolasi. Pada 23 Juni 2026 pukul 15.13 WIB, almarhumah dinyatakan meninggal dunia.
Namun pihak Kemhan menyatakan Sihotang tidak meninggal karena TB, melainkan infeksi paru.
"Dari hasil pemeriksaan itu bukan TBC, tetapi adalah infeksi paru-paru yang disebabkan oleh virus. Jadi kita karena suatu situasi seseorang itu berbeda-beda, kondisi kekuatannya berbeda-beda, bisa saja seseorang itu bisa terkena infeksi dari paru-paru," ujar Ichsan dalam konpers yang sama.
Sementara korban lainnya, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, datang ke ruang kesehatan pada 25 Juni 2026 dengan sesak napas dan lemas. Meski sempat membaik, keluhannya kembali muncul pada pukul 18.00 WIB hingga dirujuk ke ICU RSAU dr. Esnawan Antariksa.
Namun, pada 26 Juni 2026 pukul 00.28 WIB, ia meninggal dunia akibat pneumonia dengan komplikasi medis.
Kemhan juga menemukan peserta dengan kondisi khusus, yakni tengah hamil.
Dengan alasan kemanusiaan, peserta yang hamil dipulangkan terlebih dahulu dan boleh mengikuti proses lanjutan seleksi calon manajer Kopdes pada batch berikutnya.
"Ada 32 orang (temuan kehamilan) tahap pertama dipulangkan dengan talent pool. Statusnya dia masih memenuhi syarat dan bisa melanjutkan pada saat kegiatan pendidikan nanti ada rencananya batch berikutnya," jelas Ketut.
Untuk mencegah penularan gangguan pernapasan di sejumlah lokasi latihan, Kemhan menerapkan isolasi dan pemantauan ketat.
Karo Infohan Setjen Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, memastikan institusinya akan memperbaiki sistem penyelenggaraan ke depan agar kegiatan semakin berjalan aman.
"Selalu ditanyakan bahkan untuk orang-orang tertentu itu kita beri tanda pita putih dengan harapan mereka sudah bisa kita tandai dan mencegah misalnya membutuhkan atensi khusus di bidang medis. Kami berkomitmen melaksanakan evaluasi terhadap setiap insiden yang terjadi, agar kegiatan ini dapat berjalan dengan sebaik-baiknya di masa depan," tegas Rico di lokasi konpers.
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id































