18 Juli 1898

Pesan Politik di Balik Nama Polonium Temuan Marie & Pierre Curie

Oleh: Uswatul Chabibah - 18 Juli 2021
Dibaca Normal 5 menit
Marie dan Pierre Curie menyisipkan pesan subversif dalam nama unsur radioaktif polonium temuannya. Beroleh ganjaran Hadiah Nobel.
tirto.id - Pada 1795, Kekaisaran Rusia, Prusia, dan Austria berhasil memadamkan Pemberontakan Kościuszko yang pecah di Persemakmuran Polandia-Lithuania. Padamnya pemberontakan itu berujung pada pembubaran Persemakmuran Polandia-Lithuania. Pembubaran itu disepakati oleh Kekaisaran Rusia, Austria, dan Prusia pada 24 Oktober 1795.

Sejak itu, Persemakmuran Polandia-Lithuania terhapus dari peta Eropa. Tak hanya itu, pembubaran itu juga diikuti pelarangan penggunaan bahasa Polandia. Tiga kerajaan itu lantas membagi-bagi wilayah Polandia di antara mereka.

Meski begitu, pemberontakan-pemberontakan kecil masih terjadi di Polandia pada paruh pertama abad ke-19. Kekaisaran Rusia baru benar-benar bisa menggenggam Polandia setelah berakhirnya Perang Polandia-Rusia pada 1831. Tsar Nicholas I dari Rusia kemudian menganeksasi Polandia secara menyeluruh.

Untuk mencegah terulangnya pemberontakan, Kekaisaran Rusia menjebloskan para nasionalis Polandia ke penjara, merampas harta bendanya, dan memberlakukan berbagai peraturan untuk memastikan rakyat Polandia tunduk terhadap Rusia. Rusia pun memberangus buku dan koran berbahasa Polandia serta menetapkan bahasa Rusia sebagai bahasa resmi.

Di era penjajahan Rusia itulah, tepatnya pada 7 November 1867, Marie Salomea Skłodowska lahir di Warsawa. Pembaca barangkali asing dengan nama itu, tapi tentu cukup mafhum dengan nama Marie Curie si penemu unsur polonium. Sekelumit kisah masa kecilnya di era yang penuh tekanan ini dapat Anda simak dalam biografi Madame Curie (1937) yang disusun oleh Ève Denise Curie Labouisse—putri bungsu Marie.

Suatu hari, seorang inspektur Rusia memeriksa sekolah tempat Marie belajar. Dia menunjuk Marie kecil untuk berdoa. Kala itu, setiap anak Polandia diwajibkan merapal doa dengan bahasa Rusia. Marie pun mendoa dalam bahasa Rusia yang sempurna. Namun, si inspektur tidak puas melihatnya.

“Sebutkan nama para tsar yang memimpin Rusia Suci kita sejak Catherine II!” perintah si inspektur.

Marie menjawab, “Catherine II, Paul I, Alexander I, Nicholas I, Alexander II.”

Inspektur itu bertanya lagi, “Siapa penguasa negeri kita?”

Kali ini, Marie diam. Sang inspektur gusar dan mengulang lagi pertanyaannya. Wajah Marie pucat pasi sebelum akhirnya menjawab, “Yang Mulia Alexander II, Tsar Seluruh Wilayah Rusia.”

Inspektur itu tersenyum puas. Dia pun diam-diam mengagumi Marie yang mampu bicara dalam logat Rusia tanpa cela seolah anak itu lahir di St. Petersburg. Meski begitu, Marie tetaplah orang Polandia tulen. Di rumahnya, sang ayah sering menceritakan kisah-kisah heroik para pahlawan Polandia dan membacakan puisi-puisi penyair Polandia sehingga jiwa Polandia keluarga ini tidak luntur.



Bertemunya Dua Penggila Sains

Selain cerita kepahlawanan, ayah Marie yang seorang guru juga memperkenalkannya pada kimia dan fisika. Namun, orang Rusia tidak menyukai Tuan Skłodowska yang tampaknya kurang patuh ini. Gara-gara itu, gajinya sebagai guru dipotong, rumahnya disita, dan pangkatnya diturunkan.

Keluarga Skłodowska pun jatuh miskin. Keadaan itu ikut menempa kepribadian Marie. Sejak remaja, dia sudah terbiasa mengumpulkan uang dari mengajar anak-anak keluarga kaya.

Terlepas dari kesulitan yang menimpa keluarganya, Marie adalah pelajar cemerlang penggila sains. Sayangnya, perempuan tidak boleh bersekolah tinggi-tinggi di negerinya yang terjajah. Maka dia pun bermimpi merantau ke Perancis dan kuliah di Universitas Sorbonne.

Untuk mewujudkan mimpinya itu, Marie berkolaborasi dengan kakaknya, Bronya. Keduanya bikin kesepakatan bergantian bekerja untuk saling membiayai pendidikan. Bronya kemudian berkuliah lebih dulu di jurusan kedokteran Universitas Sorbonne dengan dibiayai oleh Marie. Setelah Bronya lulus, giliran Marie yang berkuliah dengan biaya dari Bronya.

Pada 1891, di usia 24 tahun, Marie akhirnya memulai kuliahnya di Universitas Sorbonne. Di sanalah, Marie bertemu dengan fisikawan dan matematikawan terkemuka di era itu, seperti Marcel Brillouin, Paul Painlevé, Gabriel Lippmann, dan Paul Appell.

“Itu seperti dunia baru yang terbuka bagi saya, dunia sains. Akhirnya saya dapat mencapainya dengan segala kebebasan,” kenang Marie, sebagaimana dikutip oleh laman resmi The Nobel Prize.

Setelah tiga tahun belajar fisika dan matematika di Universitas Sorbonne, Marie lulus dengan sangat mengesankan pada 1893. Lepas itu, dia berencana mengambil ujian diploma guru dan berniat kembali ke Warsawa untuk mengajar. Tapi, pertemuannya dengan Pierre Curie membuyarkan semua rencana itu.

Di usianya yang ke-35, Pierre sudah dikenal publik sebagai fisikawan andal. Dia dan saudaranya, Jacques Curie, menemukan efek piezoelektrik pada 1880. Piezoelektrik adalah terjadinya arus listrik dalam jenis kristal tertentu yang diberi tekanan mekanis. Efek ini kemudian diaplikasikan dalam pembuatan jam kuarsa, mikrofon, dan beberapa alat elektronik lain.

Baik Pierre maupun Marie adalah ilmuwan penyendiri yang idealis. Kesamaan itu agaknya mendekatkan mereka hingga terjalinlah hubungan yang lebih intim. Pada Juli 1895, mereka pun menikah di Kota Sceaux, tempat orang tua Pierre tinggal.

Pada November 1895, fisikawan Wilhelm Conrad Rontgen berhasil menemukan sinar-X. Tak lama kemudian, pada Maret 1896, Henri Becquerel menemukan bahwa mineral-mineral tertentu—salah satunya uranium—memancarkan radiasi sendiri. Temuan Becquerel ditanggapi biasa saja oleh para ilmuwan, tapi Marie justru sangat antusias.


Marie tahu pancaran radiasi uranium mampu menghitamkan pelat foto selama beberapa bulan. Tapi dari mana sumber energinya dan lantas ke mana menghilangnya? Tidakkah itu melanggar Prinsip Carnot yang menyatakan energi bisa berubah, tapi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Marie penasaran. Dia lantas memutuskan untuk melakukan penyelidikan sistematis terhadap "sinar uranium" yang misterius itu.


Berburu Unsur Baru

Pada 11 Februari 1898, Marie menguji semua sampel bebatuan dan mineral. Kemudian, pada 24 Februari, Marie mendapati zat thorium juga merupakan radioaktif. Dalam publikasi pertamanya yang terbit pada 12 April 1898 di Comptes Rendus de l’Académie des Sciences, Marie menyebut adanya unsur yang belum dikenal pada bijih uranium.

Marie kemudian berburu unsur-unsur baru yang kemungkinan terdapat dalam bijih mineral di alam. Marie begitu percaya diri karena dia memiliki alat yang tepat untuk membantu penelitiannya, yaitu elektrometer. Alat yang dapat mengukur arus listrik lemah itu dibuat berdasarkan efek piezoelektrik yang dulu ditemukan oleh siami dan saudara iparnya.

Pierre Curie pun ikut penasaran. Pada 18 Maret, Pierre meninggalkan penelitian pribadinya dan memutuskan bergabung dengan istrinya. Masalahnya, pasangan suami istri ini sama-sama bukan ahli kimia. Padahal, perburuan unsur baru ini bukan lagi ranah fisika, melainkan ranah kimia.

Karenanya, Marie dan Pierre kemudian meminta bantuan Gustave Bemont, seorang pengajar di Parisian Ecole Municipale de Physique et Chimie Industrielle. Pada 14 April 1898, ketiganya memulai sebuah kerja fisik yang besar, yaitu meneliti pitchblende yang kaya uranium dan unsur-unsur lain.

Mereka berhasil menemukan suatu aktivitas radiasi yang kuat pada bongkahan bijih yang mengandung bismut atau barium. Ketika Marie fokus meneliti bismut, dia menemukan aktivitas radiasi yang besar pada residu hasil pemisahan bismut. Karena itulah, dia meneliti kembali residu-residunya.

Pada 27 Juni, Marie berhasil memisahkan endapan padat yang 300 kali lebih aktif ketimbang uranium. Kemudian, pada 18 Juli 1898—tepat hari ini 123 tahun silam, Marie dan Pierre mengirim laporan penelitian mereka ke jurnal Comptes Rendus de l'Académie des Sciences. Mereka menulis laporan itu setelah Pierre juga berhasil mendapati endapan yang 400 kali lebih aktif dari uranium di hari yang sama.

Laporan dengan judul “On a new radio-active substance contained in pitchblende” itu, mereka menulis, “Kami yakin bahwa zat yang kami ambil dari pitchblende mengandung elemen yang sampai sekarang belum diketahui. Ia mirip dengan bismut dalam sifat analitisnya. Jika keberadaan logam baru ini dikonfirmasi, kami mengusulkan untuk menamainya polonium demi menghormati tanah kelahiran salah satu dari kami.”

Seturut Jean-Pierre Adloff dalam “A Short History of Polonium and Radium” yang terbit di jurnal Chemistry International (2011, hlm. 21-22), Pierre membuat simbol “Po” untuk polonium. Juga, dalam publikasi inilah untuk pertama kalinya muncul istilah radioaktif.

Momen itu menandai untuk pertama kalinya dalam sejarah nama sebuah unsur kimia baru sarat dengan muatan politik. Lewat polonium, Marie mengirim pesan ke dunia internasional bahwa negerinya dihapus dari sejarah dan tengah dijajah. Penamaan itu adalah tindakan yang sangat subversif mengingat Kekaisaran Rusia begitu kuat saat itu.

Polandia sendiri baru mendapatkan kembali kemerdekaannya dua dekade kemudian pada 11 November 1918, setelah 123 tahun hilang dari peta Eropa.

Infografik Mozaik Marie dan Pierre Curie
Infografik Mozaik Marie dan Pierre Curie. tirto.id/Fuad



Jejak Polonium

Polonium secara alami tercipta dalam batuan yang mengandung uranium. Unsur ini tergolong langka di alam. Meski begitu, jejak Polonium juga ditemui di atmosfer. Ia bisa mengendap di permukaan daun, sayur, dan rumput-rumputan, lalu masuk ke dalam tubuh hewan ternak dan manusia.

Konsentrasi polonium yang tinggi juga ditemukan pada daun tembakau sehingga boleh jadi para perokok memiliki endapan polonium di paru-parunya. C.R. Hill dalam artikel “Polonium-210 in Man” yang terbit di jurnal ilmiah Nature (Vol. 208, 1965, hlm. 424-425) menyebut rokok asal Amerika Tengah dan Amerika Selatan mimiliki konsentrasi polonium tertinggi dibanding 25 jenis rokok yang ditelitinya. Uniknya, salah satu rokok yang diteliti Hill rupanya berasal dari Indonesia.

Dalam kehidupan sehari-hari, polonium digunakan untuk menghilangkan listrik statis. Contoh aplikasinya dapat dilihat pada mesin penggulung kertas dan kuas pembersih lensa kamera. Artinya, alat-alat itu mengandung bahan radioaktif. Namun, ia tidak membahayakan manusia karena konsentrasinya hanya berkisar antara puluhan atau ratusan milicurie.

Pada 1903, Pierre dan Marie Curie dianugerahi Hadiah Nobel Bidang Fisika atas jasanya dalam penelitian fenomena radioaktivitas. Baik Pierre maupun Marie tidak dapat menghadiri penganugerahan Hadiah Nobel di Stockholm karena masalah kesehatan. Saat itu, pengaruh radiasi pada kesehatan manusia belum diketahui secara gamblang. Kini, kala perkembangan sains sudah lebih maju, ilmuwan menduga masalah kesehatan yang menimpa Pierre dan Marie itu terkait erat dengan paparan radioaktif yang mereka terima selama bertahun-tahun penelitian.

Baca juga artikel terkait POLONIUM atau tulisan menarik lainnya Uswatul Chabibah
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Uswatul Chabibah
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight