tirto.id -
Perdana Menteri Mongolia, Luvsannamsrai Oyun-Erdene, mengundurkan diri dari jabatannya pada Selasa (3/6/2025) waktu setempat. Mundurnya Erdene disebabkan oleh aksi protes massa mengenai kebijakannya yang dituding sarat akan korupsi. Selain itu, parlemen Mongolia sudah tak lagi memberi dukungan dan perlindungan kepada Erdene. Dikutip daru Reuters, ketidakpercayaan partai politik parlemen terlihat dari hilangnya suara Erdene saat proses pemungutan suara. Oleh karenanya, secara hukum konstitusi di Mongolia, Erdene dinyatakan mundur dari jabatannya sebagai perdana menteri."Menjadi suatu kehormatan bagi saya untuk mendedikasikan diri mengabdi kepada negara di tengah waktu yang sulit, di kala pandemi, perang dan tarif," kata Erdene usai dinyatakan mundur dari perdana menteri. Meski telah dinyatakan mundur oleh parlemen Mongolia, namun Erdene akan tetap menjabat sebagai perdana menteri selama 30 hari mendatang. Sesuai aturan perundangan di Mongolia, Erdene akan mundur dari jabatannya saat perdana menteri baru telah berhasil ditunjuk. "Saya menyesalkan kejadian ini menjadi dalih politik bagi sebagian pihak, dan menimbulkan ketidakstabilan," kata dia.
Awal mula runtuhnya kekuasaan Erdene disebabkan oleh terungkapnya gaya hidup Temuulen, anak pertama Erdene yang saat ini berkuliah di Harvard. Dalam media sosial milik Temuulen, diunggah berbagai aktivitas hedonisme seperti tas mewah, mobil mewah dan wisata ke berbagai negara dunia.Oleh karenanya, ulah Temuulen menyebabkan publik di Mongolia menjadi kian muak terhadap Erdene dan keluarganya. Bahkan, Temuulen dijadikan simbol 'budaya istimewa' atas perilaku nepotisme yang kian berkembang di negara tersebut.
Baca juga artikel terkait PERDANA MENTERI atau tulisan lainnya dari Irfan Amin
tirto.id - Flash News
Reporter: Irfan Amin
Penulis: Irfan Amin
Editor: Hendra Friana
Penulis: Irfan Amin
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id


































