tirto.id - Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) memegang peranan penting dalam pemutakhiran Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Menjadi garda terdepan dalam pengecekan lapangan atau ground check, mereka memverifikasi dan memvalidasi data sekaligus menjangkau warga yang belum tersentuh program intervensi pemerintah.
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), kerap menyebut upaya ini sebagai "jihad data". Proses ini bertujuan memperkuat akurasi DTSEN demi mewujudkan penyaluran bantuan sosial yang lebih tepat sasaran.
Aktivitas verifikasi lapangan tetap berlangsung meskipun para pendamping menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadan. Bagi mereka, momentum Ramadan justru menjadi pengingat untuk kembali melihat kelompok masyarakat yang belum sepenuhnya terjangkau pembangunan.
Kisah perjuangan “jihad data” di tengah bulan puasa itu datang salah satunya dari Esti Kiki Riski Sukran (36). Pendamping PKH yang biasa dipanggil Kiki ini sekarang menjabat Ketua Tim Kecamatan Kadia, Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara.
“Selama bulan ramadan, saya tetap melaksanakan pemutakhiran DTSEN seperti biasa. Kegiatan ini tetap berjalan seperti biasa, karena pemutakhiran data sangat penting untuk memastikan bahwa data penerima bantuan sosial selalu akurat, dan sesuai dengan kondisi terbaru,” kata Kiki, Senin (9/3/2026).
Menurut Kiki, hingga pertengahan Ramadan 2026, ia telah memperbarui data 10 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Kelurahan Kadia dan Pondambea. Pembaruan dan pengecekan data ia lakukan dengan berkunjung langsung rumah ke rumah.
Dalam kunjungan ke rumah setiap penerima manfaat bansos, Kiki melakukan wawancara dan observasi guna mengumpulkan informasi terkait kondisi sosial ekonomi keluarga. Data pekerjaan, kepemilikan aset, hingga perubahan kondisi rumah tangga KPM termasuk dalam fokus verifikasinya. Dia juga memeriksa berbagai data dan dokumen pendukung untuk mencocokkan informasi dalam sistem DTSEN dengan kondisi aktual di lapangan.
Respons warga umumnya positif. Kata Kiki, para KPM menunjukkan sikap terbuka dan kooperatif saat kunjungan berlangsung. Mereka bersedia memberikan informasi yang dibutuhkan serta menyampaikan perkembangan terbaru kondisi keluarga masing-masing.
“Sebagian juga merasa senang, karena merasa diperhatikan dan dilibatkan dalam proses pembaruan data,” ujar dia.
Namun, kendala tetap ada. Kiki mengatakan keterbatasan waktu menjadi salah satu tantangan, mengingat aktivitas warga selama Ramadan relatif padat. Selain itu, beberapa penerima manfaat kerap tidak berada di rumah saat kunjungan berlangsung. Kondisi cuaca yang panas serta aktivitas lapangan saat berpuasa juga menjadi tantangan tersendiri.
Berbagai hambatan tersebut tidak menyurutkan upaya Kiki. Dia paham betul, pekerjaannya penting untuk memastikan bantuan sosial benar-benar diterima oleh masyarakat yang berhak.
"Dengan adanya pemutakhiran data secara berkala, perubahan kondisi ekonomi keluarga dapat terdeteksi, sehingga penyaluran bantuan sosial menjadi lebih tepat sasaran," jelasnya.
Kiki menambahkan, pembaruan data secara berkala efektif untuk memperbaiki informasi yang sebelumnya kurang akurat atau sudah tidak sesuai dengan kondisi terkini. Melalui verifikasi langsung di lapangan, data dapat diperbarui sehingga lebih valid dan dapat menjadi dasar yang kuat bagi pengambilan kebijakan.
"Harapan saya ke depan, proses pemutakhiran data dapat terus dilakukan secara berkala dengan dukungan sistem yang lebih baik. Dengan demikian data kesejahteraan sosial akan semakin akurat dan penyaluran bantuan sosial dapat berjalan lebih tepat sasaran," pungkasnya.
#RamadanNyamanBersama
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id


































