tirto.id - Pemerintah akhirnya kembali melanjutkan upaya pemugaran situs megalitikum Gunung Padang melalui Kementerian Kebudayaan. Rencana Kementerian Kebudayaan melanjutkan penelitian dan pemugaran Situs Gunung Padang sudah mencuat sejak awal tahun ini. Namun, baru sekitar Juli 2025 lalu dibentuk tim penelitian dan pemugaran yang disebut melibatkan 10 ahli dari berbagai bidang dan 100 peneliti dalam negeri.
Tim yang dikomandoi arkeolog Universitas Indonesia (UI), Ali Akbar, tersebut lantas diresmikan pada 13 Agustus 2025 lewat SK resmi dari Kementerian Kebudayaan.
Dalam pemberitaan Kompas.com, pemugaran situs Gunung Padang kembali dilanjutkan usai sempat tertunda selama sebulan karena gejolak sosial dan politik dalam negeri. Ali menjelaskan bahwa tahap awal pemugaran situs cagar budaya itu difokuskan pada penguatan lereng bukit yang menjadi sisi utama situs.
Ini dilakukan untuk mencegah potensi longsor yang dapat mengancam struktur batuan kuno di kawasan tersebut. Tim pemugaran juga berupaya merekonstruksi bangunan berdasarkan sketsa hasil penelitian sebelumnya. Upaya ini diharapkan tidak hanya mengungkap misteri kebudayaan prasejarah di sana, tetapi juga menjaga kelestarian situs agar bertahan lebih lama.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menyatakan bahwa kajian mengenai Gunung Padang yang disebutnya “piramida Indonesia” diharapkan dapat memperkuat jati diri bangsa.
“Gunung Padang adalah punden berundak dan punden berundak adalah piramida Indonesia. Kita ingin hasil kajian ini memperkuat jati diri dan kebanggaan nasional,” ujar Fadli Zon, dikutip dari Antara, Senin (6/9/2025).
Dalam keterangan yang sama, Ali menjelaskan bahwa timnya bekerja secara saksama dan mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku. Teranyar, tim menemukan adanya potensi sumber batuan columnar joint—batu berbentuk kolom heksagonal yang menjadi ciri khas struktur Gunung Padang—di dua lokasi, yakni Ciukir di sebelah selatan situs dan Pasir Pogordi utara situs.
Dalam temuan terbaru itu, batuan di Ciukir menunjukkan ada kesamaan bentuk dan ukuran dengan yang terdapat di situs utama Gunung Padang. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa batuan di area utama situs memang dibawa dari tempat lain. Jika begitu, dapat mendukung teori bahwa Gunung Padang merupakan buatan manusia.
Meski demikian, menurut Ali, timnya bakal melakukan analisis laboratorium terlebih dahulu guna memastikan kesesuaian material tersebut sebagai bagian dari proses pemugaran. Langkah pemugaran itu menjadi bagian penting dari upaya pelindungan dan pelestarian situs yang disebut-sebut sebagai struktur megalitik terbesar di Asia Tenggara itu.

Temuan terbaru lainnya oleh tim yang dipimpin Ali adalah struktur unik di antara pepohonan yang tumbuh di sekitar area situs. Pepohonan tersebut tumbuh di tanah datar di sela-sela struktur undakan di bagian luar teras utama.
Tim mengklaim temuan ini menunjukkan situs Gunung Padang adalah struktur bangunan besar yang bukan sekadar terdiri dari lima teras utama seperti terlihat di permukaan. Pada penelitian sebelumnya, tim yang dibentuk pemerintah turut mengklaim adanya indikasi ruangan besar di dalam struktur bangunan dasar situs Gunung Padang.
Dalam kesempatan berbeda, Ali juga sempat menyampaikan tentang keberadaan semacam campuran semen purba yang memungkinkan Gunung Padang tetap berdiri kokoh melewati masa ribuan tahun. Penemuan tersebut, tambah dia, membuktikan bahwa peradaban masa lalu di kawasan Situs Gunung Padang sudah maju dari segi teknologi, pengetahuan, dan ilmu arsitektur sehingga mampu memanfaatkan berbagai material dan mineral untuk membuat perekat.
"Selain memanfaatkan berat batu, ditemukan adonan perekat atau biasa disebut semen purba yang memperkokoh susunan ribuan batu berbentuk tabung persegi lima menempel erat satu sama lainnya tanpa ada perekat atau semen seperti pada bangunan modern," kata Ali pada Agustus 2025, dikutip Antara.
Meski demikian, arkeolog Lutfi Yondri cukup terkejut melihat upaya pemugaran situsyang terletak di Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, itu justru belum menyentuh bagian yang rentan.
Peneliti dari Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN itu pun mengingatkan agar upaya pemugaran dan penelitian kembali situs prasejarah tersebut tidak diganggu oleh agenda kontraproduktif. Misalnya, kata Lutfi, agenda membuktikan kembali bahwa Gunung Padang adalah sebuah piramida kuno yang usianya lebih tua daripada piramida Giza di Mesir.
Lutfi menilai bahwa agenda pemugaran Gunung Padang semestinya mengacu saja pada regulasi yang ada. Landasan hukum pemugaran cagar budaya tertera dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya (UU Cagar Budaya) dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2022 tentang Registrasi Nasional dan Pelestarian Cagar Budaya.
“Pemugaran itu tujuannya untuk mempertahankan keutuhan, keaslian, dan rancang bangun. Yang sebetulnya mencari mana yang rusak. Artinya, fokus bagian-bagian mana yang harus direhabilitasi, bagian-bagian mana yang mesti dikonsolidasi. Jadi, pemugaran hanya sebatas itu,” ujar Lutfi kepada wartawan Tirto, Rabu (8/10/2025).
Dalam dokumen rencana pemugaran yang dilihat Lutfi, tim peneliti dinilai malah melewatkan bagian dari Gunung Padang yang sudah rusak. Misalnya, dinding bagian teras sudah rusak, tapi tidak ada rencana digarap. Selain itu, dinding dan tangga antarteras juga telah rentan, tapi belum tersentuh rencana pemugaran.
Lutfi juga mewanti-wanti bagian Teras 5 sudah mulai tampak terjadi erosi. Hal ini dikarenakan fenomena penurunan muka tanah yang cepat. Aspek lainnya yang tak boleh terlewat tim peneliti adalah bagian-bagian situs yang tergenang air ketika hujan.
Dia menilai tim peneliti yang melakukan pemugaran Situs Gunung Padang tak usah berfokus untuk mengembalikan bentuk utuh punden berundak itu. Pasalnya, tidak ada referensi yang bisa menjadi acuan ajek untuk bisa dijadikan patokan. Karenanya, Lutfi berharap niatan dari pemugaran ini adalah rehabilitasi dan pemeliharaan situs prasejarah ini agar bisa kokoh dan berumur lebih panjang.
“Di area rencana pemugaran itu, ingin mengembalikan bentuk utuh. Bentuk utuh mana yang jadi patokan? Itu kita enggak punya. Makanya saya katakan di seminar konsinyering kemarin, bacalah sedetail mungkin tentang konstruksi Gunung Padang, sejauh mana yang rusaknya dan kemudian itu yang diperbaiki. Itu yang jadi kata kuncinya,” terang Lutfi.
Klaim Bombastis Gunung Padang yang Kontroversial
Lutfi menegaskan upaya tim kajian dan pemugaran yang bersikukuh ingin membuktikan Situs Gunung Padang sebagai piramida kuno yang lebih tua dari Piramida Giza merupakan langkah kontraproduktif. Dia mengingatkan bahwa teori atau klaim itu sudah dibantah oleh peneliti-peneliti lain.
Lutfi menjamin klaim piramida kuno tersebut sulit dibuktikan di lapangan karena memang tak memiliki dasar yang kuat.
“Di mana definisi bentuk piramida, yakni bangunan segitiga, dibangun di atas bidang segi empat? Enggak ada di Gunung Padang, enggak ketemu itu sama sekali. Jadi, semua bisa diverifikasi bahwa sebenarnya Gunung Padang itu adalah struktur punden berundak, yakni budaya yang dimiliki oleh bangsa kita dahulu,” ucap Lutfi kepada wartawan Tirto.
Struktur punden berundak di daerah pegunungan disebut Lutfi terkait dengan kepercayaan masyarakat masa lalu untuk melakukan ritual budaya atau pengagungan kepada leluhur. Hal ini juga ditemukan di situs-situs prasejarah lain, seperti di Ciremai dan Cibedug. Puncak gunung sebagai tempat yang tinggi memang dipilih sebagai altar untuk pemujaan leluhur mereka.
Namun, hal tersebut tak membuktikan bahwa punden berundak itu merupakan piramida kuno yang jauh lebih tua daripada piramida Mesir. Meskipun begitu, Lutfi meyakini desain punden berundak menandakan peradaban manusia sudah hadir di masa itu.
Lutfi juga menelaah struktur bebatuan Gunung Padang tidak diambil dari tempat lain, tapi diambil dari Teras 1 situs tersebut. Karenanya, struktur bebatuan di situs Gunung Padang terbentuk secara alami, bukan karena aktivitas kebudayaan manusia laiknya Piramida Giza di Mesir.
“Struktur alamiah itu yang sudah mengalami transformasi dan transformasi itu dilihat juga di Gunung Padang dengan adanya proses pelapukan kulit bawang di masing-masing batu itu. Yang mereka katakan itu sebagai semen purba, saya katakan itu bukan semen, itu proses pelapukan kulit bawang [alami],” ujar Lutfi.
Klaim bahwa Gunung Padang lebih tua dari Piramida Giza bisa dirunut asal-usulnya sejak 2011. Saat itu, Gunung Padang ramai diisukan sebagai sebuah piramida dan berumur lebih tua dari Piramida Giza di Mesir dan kebudayaan Machu Picchu di Peru.

Danny Hilman Natawidjaja, Ketua Tim Peneliti Katastropik Purba—berganti nama menjadi Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM), pada Maret 2012 menyampaikan bahwa dugaan itu diperoleh setelah melakukan pertanggalan dari uji karbon terhadap hasil pengeboran di Gunung Padang. Penelitian ini didukung pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Inisiator TTRM, Andi Arief—merupakan anak buah SBY di Istana—bahkan sempat menyatakan temuan tersebut akan berbuah Kusala Nobel. Setelah studi arkeologis yang panjang hingga 2014, pemerintah menetapkan Situs Gunung Padang sebagai Cagar Budaya Nasional.
Area situs ini memiliki luas total 291.800 meter persegi dengan kompleks utama seluas 900 meter persegi. Situs ini berada di ketinggian 885 meter di atas permukaan laut dengan terdiri atas lima teras.
Upaya klaim yang lebih meyakinkan kembali dilakukan Danny Hilman Natawidjaja dkk. pada 2023 lewat publikasi ilmiah berjudul “Geo-Archaeological prospecting of Gunung Padang buried prehistoric pyramid in West Java, Indonesia”. Artikel yang terbit dalam jurnal Archaeological Prospection terbitan Wiley itu mendaku Situs Gunung Padang sebagai piramida tertua di dunia dan mungkin berusia lebih dari 25.000 tahun.
Namun, pada Maret 2024, Wiley menarik makalah ilmiah tersebut atas kesepakatan antara Pemimpin Redaksi jurnal Archaeological Prospection, Eileen Ernenwein dan Gregory Tsokas, serta penerbit John Wiley & Sons, Ltd.
Pasalnya, setelah artikel diterbit, muncul kekhawatiran dari pihak ketiga yang memiliki keahlian di bidang geofisika, arkeologi, dan penanggalan radiokarbon, tentang kesimpulan yang ditarik oleh penulis berdasarkan bukti yang dilaporkan.
Penerbit dan pimpinan redaksi jurnal menyimpulkan bahwa artikel tersebut mengandung “kesalahan besar”. Kesalahan ini, yang tidak teridentifikasi selama tinjauan sejawat (peer review), bertitik pada penggunaan penanggalan radiokarbon pada sampel tanah yang tidak terkait dengan artefak atau fitur apa pun yang ditafsirkan sebagai antropogenik atau "buatan manusia”.
“Oleh karena itu, interpretasi bahwa situs tersebut adalah piramida kuno yang dibangun 9.000 tahun atau lebih yang lalu adalah tidak benar dan artikel tersebut harus ditarik,” tulis penerbit Wiley.
Eileen Ernenwein baru–baru ini juga menerbitkan artikel soal kasus penarikan publikasi soal Gunung Padang. Dalam artikel “Retraction and Reflection: The Gunung Padang Controversy and the Challenges of Peer Review in Archaeological Prospection” (2025), Ernenwein menyatakan bahwa publikasi makalah Gunung Padang yang telah ditarik itu mengandung ancaman nyata fenomena pseudoarkeologi yang sering kali didorong agenda nasionalistis.
Narasi semacam ini tidak hanya merusak kepercayaan publik terhadap sains dan arkeologi, tetapi juga dapat mempromosikan agenda yang menindas secara budaya. Dia menegaskan makalah yang mengklaim Gunung Padang sebagai piramida tertua itu memiliki kelemahan dalam metodologi dan interpretasi data yang akhirnya menjadi dasar pencabutannya.
“Penulis utama Danny Hilman Natawidjaja telah lama dikaitkan dengan klaim-klaim pseudosains dan nasionalistis, termasuk bukunya Plato Never Lied,” tulis Eileen.
Sementara itu, Dian Sulistyowati dan Aldo W. Foe dalam artikel ilmiah “Indonesia’s Own ‘Pyramid’: the Imagined Past and Nationalism of Gunung Padang” (2021) menemukan bahwa narasi populer yang menyebut Gunung Padang sebagai "piramida tertua di dunia" cenderung tak berdasar hasil dari temuan arkeologi yang murni, melainkan hanya berdasarkan "masa lalu yang dibayangkan" (imagined past). Hal itu pun sengaja dikonstruksikan untuk tujuan nasionalisme.
Penulis menegaskan bahwa negara-negara pascakolonial seperti Indonesia sering kali menggunakan arkeologi untuk menciptakan identitas nasional yang tunggal dan homogen. Dalam kasus Gunung Padang, keinginan untuk memiliki "piramida sendiri" yang lebih tua dari piramida Mesir berfungsi sebagai alat untuk menanamkan rasa bangga dan persatuan nasional.
Fenomena ini menciptakan apa yang disebut penulis sebagai "mitos nasional yang dapat diterima" (acceptable national myths). Pemitosan ini pada akhirnya mengarahkan penelitian arkeologi untuk melayani kepentingan negara, bukan untuk mencari kebenaran ilmiah.
Media pun memainkan peran kunci dalam menyebarkan narasi ini secara luas, sementara para arkeolog yang skeptis sering kali dianggap tidak nasionalis.
“Makalah ini berpendapat bahwa persimpangan antara arkeologi dan media populer berkontribusi pada pemahaman yang bias tentang masa lalu dan menghasilkan kategori-kategori mitos nasional yang dapat diterima, yang pada gilirannya, mengarahkan penelitian yang bersifat nasionalistis,” tulis mereka.
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id































